SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
AKU TIDAK SEBODOH YANG KAU PIKIRKAN


__ADS_3

Suara nafas dokter Hendra terdengar cukup keras, deru nafas memburu bukan karena menahan amarah tapi dokter Hendra sedang berusaha untuk menekan rasa takut pada Andika saat ini.


Beberapa kali dokter Hendra melirik Andika yang tengah duduk, tapi kemudian dia langsung menyesali perbuatannya telah melihat wajah Andika, rasa takut dalam diri dokter Hendra semakin memuncak ketika pandangannya mendapati wajah seorang Andika yang terlihat sangat menakutkan dengan seringai di wajahnya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Andika tanpa melihat wajah dokter Hendra.


"Tidak tuan." dokter Hendra menjawab dengan suara yang sangat lirih.


"Aku tidak akan memberikan kesempatan kepada mu untuk bertanya setelah Rani datang."


Dokter Hendra terdiam, saat ini ucapan apapun yang keluar dari mulut Andika bagaikan vonis mati yang diberikan kepadanya.


"Tuan." dokter Hendra pun membuka suara setelah terdiam beberapa saat.


"Hmm."


"Bagaimana tuan bisa ta.." ucapan dokter Hendra langsung di potong oleh Andika.


"Apakah kau yakin ingin bertanya suatu hal yang kau sudah tahu jawabannya."


Dokter Hendra langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Andika.


"Sebenarnya orang seperti apa anda tuan." ucap dokter Hendra dalam hatinya.


"Apakah anda akan menjawab dengan jawaban yang sama seperti tadi tuan."


"Aku seorang pengacara, jawaban yang tidak menjawab apapun m" gerutu dokter Hendra dalam hatinya.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan." ucap Andika sembari tersenyum seakan menikmati ekspresi terkejut di wajah dokter Hendra.


"Jika tuan bersedia untuk menjelaskan ma..." Andika memberi gestur lewat tangannya yang menyuruh dokter Hendra untuk diam.

__ADS_1


Andika kemudian membuka ponselnya, dia mencari sebuah nama yang akan dia hubungi.


"Lisa." ucap Andika setelah panggilannya terhubung.


"Bawa surat perjanjian itu keruangan sekarang." Andika langsung mematikan panggilan telepon.


- - -


Raut wajah tegang dengan ekspresi serius terlihat dari wajah dokter Hendra ketika dia sedang membaca lembaran kertas yang baru saja di berikan oleh Andika, kertas yang tertulis surat perjanjian sebagai huruf yang paling besar di lembar paling awal.


Bola mata dokter Hendra berputar, ketika menemukan beberapa kalimat yang sulit dia pahami, sesekali dokter Hendra menatap tajam Andika saat dia membaca beberapa kalimat yang sangat mengejutkan.


"Apa maksudnya ini?" tanya dokter Hendra setelah selesai membaca surat perjanjian itu.


"Tandatangani itu dan kau akan tahu semuanya." Andika menyodorkan sebuah bolpoin kehadapan dokter Hendra.


"Aku tidak akan menandatangani ini sebelum tahu apa maksud dari surat ini."


"Itu bukanlah penawaran, tapi perintah." kata Andika dengan tatapan tajam kearah dokter Hendra.


"Tandatangani sekarang atau kau akan melihat ayahmu duduk bersebelahan dengan kakak tiri mu sebentar lagi." Adrian berbicara dengan nada tinggi karena dokter Hendra hanya diam dengan wajah datar melihat kearahnya.


Dengan tangan gemetar karena baru saja di bentak oleh Andika, dokter Hendra mengambil bolpoin yang tergeletak diatas kertas, secara perlahan dia membuka tutup bolpoin itu.


"Huh." dokter Hendra membuang napas kasar ketika ujung bolpoin sudah menempel diatas kertas.


"Aku sangat menyesal telah berurusan dengan orang seperti anda tuan." kata dokter Hendra ketika selesai menandatangani surat perjanjian tersebut.


Andika hanya tersenyum sinis mendengar ucapan dokter Hendra, dia lalu mengambil lembaran kertas yang sudah ditandatangani oleh dokter Hendra untuk kemudian dia simpan rapi di dalam amplop cokelat.


"Jadi apa jawaban selain aku seorang pengacara tuan?" dokter Hendra menaikkan kedua alisnya ketika tidak melihat adanya respon yang di berikan oleh Andika.

__ADS_1


"Apa anda menipu saya tuan, setelah saya menandatangani surat itu.",


"Namamu ada dalam daftar ahli waris dari Restu Pradana."


"Maksudnya?" Dokter Hendra benar-benar merasa bingung dengan ucapan Andika.


Dengan wajah malas Andika akhirnya bercerita pada dokter Hendra, Restu Pradana adalah salah satu pengusaha besar di bidang pariwisata dan kesehatan, Andika merupakan Corporate Lawyer dari perusahaan Restu Pradana oleh sebab itu Andika dengan mudah mengetahui hubungan antara dokter Hendra dan Restu Pradana, beberapa waktu lalu restu Pradana meminta Andika untuk membuat surat wasiat jika dia meninggal nantinya, Andika melakukan pekerjaannya sesuai dengan permintaan klien, tapi dia merasa aneh ketika Restu Pradana menyertakan satu nama yang mendapatkan warisan paling besar, bahkan nama itu tidak ada dalam dokumen kependudukan milik Restu Pradana, dengan berbagai alasan Andika berhasil membuat Restu Pradana bercerita semua hal padanya.


"Lalu apa maksud dari surat itu?" dokter Hendra berbicara sembari menunjuk amplop cokelat yang tergeletak diatas meja.


"Apa kau benar-benar tidak tahu isi dari surat itu?" tanya Andika dengan tatapan merendahkan.


"Bahasanya sangat sulit aku pahami." jawab dokter Hendra.


"Surat itu berisi pengakuan mu telah melakukan malapraktik pada Adrian."


"Maksudnya?"


"Jika kau mempersulit ku saat ini atau kedepannya nanti, aku akan menjamin dirimu membusuk di penjara dengan penyesalan karena tidak bisa melihat ayahmu di kuburkan."


"Apa mau mu sebenarnya hah." teriak dokter Hendra dengan suara lantang.


"Katakan siapa orang yang sudah menyuruhmu untuk membuat kondisi Adrian seperti itu."


Mendengar suara dingin Andika, seketika mental dokter Hendra langsung down, dimana dia harus saja berada di puncak tertinggi emosinya karena ucapan Andika, sekarang dia bahkan sulit untuk sekedar bersuara.


"Tidak ada yang menyuruhku." jawab dokter Hendra, pilihan sangat sukar sedang dokter Hendra hadapi, dia akan kehilangan semuanya ditangan Andika atau orang yang menyuruhnya.


"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan."


"Baiklah aku beri satu kesempatan lagi, katakan ketika ada Rani nanti." Andika menarik napas panjang "Pikirkan mulai sekarang, keputusan apa yang akan kau ambil nanti."

__ADS_1


Andika berdiri meninggalkan dokter Hendra sendiri di ruang kerjanya, dia sangat paham jika dokter Hendra saat ini butuh waktu sendiri sebelum mengambil keputusan yang besar.


__ADS_2