SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
TERNYATA JENY


__ADS_3

Andika duduk termenung di ruangannya, hatinya sedang bergejolak, terjadi perang antara logika dan hatinya, logika Andika mengatakan dia harus menyudahi permainan ini dan menjauhi Jeny, tapi hati Andika tidak bisa memungkiri telah terukir nama Jeny di sana.


Andika sebenarnya sudah mengetahui perihal Jeny yang memata-matai dirinya, Andika tahu saat dia mendengar percakapan Chandra dan Jeny saat kunjungan keduanya untuk menemui Chandra di kantor polisi.


Andika yang biasanya akan langsung menyingkir orang yang dapat membuat masalah pada dia, entah kenapa sangat sulit membuat Jeny menghilang dari hidupnya bahkan untuk tidak bertemu Jeny satu hari saja rasanya sangat sulit untuk Andika.


"Oh Jeny, kenapa harus dirimu yang akan membuat aku jatuh, kenapa harus dirimu yang kini mewarnai hidupku." Gumam Andika.


- - -


Adrian sedang duduk sambil melihat berkas yang baru saja diberikan oleh Rendy, dia membaca dengan teliti setiap kalimat yang ada di dalam berkas tersebut.


Senyum sinis tersungging di wajah Adrian setelah selesai membaca berkas-berkas itu, tatapannya berubah menjadi lebih mengerikan dari tatapan Adrian yang selalu terlihat sangat bersahabat.


"Rendy."


"Iya tuan."


"Atur pertemuan dengan Andika." perintah Adrian tegas.


"Baik tuan."

__ADS_1


Rendy bergegas keluar ruangan untuk menghubungi seseorang yang tak lain adalah staf Andika, dia tidak mengetahui kenapa Adrian ingin bertemu Andika.


Adrian kembali membaca berkas itu, dia seakan tidak percaya dengan yang dia baca di dalam berkas itu.


Di dalam berkas tertera dengan jelas dan rinci perihal Jeny, Jeny ternyata salah satu kaki tangan dari Mahesa group, tugas Jeny adalah sebagai orang dalam yang dapat memuluskan semua rencana Mahesa group dalam mengawasi gerak-gerik dari tuan Romy, itulah kenapa Presdir Ferry dapat dengan mudah menempatkan Amanda sebagai asisten pribadi Chandra.


"Apakah kau sebodoh itu tuan Romy, sehingga kau tidak mengetahui bahaya yang sangat dekat denganmu." Gumam Adrian dengan senyum sinis di wajahnya.


"Tuan." Rendy sudah berdiri di hadapan Adrian.


"Bagaimana?" Adrian menaruh kembali berkas yang sedang dia baca.


"Baiklah." Adrian memberi gestur untuk menyuruh Rendy keluar.


Adrian kembali sibuk dengan berkas itu, dia rasanya belum percaya dengan laporan yang diberikan oleh Rendy.


"Ada apa?" Tanya Adrian yang melihat Rendy masih berdiri di hadapannya.


"Maaf tuan." Rendy menunduk menunggu respon Adrian.


"Katakan saja."

__ADS_1


"Apa tuan akan membantu tuan Andika." Rendy sedikit ragu untuk bertanya, tapi rasa penasaran dapat mengalahkan semua keraguan dihatinya.


Adrian terdiam sejenak, dia sedang berpikir apakah harus memberitahu Rendy alasan kenapa dia ingin menemui Andika.


"Apakah kamu tahu siapa Romy?"


"Tentu saja tuan."


"Apakah kamu tahu seberapa besar keinginan ku untuk menghancurkan Romy."


"Iya tuan."


"Ketika Andika tahu jika Romy akan mengkhianati dirinya tentu saja Andika akan menjadikan Romy sebagai musuh besarnya seperti halnya Ferry." Rendy mengangguk dia paham dengan maksud dari Adrian.


"Tapi tuan." Ucapan Rendy langsung dipotong oleh Adrian.


"Ada hal yang memang belum kau tahu Rendy." Adrian menarik napas dalam-dalam,


Rendy menatap Adrian dengan serius, dia tak menyangka ada satu rahasia antara Adrian dan Andika yang belum dia ketahui.


"Dengarkan baik-baik apa yang akan ku ceritakan, catat dan ingat di kepalamu." Adrian menatap nanar, mungkin sudah saatnya Rendy tahu cerita masa lalu Adrian dan Andika, cerita yang menyebabkan mereka menjadi musuh, musuh dalam arti lain, Adrian dan Andika memang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, tapi mereka tidak pernah saling menjatuhkan.

__ADS_1


__ADS_2