SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
KEMUNCULAN TEDDY


__ADS_3

Adrian tengah bersiap untuk menghadiri pemakaman Presdir Wibowo, dia akan datang bersama dengan Andika, bagaimana Andika tetap harus berakting di depan semua orang, hal yang harus dia lakukan sebagai Corporate Lawyer Wibowo group.


Rendy membukakan pintu mobil ketika Adrian terlihat keluar dari pintu rumahnya, Adrian membalas sapaan dari Rendy kemudian duduk di kursi belakang, mobil langsung melaju perlahan meninggalkan rumah Adrian.


"Tuan." Rendy memulai membuka pembicaraan.


"Ada apa?" Tanya Adrian sembari menatap layar ponselnya.


"Ada info Teddy sudah kembali." Adrian langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar.


"Bagus, aku tidak sabar melihat wajahnya." Ucap Adrian sambil tersenyum sinis.


Rendy kembali terdiam dan fokus untuk mengemudi, beberapa menit kemudian mobil sampai di depan rumah Andika.


Andika bergegas keluar dari rumah setelah diberitahu oleh asisten rumah tangganya perihal kedatangan Adrian.


"Silahkan tuan." Rendy mengangguk sopan kemudian menutup pintu mobil saat Andika sudah berada di dalam.


"Ada berita apa hari ini?" Tanya Andika melihat senyum di wajah Adrian.


"Hahaha." Adrian terbahak "Kamu pasti akan suka mendengarnya."


"Apa?" Tanya Andika antusias.

__ADS_1


"Teddy sudah ada disini."


"Hahaha." Giliran Andika terbahak "Aku tidak sabar melihat tampang menyedihkannya."


Sepanjang perjalanan Andika dan Adrian berbincang mengenai Teddy, mereka sibuk membahas ekspresi wajah Teddy yang sebentar lagi akan mereka jumpai, Rendy yang berada dibalik kemudi hanya diam, sesekali dia tersenyum saat mendengar Adrian dan Andika bertengkar karena argumen mereka tentang ekspresi wajah Teddy.


Mobil berhenti di halaman rumah mewah Presdir Wibowo, suasana terlihat berbeda hari ini, dimana banyak karangan bunga berderet rapi mulai dari jalan masuk ke kawasan perumahan itu, beberapa orang menampakkan wajah sedih, tak banyak dari mereka menyembunyikan wajah gembira mereka dibalut dengan kesedihan, salah satunya adalah Presdir Ferry.


Andika merasa enggan untuk bertemu dengan Presdir Ferry tapi keberadaan Jeny disamping ayahnya membuat Andika mau tidak mau harus bertemu dengan Presdir Ferry.


"Apa kabar Andika." Sapa Presdir Ferry yang hanya di balas tatapan tajam oleh Andika, Andika seakan sedang mengirim pesan pada Presdir Ferry.


"Anda lihat tuan apa yang bisa saya lakukan untuk orang yang mengusik kehidupan saya."


Presdir Ferry membalas tatapan tajam Andika dengan senyum sinisnya seakan berkata.


Melihat ketegangan antara Andika dan Presdir Ferry membuat Adrian turun tangan, dia menarik Andika untuk masuk ke dalam rumah tapi Andika menepis tangan Adrian yang mencengkram lengannya.


"Apa kabar Jeny?" Sapa Andika lembut dengan senyum manis.


"Selalu baik bila bertemu denganmu." Jawab Jeny membalas senyuman Andika dengan senyum manisnya yang akan membuat Andika mendadak menjadi seorang yang terlihat bodoh di depannya.


Tak mau melihat Andika bertingkah lebih konyol karena bertemu Jeny, apa lagi ada Presdir Ferry disana, Adrian pun menarik paksa Andika untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ada apa denganmu Adrian?" Ucap Andika kesal setelah mereka berada di dalam rumah.


"Kamu tidak lihat ada siapa disana." Adrian menunjuk posisi Jeny dan Presdir Ferry dengan ekor matanya.


"Jeny." Jawab Andika singkat.


"Presdir Ferry bodoh." Hardik Adrian kesal melihat tingkah Andika.


Keributan kecil Andika dan Adrian terhenti ketika mata mereka menangkap sosok seorang pria berjalan masuk ke dalam rumah, pria yang selalu terlihat angkuh hari ini sangat kacau dengan rambut berantakan dan air mata membasahi wajahnya.


"Entah kenapa aku menikmati wajahnya yang sangat putus asa." Bisik Adrian.


"Aku akan lebih menikmati jika itu Wibowo." Balas Andika.


Tatapan mereka tak lepas dari Teddy yang kini sedang bersimpuh disamping jasad Presdir Wibowo. Sisi lain dari Andika dan Adrian terlihat hari ini, dimana Adrian yang selalu menampilkan senyum ramah dan Andika seorang yang sangat dingin, hari ini mereka terlihat menyunggingkan senyum sinis dengan tatapan membunuh menyaksikan dan menikmati kehancuran Teddy.


"Bagaimana dengan rencana mu kemarin?" Tanya Adrian setengah berbisik pada Andika.


"Aku besok akan mengadakan konferensi pers." Jawab Andika tanpa menoleh kearah Adrian.


"Baiklah, aku tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk kembali menyaksikan wajah putus asa Teddy." Balas Adrian yang disambut senyum lebar oleh Andika.


Di sisi lain Teddy yang sedang bersimpuh disamping jasad ayahnya melihat kearah Adrian dan Andika, dua orang yang sedang sangat berbahagia hari ini.

__ADS_1


"Kalian akan mendapatkan balasan yang lebih dari ini." Ucap Teddy dalam hati sambil menatap tajam Andika dan Adrian.


Teddy belum mengetahui jika dirinya yang akan mendapatkan balasan berkali lipat dari Andika, dia belum menyadari posisinya saat ini dimana hidupnya berada dalam genggaman Andika.


__ADS_2