SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PERHATIAN ANDIKA


__ADS_3

Jeny baru saja tida di apartemennya, dia langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur, awalnya Jeny menduga Andika akan mengajaknya pergi bersamanya tapi Andika ternyata langsung mengantar Jeny ke kantor Aras group, dia menyuruh Jeny mengambil mobilnya dan langsung pulang.


"Senangnya bisa pulang cepat."


Jeny biasanya baru bisa kembali saat hampir tengah malam dan akan berangkat lagi pagi hari sebelum para karyawan Aras group memulai aktivitas nya, dia harus sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Presdir Romy.


Mata Jeny mulai terpejam, dia merasa sangat lelah hampir tidak ada hari libur bekerja di Aras group, Jeny mengumpulkan kesadaran setelah mendengar bunyi ponselnya.


"Kenapa kamu menganggu istirahat ku tuan." Gerutu Jeny ketika melihat nama Andika ada di layar ponselnya.


"Halo tuan."


"Aku tunggu nona di restauran X sekarang." Klik panggilan dimatikan.


"Kenapa tadi menyuruhku pulang." Gerutu Jeny kesal sambil meraih kunci mobil dan tasnya.


Jeny melajukan mobilnya pelan menuju restauran yang tidak begitu jauh dari apartemen nya, rasa kantuk dan lelah yang tadi sangat menggelayuti tubuhnya entah kenapa sekarang hilang, dia justru menjadi bersemangat untuk bertemu Andika.


"Arrrggg kenapa aku sesenang ini."


Jeny memarkirkan mobil kemudian dia berjalan memasuki restauran, mata Jeny menyapu semua sudut restauran mencari keberadaan Andika.


"Ah itu dia." Ucap Jeny tanpa sadar, Andika langsung menoleh ketika mendengar suara Jeny.

__ADS_1


Jeny berjalan sambil menunduk karena malu, dia tidak sadar suaranya cukup keras sehingga menarik perhatian para pengunjung restauran.


"Silahkan nona." Jeny duduk di kursi tepat di depan Andika


"Terimakasih tuan." Jeny langsung duduk, dia menatap Andika sesaat, ingin sekali dia bertanya ada apa sehingga Andika memanggilnya dan mengajak bertemu di restauran.


"Aku hanya ingin mengajak nona makan siang." Jeny langsung melotot mendengar ucapan Andika.


"Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan." Jeny


"Aku hanya melihat tatapan nona." Lagi-lagi Jeny melotot mendengar ucapan Andika


"Dia benar-benar monster."


"Silahkan di nikmati nona, jangan terlalu banyak berbicara pada diri anda sendiri nona." Jeny benar-benar kehabisan kata-kata, dia menikmati makanan yang lezat tapi entah kenapa terasa hambar, dipikiran Jeny timbul berbagai macam pertanyaan, orang seperti apakah Andika ini.


"Nona." kata Andika setelah makanan mereka habis.


"Iya tuan."


"Apa ada yang ingin nona tahu?"


"Hah." Jeny benar-benar terkejut, Andika justru tertawa melihat Jeny.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membaca pikiran orang, apa lagi pikiran nona."


"Pengalaman selama ini yang membuatku mengerti bahkan hanya melihat ekspresi seseorang." Jelas Andika yang membuat Jeny semakin melotot.


"Mata anda bisa lepas nona." Kelakar Andika yang membuat Jeny langsung menunduk malu.


"Terimakasih tuan."


"Untuk?" tanya Andika berharap Jeny tahu bahwa Andika menaruh perhatian padanya.


"Makan siangnya." kata Jeny sambil tersenyum.


Jeny semakin tersipu malu ketika Andika menjawab bahwa dia hanya ingin mengajak Jeny makan siang karena tidak mau melihat Jeny kelaparan.


"Ah apa dia seperhatian itu." Pikir Jeny


"Aku hanya tidak mau melihat kamu mati kelaparan nona."


"Bicaralah sesukamu tuan untuk menutupi perhatian mu." Jeny.


"Tak apa jika nona menganggap aku perhatian pada nona." Jeny langsung menutup mulutnya, dia lupa lelaki di depannya bahkan bisa tahu isi pikiran Jeny tanpa melihat ekspresi wajahnya.


"Hati-hati dijalan nona." Andika menutup pintu mobil Jeny, dia berdiri menunggu mobil Jeny melaju meninggalkan restauran.

__ADS_1


Di dalam mobil Jeny terus memikirkan Andika, Andika yang biasanya berbicara tegas dan menakutkan kenapa akhir-akhir ini ucapannya berubah menjadi lebih hangat pada Jeny, apalagi Andika beberapa kali membela Jeny di depan Presdir Romy.


"Dia tetaplah monster, aku tidak akan jatuh hati padanya." Ucap Jeny meyakinkan diri.


__ADS_2