
Deni kembali duduk di depan Andika, Andika yakin Deni akan melakukan tugasnya dengan baik kali ini, Deni adalah orang yang pertama kali bekerja saat Andika mendirikan kantor hukum dulu, tentu saja Andika sudah mengenal Deni dengan baik, dia bisa membaca isi pikiran Deni hanya dengan melihat ekspresi wajahnya saja.
"Roy."
"Iya tuan."
"Jelaskan pada Deni apa yang harus dia lakukan nanti."
"Baik tuan."
Roy kemudian duduk di sebelah Andika, dia menjelaskan dengan rinci tugas yang harus Deni kerjakan nanti, apa saja yang harus Deni laporkan pada Andika.
"Bagaimana cara saya menjadi asisten tuan Ferry Roy?" Roy menyeringai.
"Tuan Ferry sendiri yang akan memintamu menjadi asistennya." Deni menatap bingung mendengar ucapan Roy.
"Ikuti saja alurnya, jangan terlalu banyak berpikir." Ucap Roy melihat Deni bingung
"Baiklah."
Deni pergi meninggalkan restauran setelah Roy selesai menjelaskan detail tugasnya, berkali-kali dia mengucapkan kata maaf pada Andika, yang hanya dibalas anggukan kepala Andika.
"Tuan." Panggil Roy, Andika hanya diam tanpa menjawab panggilan Roy.
Andika masih duduk termenung setelah kepergian Deni, dia saat ini sedang memikirkan Jeny, Roy yang melihat hal itu pun hanya diam dan menunggu Andika selesai dengan pikirannya, suara hingar bingar di sekitar seakan tidak menggangu Andika.
Lonceng di pintu restauran berbunyi, Roy melirik kearah pintu, dia menajamkan pandangannya saat melihat Teddy dan Jeny memasuki restauran itu.
__ADS_1
Presdir Ferry melanjutkan perjodohan Teddy dan Jeny hanya untuk menyelamatkan perusahaannya setelah dia tidak mendapatkan apapun dari Aras group, investasi dari Wibowo group sangat di perlukan oleh Mahesa untuk menyetabilkan keuangan Mahesa group.
Andika yang sedang termenung tidak menyadari kehadiran Jeny dan Teddy yang sudah duduk di ujung restauran.
Andika berdiri hendak meninggalkan restauran, matanya menyapu seluruh restauran, dia merasa seperti Dejavu, bagaimana dulu dia pernah ada di moment seperti ini saat dia sedang bertemu dengan klien tanpa sengaja melihat Jeny dan Teddy.
"Tunggu aku di mobil Roy." Andika berjalan menghampiri meja Jeny dan Teddy tanpa menunggu jawaban Roy.
"Jeny." Jeny menoleh kearah Andika dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Andika."
Teddy menatap tajam Andika yang berdiri di sebelahnya, tidak seperti dulu Teddy yang akan menyambut Andika dengan hangat, kini dia menatap dengan tatapan penuh permusuhan.
"Kamu memanggil siapa Andika." Teddy bicara dengan nada menekan
"Apa kabarmu?"
"Baik Andika."
"Aku sangat merindukanmu." Bisik Jeny di telinga Andika, Teddy yang melihat hal itu merasa geram, bagaimana bisa Andika mendekati wanita yang sudah dia ketahui akan dijodohkan dengan orang lain.
"Pergilah, kehadiranmu sangat menggangu di sini." Andika hanya diam tidak menanggapi ucapan Teddy, seakan dia tidak menganggap kehadiran Teddy di situ.
"Andika." Teddy menggebrak meja dengan keras melihat respon Andika yang mengacuhkan dirinya.
Andika menoleh kerah Teddy, terlihat wajah Teddy yang merah padam menandakan amarahnya.
__ADS_1
"Tidak usah bertingkah seperti itu saat tidak ada ayahmu." Ucapan Andika yang terdengar begitu dingin membuat Teddy sedikit takut, tapi dia kembali teringat ucapan Presdir Wibowo.
"Lawan Andika mulai sekarang, jangan pernah menundukkan kepalamu apa lagi memperlihatkan ketakutan mu ketika bertemu dengannya."
Teddy menarik nafasnya dalam, dia seakan sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Hahaha." Teddy terbahak "Aku tidak pernah takut dengan mu Andika." Mereka kemudian saling menatap dengan tatapan tajam.
Melihat situasi sudah semakin panas Jeny akhirnya membuka suara untuk menenangkan Andika.
"Pergilah Andika, aku tidak menjadi Jeny saat bertemu dengan nya." Ekor mata Jeny menunjuk Teddy.
"Apa kamu tidak tahu malu Andika." Teddy tersenyum sinis setelah mendengar ucapan Jeny.
"Aku pergi dulu Jeny."
"Jangan panggil dia Jeny!" Teddy langsung meremas kerah baju Andika saat Andika mengelus kepala Jeny.
Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang meremas pergelangan Teddy dengan kuat, Teddy langsung meringis kesakitan.
Roy sudah berdiri disitu dengan tatapan membunuh, bisa saja dia langsung menghajar Teddy saat itu jika Andika tidak mencegahnya.
"Lepaskan tanganmu Roy, jangan buat Jeny repot untuk memenangkannya saat dia menangis." Roy melepaskan cengkraman di pergelangan tangan Teddy, dia kemudian mengikuti Andika yang sedang berjalan keluar dari restauran.
Jeny menatap kepergian Andika, setelah Andika menghilang dibalik pintu, Jeny mengarahkan pandangannya kearah Teddy, di situ Teddy terlihat sedang meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya, melihat hal itu Jeny hanya tersenyum tipis sembari memandang Teddy dengan pandangan merendahkan.
"Bagaimana bisa kamu melawan Andika, jika hanya begitu saja sudah mau menangis." Ucap Jeny yang membuat Teddy menatapnya tajam.
__ADS_1
"Habiskan makananmu, jangan banyak bicara." Ucap Teddy dengan wajah geram.