
Dua hari kemudian
Andika tengah duduk diatas kursinya, pandangannya menatap tajam kearah lembaran kertas yang sedang dia baca, sesekali terlihat ekspresi marah terlukis diwajahnya.
"Rendy."
"Saya tuan."
"Bawa dokter itu hari ini kehadapan ku, bagaimanapun caranya."
"Baik tuan." Setelah menunduk hormat Rendy langsung keluar dari ruangan Andika untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Andika.
Andika baru saja membaca laporan dari Rendy mengenai dokter yang selama ini menangani Adrian, dalam laporan tersebut terlihat bahwa ada seorang yang menyuruh dokter untuk membuat Adrian tidak akan sembuh.
Rendy berhasil meretas ponsel milik dokter yang menangani Adrian berkat bantuan hacker yang biasa Rendy andalkan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan privasi seseorang.
Andika ingin mengetahui siapa dalang dibalik perilaku dokter yang telah membuat Adrian seperti itu, karena dia tidak bisa menemukan orang yang menjadi dalang itu dalam laporan yang di berikan oleh Rendy.
Andika kemudian menekan tombol extension pada telepon diatas mejanya.
"Lisa."
"Iya tuan."
"keruangan ku."
Andika langsung menutup telepon, dia baru saja menemukan ide untuk membuat dokter itu mengakui dan mau mengatakan orang yang menyuruhnya untuk membuat Adrian tidak bisa sembuh.
"Permisi tuan." ucap Lisa saat dia sudah berdiri di depan pintu.
"Masuk."
Lisa masuk ke dalam ruangan Andika setelah dia mendengar jawaban dari dalam.
"Ada apa tuan." Andika mengangkat sebelah tangannya untuk memberi kode pada Lisa agar dia diam sejenak.
Andika masih mencoret-coret kertas dihadapannya, Lisa yang melihat hal itu hanya diam, dia tahu Andika sedang membuat suatu perjanjian.
"Lisa."
"Iya tuan."
"Buat ini menjadi dua rangkap." Andika menyodorkan kertas yang baru saja selesai dia tulis kehadapan Lisa.
Lisa melihat sejenak kertas itu, dia kemudian menatap Andika dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Tuan."
"Ada apa?"
"Bukankah dokter Maharani itu istri dari tuan Adrian?" tanya Lisa karena dia membaca salah satu surat perjanjian yang di berikan oleh Andika terdapat nama dokter Rani, sedangkan surat perjanjian yang satunya terdapat nama seorang dokter juga tapi tidak Lisa kenal.
"Lakukan saja, jangan banyak tanya Lisa." ucap Andika dengan suara dingin.
"Baik tuan." Lisa sebenarnya masih ingin bertanya lebih lanjut, tapi ketika Andika sudah berbicara tegas dengan suara dingin artinya Andika tidak ingin Lisa bertanya apapun.
- - -
Seorang laki-laki berpakaian dokter dengan id card yang menempel di saku jasnya tengah duduk di depan Andika dengan kondisi tangan terikat, mata tertutup serta mulut yang di lakban.
"Mahendra." ucap Andika sembari berdecak.
Dokter Hendra mengangkat kepalanya setelah mendengar seseorang menyebut namanya.
"Buka." perintah Andika pada Rendy.
Dengan cepat Rendy membuka kain penutup mata dokter Hendra serta lakban yang membekap mulutnya dan tali yang mengikat tangannya.
Dokter Hendra mengerjapkan matanya sejenak karena pandangannya kabur setelah beberapa lama matanya di tutup kain, wajahnya langsung berubah pias setelah pandangannya kembali jernih dan mendapati seorang yang tidak dia kenal sedang duduk di hadapannya dengan sorot mata tajam.
"Hahahaha." Andika terbahak melihat ekspresi ketakutan pada wajah dokter Hendra.
Dokter Hendra hanya diam, dia memilih melemparkan pandangan agar tidak bersitatap dengan pandangan Andika.
"Huh." Andika membuang napas kasar "Tidak menarik jika kau sudah terintimidasi hanya dengan hal seperti ini." Andika tersenyum sinis kearah dokter Hendra.
"Siapa kamu?" tanya dokter Hendra tanpa melihat wajah Andika "Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Aku adalah Andika, dan kau pasti sudah tahu siapa aku setelah mendengar namaku bukan?"
"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak tahu apapun tentang dirimu." dokter Hendra berusaha setenang mungkin.
"Jelaskan semuanya ketika aku masih berbicara baik padamu." ucap Andika dengan nada suara lirih tapi penuh dengan penekanan.
"Apa maksudmu?"
"Mahendra Pradana." dokter Hendra langsung menatap Andika setelah Andika menyebutkan nama lengkapnya "Putera dari Restu Pradana."
"Apa mau mu?" Andika mengulum senyum mendengar ucapan dokter Hendra.
Diseberang Andika, tepatnya dibelakang dokter Hendra, Rendy sedang berdiri sembari menatap Andika, Rendy merasa bingung bagaimana Andika tahu nama lengkap dokter Hendra bahkan nama ayah dokter Hendra padahal dia tidak memberikan informasi tersebut pada Andika.
__ADS_1
"Rendy."
"Saya tuan."
"Bawa Rani kehadapan ku sekarang."
Dokter Hendra terkejut mendengar Andika menyebut nama dokter Rani, tapi Rendy lebih merasa terkejut akan hal itu, dia bahkan berusaha menutupi identitas asli dokter Hendra agar Andika tidak mengetahui sesuatu yang akan membuat Adrian kehilangan Kebahagiaannya.
"Tuan." Rendy berbicara pelan dengan tatapan memohon.
"Jangan pernah menutupi sesuatu kepada ku Rendy."
"Jangan libatkan kak Rani." dokter Hendra memotong perbincangan Andika dan Rendy.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, tapi aku mohon jangan libatkan kak Rani." ucap dokter Hendra seraya menatap Andika dengan tatapan memohon.
"Hahahaha." Andika tertawa keras "Akan lebih menarik jika melihat keluarga yang selama ini berjauhan demi nama baik, duduk dengan wajah memohon di depanku." Andika mengangkat alisnya "Apa aku perlu membawa ayahmu juga?" ujar Andika sembari mengulum senyum di wajahnya.
"Rendy."
"Apa kau dilatih untuk membantah perintah tuan mu."
"Baik tuan." Rendy langsung mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan Andika untuk menjemput dokter Rani.
"Tuan." dokter Hendra bersimpuh di depan Andika.
"Saya mohon tuan, saya akan melakukan apapun yang tuan minta, tapi jangan libatkan kak Rani."
"Huh." Andika mendengus "Duduklah dengan tenang, jangan mengeluarkan suara apapun jika kau ingin melihat Rani masih hidup ketika sampai di sini."
Dokter Hendra segera bangkit dan kembali duduk di sofa, jika bukan Andika mungkin dokter Hendra akan memilih berkelahi saat ini, tapi dengan merasakan aura Andika sudah membuat dokter Hendra takut, melawan Andika bukanlah pilihan yang tepat.
"Bolehkah saya bertanya satu hal tuan?" ucap dokter Hendra dengan ragu.
"Bukankah aku menyuruhmu diam."
"Satu saja tuan."
"Katakan."
"Bagaimana tuan bisa tahu identitas asli saya, bahkan hubungan saya dengan kak Rani."
Dokter Hendra adalah adik tiri dari dokter Rani, dia lahir dari seorang wanita yang merupakan istri simpanan dari ayah dokter Rani, karena perintah ayah dokter Rani dan menjaga nama baiknya, dokter Hendra harus menyembunyikan identitas aslinya kepada siapapun. Hanya keluarga inti ayah dokter Rani yang tahu siapa dokter Hendra sebenarnya.
Andika mengulum senyum
__ADS_1
"Aku seorang pengacara." jawab Andika singkat yang membuat dokter Hendra langsung terdiam tanpa bertanya apapun lagi.