SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
Pengacara Pribadi


__ADS_3

Adrian menjalani harinya dengan bahagia bersama dokter Rani, tak terasa sudah satu bulan berlalu, dia tak sekalipun bertemu dengan Andika, kini Adrian memutuskan untuk bekerja dari rumah, Walaupun masih dalam satu naungan Law Firm yang sama dengan Andika.


Lain halnya dengan Adrian saat ini dokter Rani tengah sibuk bekerja kembali di rumah sakit, bekat nama besar Adrian dengan mudah dia membatu dokter Rani untuk bekerja kembali di salah satu rumah sakit milik clientnya.


"Apa kamu tidak ada kegiatan di luar?" tanya dokter Rani saat mereka tengah menikmati sarapan paginya.


"Aku akan bertemu client nanti siang" ujar Adrian.


"Baiklah kalai begitu aku berangkat dulu, ada jadwal operasi pagi ini" Adrian mengecup lembut kening istrinya.


Bukan dokter Rani tidak ingin berbicara yang sebenarnya kepada Adrian, namun ancaman dari Dion membuat dia tak berdaya, saat ini di pikiran dokter Rani yang paling terpenting adalah Adrian dan Andika bisa menjalani semua kegiatannya dengan normal, karena Dion berkata akan terus mengganggu Andika dan Adrian apabila dokter Rani berani berbicara.


Lain halnya dengan Adrian, Andika justru masih memikirkan tentang hubungannya dengan Adrian, bagaimanapun dia tidak bisa membuat semua ini terjadi begitu saja tanpa ada kata perpisahan sama sekali.


"Rendy" panggil Andika.


"Saya tuan" tanpa diminta Rendy langsung memberikan laporan kepada Andika tentang kegiatas Adrian dan dokter Rani, hampir setiap hari hal yang sama Andika dengar dari Rendy, Adrian bertemu client dan dokter Rani ke rumah sakit, tapi Andika tidak pernah bosan mendengarnya.

__ADS_1


"Lanjutkan pekerjaanmu" perintah Andika setelah Rendy menyelesaikan laporannya.


 


Restauran Gold


Adrian tengah duduk sembari menikmati minumannya, dia tengah menunggu kedatangan Dion, kemarin Dion mengabari Adrian dan meminta waktunya untuk bertemu, dia bilang saat ini dirinya butuh bantuan Adrian, dengan senang hati Adrian menemuinya.


"Apa kabar tuan?" tanya Adrian ramah ketika Dion datang.


"Panggil saja Dion, tak usah sungkan begitu, bukankan kita sudah berteman" ucap Dion yang langsung di sambut senyum ramah dari Adrian.


"Apa yang perlu saya bantu Dion?" tanya Adrian setelah selesai berbincang ringan dengan Dion.


"Apa kamu bersedia menjadi pengacara pribadiku" pinta Dion lang langsung di jawab oleh Adrian "Tentu saja itu hal yang sangat mudah".


"Memang kamu sedang mengalami masalah apa?" tanya Adrian

__ADS_1


"Saat ini belum ada masalah, tapi sepertinya sebentar lagi akan ada masalah hukum kepadaku". Adrian mengangguk mendengar ucapan Dion.


"Tenang saja, aku akan membantumu apapun masalahnya" dengan mudahnya Adrian menyanggupi permintaan Dion, dia tidak tahu saat ini sesuatu yang buruk sebentar lagi akan menimpa dirinya.


Setrlah menikmati santapan makan siang, mereka kemudian pergi meninggalkan restauran, Dion berpesan agar Adrian segera datang jika dia membutuhkan bantuannya, hal yang langsung di sanggupi oleh Adrian.


Kring....


Bunyi ponsel Adrian ketika dia baru saja hendak melajukan mobilnya meninggalkan parkiran restauran.


"Hati hati dengan Dion, dia bukan orang baik, dia memiliki hubungan dengan Ferry Mahesa" bunyi pesan yang Adrian terima.


"Apa kau memata mataiku bajing*n" Balas Adrian setelah tahu jika Andika yang baru saja mengirim pesan padanya.


"Berhati hatilah, dia bukan orang baik"


"Setidaknya dia tidak menusukku dari belakang seperti dirimu"

__ADS_1


Adrian tidak memperdulikan lagi dengan pesan balasan dari Andika, di benak Adrian kini sangat mempercayai Dion bahkan jika dia melihat warna putih dan Dion mengatakan itu hitam, Adrian lebih percaya dengan apa yang Dion katakan.


__ADS_2