
Setelah mendengar ucapan Andika, Jeny berusaha bersikap setenang mungkin, dia tidak mau membuat Andika semakin mencurigai dirinya, walaupun Jeny tahu bahwa Andika mungkin saja sudah mengetahui semuanya.
"Nona, hari ini sudah tidak ada pekerjaan, aku antar nona pulang."
"Baik tuan."
Sebelum ke tempat Presdir Romy, Andika menjemput Jeny di apartemennya, Andika sekalian ingin tahu tempat tinggal Jeny.
"Hati-hati dijalan tuan." Jeny melambaikan tangan ketika mobil yang di tumpangi Andika berjalan meninggalkan loby apartemen.
"Ke restauran gold." Kata Andika pada supir setelah mobil melaju.
"Baik tuan."
Hari ini Andika akan bertemu dengan Adrian, entah kenapa Andika tidak bisa menebak apa yang akan Adrian bicarakan, Andika yakin Adrian tidak akan membahas perihal tuan Romy.
"Kita sudah sampai tuan." Ucap supir Andika setelah beberapa saat mobil sampai tapi Andika tetap diam.
__ADS_1
"Oh, iya." Andika baru tersadar dari lamunannya mengenai hal yang akan di bahas oleh Adrian.
Andika melangkah memasuki restauran mewah itu, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari posisi Adrian, dari ujung restauran Andika dapat melihat Rendy yang sedang berdiri di belakang seseorang, diapun berjalan menghampiri orang tersebut yang merupakan Adrian.
Adrian berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Andika, Adrian mengulurkan tangannya ketika Andika sudah berdiri di depannya. Andika langsung duduk tanpa menghiraukan ajakan salaman dari Adrian, Adrian hanya tersenyum.
"Ternyata benar kamu adalah Andika." Adrian tersenyum mengejek Andika.
"Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu."
"Silahkan tuan Andika." Rendy memberikan minuman yang dibawa oleh pelayan, Andika hanya menoleh kemudian menatap Adrian.
"Ada apa?"
"Apakah kamu tidak bisa berbasa-basi Andika."
"Baiklah jika tidak ada yang kau kamu bicarakan." Andika berdiri.
__ADS_1
"Hahaha." Adrian tertawa melihat sikap Andika.
"Aku yakin kamu akan menyesal pergi dari sini." Adrian mengangkat beberapa lembar kertas, Andika menoleh melihat apa yang ada ditangan Adrian, Andika kemudian mengambil berkas itu dan kembali duduk di depan Adrian.
Andika membaca berkas itu, pada awalnya Andika terlihat enggan untuk membacanya, kemudian dia terlihat lebih serius setelah beberapa lama membaca berkas itu, beberapa kali Andika melirik tajam ke arah Adrian.
Andika langsung menghempaskan lembaran kertas itu diatas meja yang langsung berserakan sampai ke lantai, Andika memang sebelumnya sudah mengetahui perihal Jeny yang memata-matai dirinya untuk tuan Romy, tapi Andika tak menyangka jika Jeny memiliki hubungan dengan Mahesa group.
Wajah Andika langsung memerah yang menunjukkan seberapa marah dirinya, Adrian yang biasanya bersikap semaunya dan mengejek Andika entah kenapa sedikit menciut melihat ekspresi marah dari Andika, Adrian tentu saja sudah mengetahui seperti apa Andika jika dia sedang marah.
Brakkk.....
Andika menggebrak meja dengan cukup keras yang membuat orang-orang disekitar menoleh, Rendy yang duduk lain meja langsung berdiri untuk menghampiri Adrian, Adrian memberi gestur agar Rendy jangan mendekat.
"Jadilah Andika yang seperti biasa." Adrian menatap Andika, mereka saling bertatapan.
"Tak usah sungkan menghubungi ku jika kamu dalam kesulitan." Adrian berdiri dia melangkah mendekati Andika kemudian menepuk bahu Andika beberapa kali, Andika hanya diam tidak menanggapi ucapan Adrian, Andrian kemudian meninggalkan Andika, dia orang yang paling tahu apa yang dibutuhkan Andika saat ini, Andika hanya butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1