SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
Hampir Menyerah


__ADS_3

Andika masih dengan semangat yang membara membela Adrian tanpa kanal lelah, seperti hari ini entah sudah berapa kali Andika berteriak untuk membela Adrian, semakin dekat dengan sidang pembacaan putusan, semakin tersudut pula Adrian.


"Yang mulia saya mohon beri kami waktu sedikit lagi untuk bisa membuktikan bahwa saudara Adrian tidak bersalah" ucap Andika kepada hakim ketika hakim akan menutup sidang dan melanjutkan dengan sidang terakhir yaitu pembacaan putusan.


Hakim ketua terlihat berdiskusi kepada dua hakim anggota di sebelahnya, dengan harap harap cemas Andika melihat hal itu, karena apabila hakim tidak mengabulkan permintaanya sudah pasti vonis akan di jatuhkan untuk Adrian pada sidang selanjutnya.


"Penasihat hukum dan jaksa silahkan maju kedepan" pinta Hakim ketua setelah selesai berdiskusi.


Sekali lagi Andika meminta satu kesempatan kepada majelis hakim saat berada di depan, dia juga berbicara pada jaksa penuntut untuk meyakinkannya, saat ini hakim sedang meminta pandangan dari jaksa penuntut.


"Ini bukan hanya nama baik saya yang saya pertaruhkan yang mulia dan jaksa, ini menyakut nasib seorang suami, menyangkut kehidupan sebuah keluarga" ujar Andika meyakinkan hakim dan jaksa.


Setelah berdiskusi hakim meminta kepada Andika dan Jaksa untuk kembali ke tempat duduknya, terlihat senyum di wajah Andika yang menandakan dia telah berhasil untuk meminta kesempatan, nama besar Andika sepertinya berpengaruh dalam hal ini, nama besar yang tercipta dari hal baik yang dia lakukan tentu saja membawa dampak baik juga.


"Sidang di tunda satu minggu" ucap hakim kemudian melihat ke arah Andika "agenda sidang selanjutnya pembelaan dari penasihat hukum sebelum putusan"


Tok.. tok... tok...


Suara palu Hakim ketua di sambut senyuman lebar dari Andika dan dokter Rani yang dengan setia hadir di setiap sidang Adrian.


"Terimakasih Andika" ucap dokter Rani saat mereka tengah berjalan bersama Andika dan Lisa menuju parikaran mobil.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan begitu" Andika kini bersikap lebih lembut pada dokter Rani, dia sudah dapat mengerti dan tidak lagi menyalahkan dokter Rani atas semua yang terjadi.


Andika sadar jika dokter Rani adalah orang paling terpukul atas kejadian ini, dia harus melihat Adrian duduk di kursi pesakitan dan harus menerima kehilangan anggota keluarganya.


 


Rumah Lisa


"Berpikirlah Andika" Andika tengah berbicara pada dirinya sendiri, dia tengah berpikir keras apa yang harus dia lakukan untuk dapat membebaskan Adrian karena jika dalam sidang selanjutnya dia tidak bisa membuktikan apapun terkait hal yang meringankan atau membebaskan Adrian akan jatuh vonis bersalah untuk Adrian.


"Lisa... Apa kau sama sekali tidak menemukan celah?" tanya Andika ketika dia sudah buntu dengan pikirannya sendiri.


"Bagaimana denganmu Rani?" tanya Andika pada dokter Rani karena dia tidak mendapatkan jawaban dari Lisa.


"Andaikan aku bisa membuat suatu keajaiban" khayal Andika.


"Aku minta maaf Adrian" ujar dokter Rani yang membuat Andika langsung menatapnya tajam.


"Jangan salahkan dirimu, jika harus menyalahkanmu akulah orang yang paling pantas melakukan itu" Andika berbicara dengan nada sinis, dia sangat tidak menyukai orang yang selalu menyalahkan keadaan.


Dokter Rani tertunduk dengan kesedihan yang terlukis jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Tenang saja Rani, aku orang yang tak pernah mengingkari janji" Andika berusaha menghibur dokter Rani.


"Terimakasih" dengan pelan dokter Rani berbicara.


"Hallo" ucap Lisa saat menjawab panggilan dari ponselnya.


"Baik"


Klik.....


Lisa mematikan panggilan yang ternyata dari resepsionis kantor.


"Tuan" dengan ragu Lisa berbicara dengan Andika.


"Hem" Andika masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Barusan resepsionis kantor menelfon, ada seseorang yang menunggu anda di kantor" Andika diam.


"Bukankah kau tahu aku sedang tidak ingin di ganggu" ucap Andika tanpa menatap lawan bicaranya.


"Orang itu berkata ada hal penting terkait kasus tuan Adrian"

__ADS_1


Andika yang sedari tadi diam langsung bereaksi ketika mendengar penuturan Lisa "Semoga inilah keajaban yang di tunggu" ucap Andika dengan penuh semangat, kemudian dia mengajak lisa dan dokter Rani untuk ikut ke kantor.


** Jangan lupa mampir ke novel terbaru Author ya AKU BUKAN PILIHAN


__ADS_2