SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
KELEMAHAN ANDIKA


__ADS_3

Andika berjalan sambil mengepalkan tangannya dengan erat, Adrian masih mengumbar senyum seperti biasa seakan dia sedang bermain-main.


Langkah mereka terhenti saat sudah berada di depan pintu rumah Presdir Wibowo, seorang bodyguard langsung menodongkan pistol tepat di kepala Andika, dengan sigap Rendy menendang orang yang menodongkan pistol itu.


Suasana semakin tegang, Roy langsung berdiri dibelakang Adrian dan Andika, sedangkan Rendy sedang berkelahi dengan beberapa bodyguard, Rendy yang sudah terlatih tanpa kesulitan menjatuhkan tiga orang bodyguard.


Prok.. prok


Suara tepukan seakan menjadi instruksi untuk bodyguard lain mendekat, mereka langsung mengepung Adrian dan Andika dengan menodongkan senjata api masing-masing.


Adrian dan Andika saling tatap, seringai muncul di wajah mereka, seakan sedang menikmati ketegangan itu, tidak ada rasa takut sama sekali di diri Andika dan Adrian.


"Tuan serahkan saja pada kami." Rendy berbicara pada Adrian, dia seakan mengetahui bahwa Adrian dan Andika sedang berencana untuk bertarung dengan mereka.


Terdengar suara langkah kaki mendekat, Presdir Ferry dan Presdir Wibowo berjalan beriringan menuju kearah Andika dan Adrian yang kini sedang menatap tajam mereka.


"Andika." Presdir Wibowo berbicara sembari bertepuk tangan ketika posisinya hanya berjarak kurang dari lima meter dari tempat Andika berdiri.

__ADS_1


"Kau akan menghancurkan ku malam ini." Presdir Wibowo terbahak "Titipkan salam ku pada ayahmu." Mendengar ucapan Presdir Wibowo membuat Andika menatap tajam.


"Aku bersumpah tidak hanya akan menghancurkan mu tapi akan melenyapkan mu juga." Suara Andika bergetar, dia saat ini sedang di puncak emosinya setelah mendengar Presdir Wibowo menyebut ayahnya.


"Hahaha." Suara tawa keras terdengar menggema di rumah mewah itu "Kau bahkan tidak tahu bahwa kau yabg akan lenyap malam ini." Ucap Presdir Wibowo dengan senyum sinis di wajahnya.


Presdir Ferry hanya diam menyaksikan perdebatan Andika dan Presdir Wibowo, dia tidak mengetahui tentang rencana Presdir Wibowo yang akan sejauh ini dengan mengerahkan bodyguard nya untuk mengepung Andika dan Adrian.


"Apa sudah cukup anda bicara tuan?" Adrian berjalan mendekati Presdir Wibowo, Rendy yang menyadari hal itu dengan sigap menahan tubuh Adrian "Tuan." Rendy menggelengkan kepalanya, melihat hal itu Adrian mengehentikan langkahnya.


"Saya sudah mengatur rencana untuk hal ini tuan." Adrian mengangguk, dia kemudian melangkah mundur untuk berdiri di sebelah Andika.


Sinar laser berwarna merah dengan jumlah yang cukup banyak masuk menembus kaca rumah Presdir Wibowo, sinar tersebut mengarah ke kepala Presdir Wibowo, Presdir Ferry dan bodyguard yang masih menodongkan senjata mereka.


"Jangan bermain-main dengan nyawa anda tuan." Rendy menatap tajam Presdir Wibowo, tatapan yang terlihat lebih mengerikan dari pada tatapan Andika.


Presdir Wibowo menyadari posisinya yang sudah menjadi target incaran penembak jitu, dia kemudian memberi instruksi pada bodyguard agar menurunkan senjata mereka.

__ADS_1


"Ternyata anda belum mengetahui siapa lawan yang sedang anda hadapi tuan." Adrian tersenyum sinis menatap Presdir Wibowo.


Tiba-tiba terdengar suara seorang berlari, Jeny langsung bersimpuh di depan Andika dengan air mata yang mengurai keluar dengan deras membasahi pipinya.


"Andika, aku mohon lepaskan ayahku." Dengan suara lirih Jeny berbicara pada Andika yang sedang menatap tajam Presdir Wibowo dan Presdir Ferry.


"Bangunlah Jeny." Andika menarik pundak Jeny dengan lembut "Jangan menangis di depanku." Pelukan lembut diberikan Andika kepada Jeny.


Andika masih memeluk Jeny dengan erat hal itu membuat Presdir Ferry tersenyum, dia seakan sudah mendapatkan kelemahan Andika, kelemahan yang akan membuat Andika tidak berkutik untuk melawannya.


"Adrian." Andika memberi pesan kepada Adrian lewat tatapan matanya, dia meminta Adrian untuk menyuruh Rendy agar mengakhiri semua ini.


Dengan wajah tertekuk Adrian mengangguk "Rendy kita pulang." Menepuk pundak Rendy.


"Baik tuan."


Andika mengelus lembut kepala Jeny "Jaga dirimu baik-baik, maaf telah membuatmu menangis." Andika kemudian mendorong tubuh Jeny perlahan, dia berjalan meninggalkan rumah Presdir Wibowo tanpa menoleh kearah Jeny yang sedang menatap nanar kepergian Andika.

__ADS_1


__ADS_2