SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
DAMAI?


__ADS_3

Andika dan Adrian sedang duduk di sebuah restauran mewah, mereka sedang menunggu kedatangan Presdir Ferry.


Andika mengajukan syarat untuk bertemu Presdir Ferry yaitu tempat pertemuan Andika yang memilih dan Presdir Ferry tidak boleh mengajak Jeny, syarat yang langsung disanggupi Presdir Ferry tanpa membantah.


"Bagaimana jika nanti Ferry menolak?" Tanya Adrian


"Aku belum memikirkan hal itu." Jawab Andika sembari menyeruput minumannya.


"Apa kamu benar-benar sedang dimabuk cinta." Adrian berbicara sembari tersenyum sinis pada Andika.


"Diamlah!" Andika berbicara sembari melempar tatapan tajam pada Adrian.


"Kita harus selalu punya rencana cadangan."


"Kalau begitu kamu yang pikirkan."


"Kenapa aku?" Protes Adrian.


"Karena kamu sahabatku." Adrian langsung menyebikan bibirnya mendengar ucapan Andika.


Mereka adalah orang sangat sangat teliti dan detail, selalu punya rencana cadangan untuk segala hal, tapi itu tidak berlaku untuk Andika ketika berurusan dengan Jeny.


"Baiklah nanti aku pikirkan." Andika tersenyum mendnegar ucapan Adrian.


"Apa kamu senang?" Tanya Adrian dengan tatapan mengejeknya.


"Tentu saja." Andika tertawa melihat ekspresi kesal Adrian.


"Bersikaplah manis di depan Presdir Ferry." Pinta Andika.


"Aku tidak janji."


"Kali ini saja, berpura-pura lah seperti dulu." Andika tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hilangkan senyum itu dari wajahmu."


"Kenapa?" Ucap Andika sembari terus tersenyum.


"Menjengkelkan." Jawab Adrian ketus yang disambut gelak tawa oleh Andika.


Lonceng di pintu restauran berbunyi, serempak Andika dan Adrian menoleh, terlihat Presdir Ferry berjalan memasuki restauran dengan angkuhnya diikuti Deni dari belakang.


Andika berdiri bermaksud untuk menyambut kedatangan Presdir Ferry, tapi tidak dengan Adrian, dia masih duduk dan membuang muka melihat kedatangan Presdir Ferry.


"Berdirilah Adrian." Andika berbicara dengan nada penuh penekanan.


"Atau kamu akan melihat aku tersenyum menjengkelkan sepanjang hari." Ancam Andika karena melihat Adrian masih duduk.


Ancaman Andika berhasil tanpa menunggu lama Adrian langsung berdiri walau wajahnya masih terlihat masam.


"Senyum." Andika menendang kaki Adrian.


"Apa kabar tuan Presdir?" Sapa Adrian ketika Presdir Ferry sudah sampai di meja mereka, Andika langsung menatap tajam Adrian untuk memperingatkannya.


"Kabar baik Adrian." Presdir Ferry menerima uluran tangan Adrian dan menjabatnya, terlihat satu sama lain tersenyum tapi ada pesan peperangan dibalik senyum mereka.


"Silahkan duduk tuan." Andika menarik kursi di sebelahnya, dia kemudian kembali mengirim pesan pada Adrian lewat tatapan.


"Diamlah Adrian!" Adrian membalas tatapan Andika dengan anggukan.


"Bagaimana kabar tuan Ferry?" Tanya Andika.


"Selalu terlihat baik Andika." Berbeda saat berbicara dengan Adrian kali ini Presdir Ferry benar-benar tersenyum pada Andika.


Mereka kemudian berbasa-basi sedikit, bertanya tentang kehidupan masing-masing, tak luput juga membahas tentang Wibowo group yang saat ini mulai turun pamornya setelah ditinggal oleh Presdir Wibowo.


"Jadi apa maksud tuan mengajak saya bertemu?" Tanya Andika dengan ekspresi wajah polos yang sungguh tidak pantas terdapat di wajah Andika yang selalu terlihat dingin.

__ADS_1


"Kedatangan ku ingin mempererat tali persahabatan kita Andika." Ucap Presdir Ferry lirih.


Di sebelah terlihat Adrian berusaha menahan tawanya, dia ingin sekali tertawa melihat sikap Presdir Ferry yang sangat lembut dalam berbicara dengan Andika.


"Saya tidak mengerti maksud anda, bisakah anda lebih menjelaskan tuan?" Tanya Andika lagi.


Presdir Ferry kemudian menjelaskan semuanya, dia menginginkan perdamaian antara Mahesa group dengan Andika dan Adrian, kedepannya Presdir Ferry berharap tidak ada lagi konflik antara mereka, bila perlu mereka bekerja sama dalam segala hal yang akan memberi mereka keuntungan.


Andika tersenyum mendengar penjelasan Presdir Ferry dan cara bicara Presdir Ferry yang tidak cocok dengan reputasinya selama ini.


"Itu bukanlah hal sulit tuan." Mata Presdir Ferry langsung berbinar


"Jadi kau menerimanya Andika." Andika mengangguk.


"Dengan dua syarat tuan." Presdir Ferry langsung terdiam, dia baru saja sadar bahwa Andika sedang mempermainkan dirinya.


"Katakanlah syaratnya Andika." Ucap Presdir Ferry sembari menahan emosi yang mulai muncul.


"Pertama aku ingin anda merestui pernikahan ku dengan Jeny." Presdir Ferry terdiam, beberapa lama kemudian dia mengangguk lemah.


"Lalu?"


"Kedua rubah semua aset Mahesa group atas nama Jeny."


Brak.....


Presdir Ferry menggebrak meja dengan keras, dia kemudian berdiri dan menunjuk wajah Andika.


"Jangan mimpi kau bisa mengatur semuanya Andika." Gelegar suara Presdir Ferry terdengar menggema di seluruh penjuru restauran, dia kemudian langsung pergi keluar restauran itu.


Adrian langsung tertawa terbahak-bahak, dia sedang mengutuki kebodohan Andika melalui tawanya.


"Bodoh." Hardik Adrian.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bicara dulu padaku jika ingin mengajukan syarat seperti itu." Adrian masih terus tertawa di atas penderitaan Andika.


Andika hanya diam, dia tidak menyangka jika rencananya akan berakhir seperti ini karena dalam bayangan Andika Presdir Ferry akan langsung menyanggupi semua syarat yang diajukan Andika.


__ADS_2