
Andika dan Presdir Ferry saling menatap dengan penuh kebencian, Presdir Wibowo langsung terdiam setelah Andika berbicara dengan penuh emosi, Presdir Wibowo tentu saja lebih memilih untuk mencari aman dari pada harus berperang dengan Andika secara terang-terangan.
"Kau akan menyesal Andika." Dengan suara berat dan menekan Presdir Ferry berbicara sambil menatap tajam Andika
"Oh ya, saya memang menyesal sudah hadir di acara makan malam ini."
"Hahahaha." Presdir Ferry terbahak "Apa kau menyesal karena mendengar perihal perjodohan Lita?" Andika menggeleng "Saya akan menyesal karena sebentar lagi melihat Jeny menangisi kehancuran ayahnya." Andika tersenyum sinis kearah Presdir Ferry.
Adrian yang sedari tadi bicara kini hanya diam mendengarkan perdebatan antara Andika dan Presdir Ferry, Adrian menatap tajam Presdir Wibowo yang terlihat diam, dia seakan menunggu moment ketika Presdir Wibowo berbicara.
"Tenanglah Andika, kita disini satu keluarga." Presdir Wibowo berbicara pelan pada Andika.
"Apa kau memiliki keluarga seorang pengkhianat Andika?" Adrian tersenyum sinis sinis pada Presdir Wibowo.
"Apa maksudmu Adrian, kenapa kau berbicara berbicara pada Andika tapi menatapku seperti itu hah." Presdir Wibowo merasa risih dengan tatapan dan senyuman sinis Adrian.
"Apa anda merasa sebagai pengkhianat tuan?"
"Diam kau Adrian." Presdir Ferry menunjuk wajah Adrian
__ADS_1
"Baiklah aku akan permudah semuanya."
"Roy."
"Baik tuan." Roy berjalan keluar rumah, dia paham dengan perintah Adrian yang menyuruhnya untuk menghadirkan Deni.
Roy berjalan sambil menyeret Deni yang sudah babak belur, entah apa yang dilakukan oleh Roy sehingga Deni sangat sulit di kenali wajahnya.
"Deni." Pekik Andika yang mengenali Deni dengan kondisi cukup mengenaskan.
"Siapa yang membuatmu seperti ini."
Wajah Presdir Wibowo berubah pias melihat keberadaan Deni, dia seketika menjadi gelisah sedangkan Presdir Ferry masih terlihat tenang seakan tidak terganggu dengan kehadiran Deni.
Adrian mengeluarkan sebuah foto, di dalam foto itu terlihat Deni sedang duduk bersama Presdir Ferry dan Presdir Wibowo di sebuah restauran.
"Apa maksudnya ini Adrian." Tanya Andika dengan suara tinggi.
"Deni yang telah membocorkan hubungan mu dengan Jeny, dia juga yang selama ini menjadi mata-mata Mahesa group." Adrian tersenyum lebar melihat wajah Presdir Wibowo yang pias.
__ADS_1
"Kau." Andika menunjuk Deni dengan amarah yang tinggi.
"Sudah bosan hidup." Andika berdiri dia kemudian langsung melayangkan pukulan ke wajah Deni.
"Tuan." Roy menahan Andika yang hendak menendang Deni "Cukup saya saja yang memberi pelajaran." Andika menoleh dengan tatapan tajam kearah Roy, dia kemudian kembali duduk di kursi sebelah Adrian.
Keheningan tercipta sesaat, hanya suara dengusan nafas kasar Andika yang terdengar, Presdir Wibowo beberapa kali menelan salivanya, dia baru saja membangunkan macan yang sedang tidur.
"Apa ini balasan anda untuk semua yang telah saya lakukan untuk Wibowo group." Andika menatap tajam Presdir Wibowo
"Atau anda sudah merasa hebat karena Ferry sekarang bersama anda."
"Hahaha." Andika tertawa keras "Berhati-hati lah tuan Wibowo, anda belum mengenal siapa dia ternyata." Andika menunjuk wajah Presdir Ferry
"Lihatlah apa yang akan saya lakukan untuk menghancurkan Wibowo group tanpa sisa." Andika menatap Jeny sejenak, seakan ingin mengucapkan kata maaf untuk ucapan yang akan Jeny dengar sebentar lagi.
"Saya akan menghancurkan Wibowo group tanpa sisa." Andika berdiri "Anda juga akan hancur bersama dengan pengkhianat itu." Ucap Andika sambil menatap tajam Presdir Ferry dan menunjuk posisi Presdir Wibowo duduk.
Andika kemudian bangkit, Adrian ikut berdiri, mereka kemudian berjalan keluar dari rumah Presdir Wibowo, Rendy dan Roy langsung mengikuti Adrian dan Andika.
__ADS_1