
Andika turun dari mobilnya, dia kemudian bergegas masuk ke dalam kantor polisi, terlihat Rendy sedang di pegangi oleh dua orang polisi untuk di bawa masuk kedalam, Rendy memberikan senyum tipis pada Andika ketika pandangan mereka bertemu.
Langkah Andika terhenti ketika ponselnya berdering, terlihat nama Deni disana, tanpa menunggu lama Andika langsung mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?" Tanya Andika tanpa basa basi.
"Dokter meminta persetujuan untuk operasi darurat." Jawab Deni dengan suara panik.
"Tandatangani saja Deni." Kata Andika dengan nada suara tinggi.
"Tapi.." ucapan Deni langsung di potong oleh Andika.
"Katakan dengan jelas jangan bertele-tele."
"Pihak rumah sakit hanya mengizinkan keluarga tuan Adrian yang menandatangani." Suara Deni terdengar bergetar.
"Hanya aku keluarganya saat ini Deni." ucap Andika dengan suara lirih tapi terdengar menyeramkan di telinga Deni "Apa kamu sedang bersama dokter?"
"I... Iya tuan."
"Hidupkan speaker ponselmu." Tut.. terdengar Deni memencet layar ponselnya.
"Jika kalian tidak melakukan operasi darurat sekarang, aku Andika akan menuntut rumah sakit kalian dan membuat mu membusuk di dalam penjara dokter." Teriak Andika dengan suara lantang.
Hening, suara keributan yang terdengar samar langsung hilang setelah Andika selesai bicara dengan nada tinggi, kemudian terdengar obrolan antara Deni dan seseorang yang sepertinya dokter.
"Saya sudah menandatangani surat persetujuan tuan." Ucap Deni kemudian.
"Laporkan terus perkembangannya." Kata Andika "Bagaimana keadaan Jeny?."
__ADS_1
"Nona Jeny belum sadar tuan."
"Tetap berada di rumah sakit sampai aku datang."
"Baik tuan."
Andika duduk di ruang tunggu, dia belum bisa masuk ke dalam ruangan interogasi Rendy, Andika sedang menunggu Lisa datang untuk membawa surat kuasa.
"Ini tuan surat yang anda minta." Lisa menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Andika.
Andika kemudian membaca sekilas surat tersebut, dia langsung meninggalkan Lisa yang masih berdiri mematung.
"Tuan." Langkah Andika terhenti mendengar Lisa memanggil namanya.
"Apa yang terjadi dengan Rendy?" Andika mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jangan banyak bertanya saat ini, pergilah ke rumah sakit temui Deni disana." ucap Andika dengan tatapan tajamnya, Lisa langsung menunduk melihat tatapan tajam dari Andika, tatapan yang tidak dia lihat dari Andika setelah sekian lama.
Andika masuk kedalam ruangan interogasi, dia kemudian menyodorkan kertas yang di berikan oleh Lisa tadi kepada Rendy.
"Tandatangan di sini." Ucap Andika sembari menunjuk bagian bawah kertas, tanpa bertanya Rendy langsung menandatangani kertas yang bertuliskan surat kuasa itu.
Andika langsung menyerahkan surat kuasa kepada penyidik yang duduk tepat di depan Rendy, penyidik membaca sekilas surat itu kemudian mengangguk dan mempersilahkan Andika untuk duduk mendampingi Rendy.
"Bagaimana kejadiannya?" Tanya penyidik pada Rendy.
Rendy melirik Andika sejenak seperti meminta persetujuan, Andika mengangguk kemudian Rendy langsung menceritakan kejadian saat itu, tentu saja Rendy tidak bercerita apa yang terjadi sesungguhnya, dia melewatkan cerita penyebab Adrian tertembak.
"Jadi saudara Ferry yang menembak duluan?" Tanya penyidik.
__ADS_1
"Iya." Jawab Rendy singkat.
"Lalu kenapa anda menembak saudara Ferry?"
"Saya adalah asisten sekaligus pengawal tuan Adrian dan tuan Andika, setelah menebak tuan Adrian, dia mengarahkan senjatanya kepada tuan Andika setelah tembakannya berhasil mengenai dada tuan Adrian, saya langsung menembak tuan Ferry setelah itu." Jelas Rendy panjang lebar kepada penyidik.
"Proses penyidikan hari ini selesai, kami akan mengeluarkan surat penahanan untuk saudara Rendy." Ucap penyidik.
"Saya minta waktu untuk bicara berdua dengan klien saya." Kata Andika.
"Silahkan." Penyidik beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana keadaan tuan Adrian?" Tanya Rendy dengan tatapan penuh harap mendengar jawaban Andika.
"Adrian sedang di operasi saat ini." Jawab Andika yang membuat Rendy langsung menunduk, dia merasa gagal melindungi Adrian.
"Rendy." Andika memegang pundak Rendy.
"Terimakasih atas semuanya, maafkan Jeny Rendy." Andika sedikit meremas pundak Rendy.
"Saya tidak menyalakan nona Jeny tuan." Jawab Rendy dengan tatapan matanya menatap Andika dengan tajam.
"Terimakasih." Andika memeluk Rendy.
"Saya titipkan tuan Adrian pada anda tuan."
"Kau tahu seberapa berharganya Adrian untuk ku Rendy." Rendy mengangguk mendengar jawaban Andika.
"Aku berjanji akan membebaskan mu Rendy."
__ADS_1
Andika kemudian menatap kepergian Rendy setelah beberapa polisi membawa Rendy masuk ke dalam tahanan, Andika menatap punggung Rendy sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Aku akan membalas semua kebaikanmu Rendy, bahkan di kehidupan berikutnya." Ucap Andika dalam hatinya, dia kemudian beranjak keluar dari ruang penyidikan.