
Mobil melaju perlahan meninggalkan Andika yang masih berdiri di parkiran, Roy sesekali melirik wanita yang kini duduk di sampingnya, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Aku benar-benar sudah jatuh cinta." Gumam Roy yang tanpa sadar dapat di dengar oleh Lisa.
"Jangan berharap terlalu tinggi asisten Roy." Lisa memandang sinis Roy.
"Penyesalan akan selalu datang terakhir nona." Roy memberi senyuman manis kepada Lisa yang dibalas tatapan tajam Lisa.
Tidak ada perbincangan selanjutnya, Roy memilih diam, dia baru saja memberi satu kalimat yang dia yakin akan terus terngiang di kepala Lisa.
Lisa lebih memilih melihat kearah luar jendela, dia merasa bimbang setelah mendengar gumaman Roy, entah kenapa dia yakin kalau Roy menyukainya.
Citttt...
Suara decitan ban mobil membuyarkan lamunan Lisa, dia mengedarkan pandangannya, dia baru sadar jika mereka sudah sampai di halaman rumah Lisa.
"Lisa." Roy menahan Lisa dengan memegang tangannya saat dia hendak membuka pintu mobilnya.
Roy langsung melepaskan tangannya pada lengan Lisa setelah Lisa menatapnya tajam.
"Aku ingin bicara sebentar." Roy menatap Lisa dengan tatapan teduh, membuat Lisa sedikit tersipu melihat tatapan Roy.
"Katakan." Lisa membuang muka tidak mau Roy melihat wajahnya yang sedang merona.
Roy menarik nafasnya dalam-dalam, dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bicara pada Lisa, entah kenapa dirinya seakan tidak memiliki kekuatan untuk hanya sekedar bicara tiga kata saja pada Lisa.
"Aku sayang kamu." Roy langsung menundukkan kepalanya setelah mengatakannya dengan cepat.
"Apa?" Lisa yang tadi sedang termenung tidak mendengar jelas ucapan Roy, dia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Huh." Roy kembali membuang nafasnya dengan kasar.
"Turunlah sudah malam."
"Terimakasih sudah mengantarku." Lisa langsung membuka pintu, Roy tersenyum melihat sikap Lisa yang lebih lembut kepadanya.
Lisa melambaikan tangan melihat kepergian Roy, senyum langsung mengembang seketika diwajahnya.
"Jika kamu mengatakannya lagi aku pasti akan langsung memberikan jawaban Roy." Lisa bergumam, dia kemudian berjalan memasuki rumahnya.
__ADS_1
- - -
Restauran
Adrian sedang berbicara serius pada Andika, dia sedang berpikir kata yang tepat untuk memberitahu Andika agar dia cepat paham.
"Apa kamu membantu Ferry?" Andika menggeleng, Adrian langsung menatapnya tajam.
"Aku hanya membantu Jeny."
"Sama saja." Gerutu Roy kesal.
"Apa kamu tahu Ferry ada dibalik semua yang dilakukan Jeny?" Andika mengangguk yang membuat Roy langsung membelalakkan matanya.
"Lalu kenapa kamu membantunya jika tahu Ferry dibalik semua itu." Andika mengangkat bahunya membuat Adrian semakin kesal.
"Ada sesuatu yang salah dengan wanita mu, aku rasa kamu harus tau semuanya sekarang."
"Sebentar." Andika menghentikan ucapan Adrian karena ponselnya berbunyi, dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo."
"Ya saya."
"Kami dari pihak rumah sakit."
"Ada apa?"
"Kami ingin mengabarkan bahwa saudara Roy saat ini sedang kritis."
Ekspresi wajah Andika langsung berubah menjadi sendu, Adrian dan Rendy menatap aneh perubahan ekspresi Andika setelah dia menerima telepon itu.
"Baik, saya segera kesana."
"Ada apa?" Tanya Adrian penasaran.
"Roy sedang kritis di rumah sakit." Tanpa menunggu perintah Rendy langsung berdiri, dia berlari menuju parkiran untuk mengambil mobil Adrian.
"Ayo kita kesana." Adrian segera beranjak di ikuti oleh Andika, mereka berdiri di depan pintu masuk restauran menunggu Rendy datang.
__ADS_1
- - -
Adrian dan Andika memandang tubuh Roy yang sedang terbujur diatas ranjang ruang UGD, dibelakang mereka Rendy sedang berdiri dengan wajah masam, Roy sahabat terbaiknya saat ini sedang bertaruh nyawa di dalam ruang UGD.
"Rendy."
"Iya tuan." Rendy sebisa mungkin menyembunyikan raut kesedihan di depan Adrian.
"Pergilah ke TKP, selidiki semuanya."
"Baik tuan." Rendy bergegas pergi meninggalkan rumah sakit, dia seakan memiliki firasat ada sesuatu yang tidak beres berkaitan dengan kecelakaan ini.
Lisa berjalan dengan menyeret kakinya menuju ruang UGD, dunianya serasa hancur setelah menerima kabar dari Andika bahwa Roy sedang kritis saat ini.
Bagaimana beberapa saat lalu dia merasa sangat bahagia karena Roy menyatakan perasaannya, kini semua seakan hilang ketika membayangkan Roy yang tidak berdaya.
"Tu.. tuan." Ucap Lisa terbata ketika dia sudah sampai di depan ruang UGD.
Adrian dan Andika serentak menoleh mendengar suara wanita yang tidak asing di telinga mereka.
Andika berjalan mendekati Lisa yang terlihat sangat kacau, wajahnya sudah dibanjiri oleh air mata yang sedari tadi keluar tanpa bisa dia tahan.
"Menangis lah Lisa." Andika langsung memeluk Lisa dengan penuh kasih sayang, seorang wanita yang sudah sangat banyak berjasa dalam hidupnya hari ini sedang dalam keadaan terpuruk.
"Bagaimana keadaan Roy?" Lisa mengangkat wajahnya untuk melihat mata Andika.
"Kami belum tahu." Andika menggenggam tangan Lisa dengan lembut "Kita doakan yang terbaik untuk Roy."
Lisa mengangguk lemah, Andika kemudian menuntun Lisa agar duduk di kursi yang tersedia di depan ruang UGD.
Lisa terus menangis sambil menutup wajahnya, hati Andika merasa sakit melihat hal itu, bagaimana Lisa seorang yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri saat ini sedang bersedih tapi Andika tidak bisa melakukan apapun.
"Keluarga tuan Roy."
"Saya suster." Andika berjalan menghampiri suster yang sedang berdiri di depan pintu UGD.
"Dokter ingin menemui anda." Andika mengikuti langkah suster menuju keruangan dokter yang berada persis di sebelah ruang UGD.
Dokter kemudian menjelaskan keadaan Roy, mereka ingin meminta persetujuan pihak keluarga untuk melakukan operasi darurat pada Roy.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik dokter." Ucap Andika setelah menandatangani beberapa berkas yang di sodorkan oleh dokter itu.