
Teddy baru saja selesai meeting, dia berjalan melewati ruangan Presdir Wibowo, langkahnya terhenti seketika karena mendengar suara tawa yang cukup keras dari ruangan Presdir Wibowo, Teddy diam sejenak seakan sedang mengingat-ingat sesuatu, suara yang terdengar familiar.
"Itu suara Andika."
Teddy kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Presdir Wibowo setelah yakin bahwa suara yang dia dengar adalah suara Andika.
Teddy langsung menatap nanar pemandangan di depannya, terlihat empat orang berdiri di depan ayahnya, dua orang sedang tertawa bahagia sedangkan yang lain hanya diam sambil menyunggingkan senyum, di depan mereka terlihat Presdir Wibowo dengan ekspresi wajah geram tapi ada keputusasaan di sorot matanya sedang berusaha tersenyum.
"Ada apa ayah?" Teddy berjalan mendekati Presdir Wibowo.
"Wah wah wah kebetulan kamu ada disini Teddy." Andika tersenyum sinis melihat kehadiran Teddy.
Teddy menatap tajam Andika dan Adrian, mereka semakin terlihat senang melihat tatapan tajam Teddy, melihat respon Andika dan Adrian yang terlihat sangat menikmati rasa kekesalannya Teddy kemudian menatap ayahnya seakan meminta penjelasan.
"Ayah akan membatalkan perjodohan mu dan menarik semua saham ayah di Mahesa group." Teddy membelalakkan matanya.
"Apa maksud ayah?"
"Selama ini kita tidak pernah memiliki musuh, setelah kita berhubungan dengan Mahesa group hidup kita menjadi tidak tenang." Mendengar penuturan Presdir Wibowo membuat Teddy mengalihkan pandangannya kearah Andika, dia seakan sudah mengerti maksud dari ucapan ayahnya.
"Jika ayah mau memutuskan hubungan ayah dengan Mahesa group terserah, tapi Teddy tidak mau jika perjodohan ini dibatalkan."
__ADS_1
"Dengarkan ayah Teddy." Presdir Wibowo berusaha memberikan pengertian kepada Teddy, dia sangat paham dengan watak anaknya itu, Teddy yang sedari kecil selalu mendapatkan apa yang dia mau sehingga Teddy tidak mudah menerima penolakan.
"Ini semua demi kebaikan kita Teddy."
"Apa ayah takut pada mereka?" Teddy menunjuk posisi Andika dan Adrian berdiri.
"Ayah tidak takut jika hanya ayah yang akan menderita." Presdir Wibowo menatap nanar anaknya "Ayah tidak akan bisa melihatmu menderita juga Teddy."
"Tidak ayah, Teddy tidak mau kehilangan Lita."
"Teddy!" Gelegar suara Presdir Wibowo membuat Teddy terkejut, selama hidupnya tidak pernah Presdir Wibowo membentak dirinya.
"Dengarkan ayah, lupakan wanita itu mulai sekarang."
Teddy langsung keluar dari ruangan Presdir Wibowo, dia sangat kecewa dengan keputusan sepihak ayahnya, tangannya mengepal geram mengingat wajah Adrian dan Andika, perasaan benci semakin besar pada mereka berdua.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian." Ucap Teddy dalam hati sembari masuk kedalam ruangannya sendiri.
Teddy membanting pintu ruangannya dengan keras, membuat dua orang staf sekretaris terkejut dan melihat kearah Teddy yang baru saja masuk.
"Apa kalian melihatku." Mereka langsung membuang muka mendengar ucapan keras dari Teddy.
__ADS_1
"Keluar!" Teddy menunjuk pintu, dengan tergopoh-gopoh dua orang wanita itu berjalan cepat meninggalkan Teddy yang terlihat sangat marah.
"Brengsek." Teddy menendang meja kerjanya.
"Lihat saja keparat aku akan melenyapkan kalian." Teddy memukul meja dengan keras.
Teddy menyeringai, dia sudah menemukan cara untuk menyingkirkan Andika dan Adrian, di pikirkan Teddy hanya ada nama Jeny, Jeny dan Jeny, sungguh Jeny sudah bisa membuat Teddy gila.
- - -
Setelah kepergian Teddy Andika melangkah kedepan untuk lebih dekat dengan posisi Presdir Wibowo duduk.
"Saya rasa anda mengambil keputusan yang tepat tuan." Presdir Wibowo menatap Andika dengan tatapan penuh kebencian.
"Saya kasih waktu sampai besok untuk anda melakukan perintah saya." Senyum sinis tersungging di bibir Adrian "Jika anda masih ingin melihat anak manja anda hidup dengan enak, lakukan semua sesuai dengan ucapan anda."
Andika berjalan keluar dari ruangan Presdir Wibowo di ikuti oleh Roy, Adrian masih berdiri sambil tersenyum.
"Semoga hari anda menyenangkan tuan." Adrian tersenyum meledek kemudian dia keluar dari ruangan Presdir Wibowo.
"Bedebah kalian." Presdir Wibowo memaki ketika pintu ruangan sudah terlihat tertutup setelah kepergian Adrian.
__ADS_1