
Jeny dan Adrian hanya diam sambil menatap Andika yang sedang mencurahkan emosinya, Jeny merasa sedih dengan cerita masa lalu Andika, tapi bagaimana pun orang yang akan Andika hancurkan adalah ayah Jeny, sosok laki-laki yang menyayangi Jeny dan memberi apapun yang Jeny butuhkan.
Di sisi lain Adrian terus memandangi Andika, tatapannya tidak pernah lepas dari Andika, ada rasa kasihan pada diri Adrian melihat Andika, Andika sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit.
"Aku selalu punya rencana apapun pilihanmu Andika." Arti tatapan Adrian ketika Andika melihat kearahnya, seakan Andika sedang meminta pendapat Adrian.
"Jeny."
"Apa kamu sudah tenang Andika?" Jeny mengusap lembut punggung Andika.
"Apa kamu akan meninggalkan ku ketika aku menghancurkan ayahmu?" Jeny terdiam mendengar pertanyaan Andika, sangat sulit Jeny untuk memberikan jawaban, memory nya terus memutar kenangannya bersama Andika, tapi bayangan wajah sang ayah tiba-tiba hadir dalam ingatannya.
Setelah beberapa lama terdiam Jeny pun akhirnya mengangguk dengan anggukan kepala yang sangat lemah, air mata seketika menetes ketika melihat wajah Andika yang menunjukkan ekspresi kekecewaan.
__ADS_1
"Lalu apakah kamu akan meninggalkan ayahmu ketika dia menghancurkan ku?" Jeny yang sedang menangis sambil menundukkan kepalanya seketika langsung mengangkat kepala kemudian menatap Andika tajam, Andika sudah kembali menjadi sang pengacara, begitu pikiran Jeny.
"Jawablah walaupun dengan kebohongan ataupun kamu akan mengingkarinya nanti." Ucap Andika dengan tatapan memohon, Jeny kembali menangis mendengar ucapan Andika, sungguh Jeny bisa merasakan seberapa besar cinta Andika padanya.
Andika masih diam sembari menatap Jeny yang sedang menangis, Jeny menarik napas dalam setelah beberapa saat, dia sudah bisa menguasai dirinya.
"Maaf." Ucap Jeny terdengar sangat lirih bahkan jika Andika tidak memperhatikan gerakan bibir Jeny mungkin dia tidak mengerti apa yang Jeny katakan.
Andika langsung melihat kearah Adrian setelah mendengar jawaban Jeny, dia seakan sedang meminta pendapat Adrian, sedangkan Adrian hanya mengangkat bahunya seakan memberi isyarat
Andika mengangguk seakan memahami arti dari Adrian yang mengangkat bahunya.
"Lita." Jeny terkejut mendengar suara Andika yang sudah berubah menjadi dingin.
__ADS_1
"Sungguh aku ingin menghancurkan hidup Ferry Mahesa bersama dengan semua keturunannya." Jeny tertegun, suara Andika sudah cukup membuat Jeny takut.
"Jeny." Dengan suara yang lembut Andika kemudian memegang dagu Jeny.
"Aku bahkan ingin memberikan seluruh dunia padamu saat ini." Andika kini mengelus lembut pucuk kepala Jeny.
"Jadilah Jeny yang selalu ku rindukan dan selalu ku impikan di setiap malam ku." Jeny mengangguk, senyum tipis terlihat di bibirnya.
Andika kembali melihat ke arah Adrian, Andika seakan sedang meminta maaf jika keputusan yang akan dia ambil seakan tidak menghargai kerja keras Adrian beberapa waktu belakangan ini.
Adrian mengangguk, senyum mengembang di wajahnya menandakan dia ikut setuju dan akan selalu mendukung Andika apapun keputusan yang Andika ambil, Adrian sangat merindukan sosok Andika yang hangat seperti dulu saat mereka berjuang bersama di negeri orang, sosok yang selalu penuh dengan tawa dan senyum hangat, sebelum Adrian yang merenggut semuanya dengan kesalahan yang dia perbuat di masa lalu.
"Pulanglah Jeny, nikmati hari-hari bahagia mu bersama ayah mu." Andika menarik napas berat.
__ADS_1
"Aku memilihmu Jeny, kamu akan selalu melihat senyum ayah mu di setiap harimu." Jeny langsung memeluk Andika dengan erat, dia seakan tahu mungkin ini pelukan terakhirnya bersama Andika.