
Presdir Ferry mengangkat tangan kanannya yang terdapat pistol dalam genggamannya, dia kemudian menyeringai sambil tatapan matanya menatap tajam Adrian dan Andika.
Rendy langsung berlari kearah Adrian, tapi langkahnya terhenti ketika Adrian memberi kode dengan tangannya seakan menyuruh Rendy untuk tidak mendekat.
"Apa yang membawamu kesini?" Tanya Adrian berusaha tetap tenang.
"Kembalikan anak ku."
"Anak mu?" Adrian mengangkat alisnya "Kenapa mencarinya kesini, pasti dia ada di rumah mu."
"Tutup mulut mu!" Presdir Ferry menarik pembuka kuncian pada pitolnya, Rendy ingin rasanya segera berlari untuk membereskan Presdir Ferry tapi lagi-lagi Adrian menahannya.
"Dia tidak ada disini." Jawab Adrian.
"Hahaha." Presdir Ferry terbahak "Kau pikir aku bodoh Adrian."
"Harusnya aku melenyapkan kalian berdua." Presdir Ferry mengalihkan pandangannya kearah Andika "Kau harusnya menikmati hidup mu Andika setelah kau diberi kesempatan hidup kedua." Andika langsung menatap tajam Presdir Ferry.
"Berterimakasih lah pada si brengsek itu yang telah menggantikan dirimu untuk ke neraka lebih dulu."
__ADS_1
Andika sudah tahu maksud dari ucapan Presdir Ferry, tapi dia masih berusaha menahan dirinya.
"Ferry." Teriak Andika keras.
"Apa kau yang telah membunuh Roy?" Presdir Ferry menggeleng.
"Aku hanya memberi syarat pada Teddy agar bisa menikahi Lita yaitu dengan menyingkirka...." belum selesai Presdir Ferry berbicara Andika langsung menghambur kearah Presdir Ferry, dia langsung menendang tangan Presdir Ferry yang menggenggam pistol kemudian memukul wajah Presdir Ferry dengan keras, tidak siap dengan serangan mendadak dari Andika Presdir Ferry langsung jatuh tersungkur dengan pistol yang terlempar beberapa meter dari tempatnya jatuh.
Andika terus memukuli Presdir Ferry dengan membabi buta, dari dalam rumah Jeny keluar karena mendengar kegaduhan, matanya langsung terbelalak ketika melihat ayahnya sedang terlentang sembari dipukuli oleh Andika.
"Ayah." Teriak Jeny, dia langsung berlari untuk menghentikan Andika yang sedang memukuli Presdir Ferry.
"Lepaskan aku Adrian." Ucap Jeny dengan tatapan memohon.
Adrian tidak bergeming, dia masih memegang lengan Jeny dengan erat.
"Adrian aku mohon." Jeny menangis sambil menatap Adrian yang wajahnya terlihat dingin dengan tatapan tajam kearah Andika dan Presdir Ferry.
Melihat usaha yang sia-sia dengan memohon pada Adrian, Jeny kemudian berteriak pada Andika berharap laki-laki yang dicintainya mengehentikan aksinya.
__ADS_1
"Andika." Teriak Jeny.
"Aku mohon hentikan Andika." Jeny semakin terisak melihat Presdir Ferry sudah tidak berdaya.
"Andika aku mohon." Jeny terduduk lemah melihat ayahnya sudah mengeluarkan banyak darah dari wajahnya.
Andika tidak bergeming seakan dia tidak mendengar teriakan Jeny yang sedang memohon padanya, pikirannya saat ini sudah di penuhi dendam pada Presdir Ferry, dia bahkan hanya menginginkan kematian Presdir Ferry saat ini.
Jeny menatap setiap orang yang berada di situ dengan tatapan memohon, Rendy tidak bergeming sama sekali sedangkan Deni hanya menggeleng seakan berkata.
"Maaf Jeny aku bahkan tidak berani hanya sekedar memanggil nama tuan Andika."
"Apa kamu melupakan janjimu Andika." Jeny masih terus berusaha menghentikan Andika yang sudah tidak terkendali.
"Aku Jeny wanita yang kamu cintai saat ini sedang menangis." Jeny berteriak keras "Mana Andika yang selalu berbicara tidak akan membuatku menangis." Berhasil, ucapan Jeny berhasil membuat Andika berhenti memukuli Presdir Ferry.
Andika masih mencengkram kerah Presdir Ferry, dia menoleh kearah Jeny yang sedang bersimpuh sambil menangis di samping Adrian yang masih mencengkram lengannya.
Andika menatap Jeny dengan tatapan penuh penyesalah, bukan karena menyesal telah memukuli Presdir Ferry di depan Jeny tapi Andika sangat menyesal telah membuat Jeny menangis.
__ADS_1
Jeny mungkin berhasil menghentikan Andika, tapi dia tidak menyadari seorang laki-laki dengan tubuh tinggi tegap berdiri tidak jauh dari tempatnya bersimpuh dengan napas memburu karena menahan amarahnya, dia adalah RENDY.