
Andika berjalan dengan terburu-buru memasuki rumah sakit, baru saja Deni mengabarkan kepadanya ada sedikit masalah dalam ruang operasi.
"Ada apa?" Tanya Andika panik kepada Deni yang terlihat sedang menenangkan Lisa.
"Dokter ingin menemui anda tuan."
"Antar aku keruangan dokter." Deni langsung berjalan dan di ikuti oleh Andika, dia kemudian menunjukkan ruangan dimana dokter sedang menunggu Andika.
"Silahkan tuan, saya akan menemani Lisa lagi." Andika mengangguk kemudian masuk kedalam ruangan dokter.
"Saya Andika dokter." Andika mengulurkan kepada dokter yang terlihat masih muda.
"Saya dokter Rani." Dokter Rani menerima jabat tangan Andika.
"Silahkan duduk tuan." Andika duduk di kursi yang di tunjuk dokter Rani.
"Terimakasih." Jawab Andika.
Dokter Rani langsung menjelaskan kondisi Adrian sembari menunjukkan hasil dari foto Rontgen, mata Andika fokus menatap hasil dari foto Rontgen tubuh Adrian, sesekali Andika mengerutkan keningnya untuk mencerna ucapan dokter Rani.
"Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh pasien, tapi ada masalah di sini."
"Apa dokter?"
"Beberapa serpihan proyektil peluru ada yang menembus organ vital pasien, kami menduga hal itu di sebabkan karena jarak tembakan yang dekat dengan tubuh pasien." Jelas dokter Rani.
"Lalu apa masalahnya?"
"Kami tidak berani mengambil resiko untuk melakukan operasi lanjutan."
"Kenapa dokter?" Andika meremas tangannya dengan kuat, dokter Rani langsung melemparkan pandangannya karena melihat ekspresi wajah Andika yang berubah menjadi mengerikan.
"Terlalu beresiko untuk keselamatan pasien."
"Apa tidak ada resiko jika proyektil itu tidak di keluarkan?" Tanya Andika.
"Resikonya sama besar dengan mengeluarkan proyektil peluru."
__ADS_1
"Lalu untuk keselamatan pasien mana yang lebih tinggi di keluarkan atau tidak?" Dokter Rani menatap Andika sesaat, mungkin dia baru menyadari jika orang yang ada di depannya bukanlah orang sembarangan yang akan langsung menerima argumen dokter.
"Di keluarkan melalu operasi." Jawab dokter Rani lemah.
"Maka lakukanlah." Ucap Andika dengan nada penuh penekanan.
"Kami tidak bisa?"
"Kenapa?" Adrian semakin berapi-api.
"Tidak ada persetujuan keluarga, kami bisa di tuntut jika terjadi sesuatu pada pasien."
Brak....
Andika menggebrak meja dengan keras, dokter Rani bahkan sampai memundurkan kursinya karena terkejut.
"Kenapa anda bertele-tele sekali dokter." Ucap Andika dengan tatapan tajam.
Dokter Rani hanya diam, dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Andika saat ini.
Glek...
Dokter Rani menelan salivanya, nada ancaman dari Andika terdengar begitu menyayat, dia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Andika, sesaat kemudian dokter Rani kembali menunduk setelah mendapati tatapan tajam Andika yang sedang mengarah padanya.
Andika membuka ponselnya, dia kemudian langsung menghubungi seseorang.
"Saya berada di ruangan dokter Rani." Ucap Andika saat panggilannya terhubung.
"Memang ada berapa dokter Rani di rumah sakit ini hah!" ucap Andika dengan nada tinggi setelah mendengar jawaban dari orang yang beradab di ujung telepon sana
"Ini bagian apa dokter?" Tanya Andika dengan suara dingin.
"Bedah umum tuan." Jawab dokter Rani lirih.
"Aku tunggu di bagian bedah umum sekarang."
Andika langsung memutuskan panggilan, dia kemudian duduk diam sambil menunggu seseorang yang baru dia hubungi.
__ADS_1
"Bertahanlah sebentar lagi Adrian." Gumam Andika yang bisa di dengar oleh dokter Rani, bahkan Andika seakan lupa dengan sosok Jeny saat ini.
Dokter Rani kembali mengangkat wajahnya ketika mendengar pintu ruangannya terbuka, dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut ketika melihat direktur rumah sakit berjalan memasuki ruangannya.
"Apa yang membuatmu berada di sini Andika?" Tanya direktur rumah sakit sambil menjabat tangan Andika.
"Sepertinya ancamannya bukan main-main." Ucap dokter Rani dalam hati setelah melihat keakraban Andika dan direktur rumah sakit.
"Adrian sedang kritis di sini."
"Lalu?"
"Dia tidak memberi tindakan untuk menyelamatkan Adrian." Ucap Andika sembari menunjuk dokter Rani.
Direktur rumah sakit menoleh kearah dokter Rani yang wajahnya kini terlihat pias.
"Ti..tidak ada persetujuan keluarga pak." Ucap dokter Rani seakan mengerti bahwa direktur rumah sakit meminta penjelasan padanya.
"Kita harus sesuai prosedur Andika, haru ada persetujuan dari keluarga."
Andika meremas tangannya kuat, dia menatap tajam direktur rumah sakit.
"Aku keluarganya." Teriak Andika tepat di depan wajah direktur rumah sakit.
Dokter Rani gemetar, di depan mata kepalanya dia melihat bagaimana seorang Andika membentak direktur rumah sakit yang notabenenya adalah orang yang paling ditakuti di rumah sakit ini.
"Lakukan tindakan untuk menyelamatkan Adrian sekarang atau kau akan melihat rumah sakit ini hancur karena kalah dalam semua tuntutan pasien yang pernah kau rugikan." Andika sudah tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Tenanglah, aku jamin Adrian akan di operasi secepatnya." Direktur rumah sakit memegang lengan Andika.
"Siapkan ruang operasi sekarang, kerahkan tim terbaik untuk menyelamatkan pasien." Ucap direktur sakit pada dokter Rani.
"Ba.. baik pak." Jawab dokter Rani sembari bergegas keluar dari ruangannya.
"Siapa dia, sehingga bisa dengan mudah merubah regulasi bahkan membuat direktur ketakutan." Ucap dokter Rani dalam hati sembari berjalan keluar dari ruangannya.
Andika adalah Corporate Lawyer dari perusahaan yang menaungi rumah sakit itu, jangankan perusahaan menengah seperti yang menaungi rumah sakit bahkan Aras group saja hancur dalam waktu singkat ditangan Andika, tentu saja direktur rumah sakit tidak mau mengambil resiko dengan melawan Andika.
__ADS_1