SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PERGILAH KE NERAKA


__ADS_3

Andika masih diam membisu, dia berdiri tepat di samping Jeny yang sedang memeluk Presdir Ferry, air mata Jeny terus mengalir melihat kondisi Presdir Ferry yang tidak berdaya.


Batin Andika sedang berperang, di satu sisi dia benar-benar ingin menghabisi Presdir Ferry saat ini juga, tapi hatinya seolah melawan apa yang ada di otak Andika, badan Andika seolah tak bisa bergerak melihat Jeny yang sedang menangis keras.


Lain Andika lain pula Adrian, Adrian tersenyum simpul seolah menikmati pemandangan di depannya yang menampakkan pria tua angkuh sedang tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengucur keluar dari hidung dan telinganya.


Dengan tangan gemetar Deni membuka ponselnya, dia hendak menghubungi ambulance untuk menolong Presdir Ferry, karena hanya Deni yang bisa mengendalikan dirinya saat ini tidak ikut senang atau sedih atas kondisi Presdir Ferry.


Dor....


Semua mata melihat kearah Rendy yang baru saja melepaskan timah panas dari pistolnya, waktu seolah terhenti, nafas tercekat di tenggorokan masing-masing, senyum lebar jelas terlihat di wajah Rendy setelah melepaskan tembakan yang tepat mengenai kepala Presdir Ferry.


"Ayah." Teriakan pilu Jeny menyadarkan semua orang yang sedang membisu.


Deni menjatuhkan ponselnya melihat Presdir Ferry tergeletak dengan kucuran darah keluar dengan deras dari kepala Presdir Ferry, Andika hanya diam membisu tidak dapat mengeluarkan suara apapun saat ini.


"Pergilah ke neraka." Ucap Rendy sembari menurunkan pistol dan memasukkan ke belakang pinggangnya.


Dor....


Suara letusan senjata kembali terdengar, terlihat Adrian yang sedang berdiri berhadapan dengan Jeny.


"Adrian."


"Tuan."

__ADS_1


Teriak Andika dan Rendy bersamaan dengan ambruknya tubuh Adrian, Jeny baru saja menembak Adrian.


Jeny berusaha mengambil pistol Presdir Ferry yang terletak beberapa meter dari tempatnya bersimpuh, Adrian yang melihat hal itu langsung berlari, dia berniat mencegah Jeny yang terlihat akan menembak Rendy, karena kunci pistol sudah terbuka sebelumnya hanya dengan menekan pelatuknya peluru langsung keluar dan mengenai Adrian yang saat itu berniat merebut pistol dari tangan Jeny.


Andika dan Rendy langsung berlari menghampiri adrian dan Jeny, tubuh Jeny langsung melemas, dia langsung pingsan tepat di pangkuan Andika.


"Panggil ambulance." Teriak Andika dengan suara keras.


Mata Andika menatap nanar kearah Adrian yang sudah pingsan diatas pangkuan Rendy.


"Tuan bangunlah." Rendy berusaha menepuk pelan pipi Adrian.


"Jeny, Jeny bangunlah." Kali ini Andika yang bersuara sambil mengguncang pundak Jeny pelan.


"Jangan katakan luka tembak." Ucap Adrian ketika mendengar Deni sedang menelpon ambulance dan mengatakan ada pasien luka tembak.


"Ma... Maaf tuan." Suara Deni bergetar ketakutan melihat ekspresi wajah Andika.


"Bodoh." Hardik Andika, semua sudah terlambat sebentar lagi polisi dan ambulance akan datang.


"Rendy." Andika menyerahkan sapu tangan pada Rendy.


"Cepat bersihkan sidik jari Jeny di pistol, pindahkan pistol itu ke tangan Ferry."


"Deni bantu aku." Teriak Rendy.

__ADS_1


Deni langsung menggantikan posisi Rendy untuk memangku kepala Adrian, sedangkan Rendy langsung menerima sapu tangan Andika kemudian mengambil pistol di tangan Jeny.


"Jangan sebut nama Jeny, aku akan membelamu di pengadilan." Ucap Andika dengan tatapan memohon pada Rendy.


"Tentu saja tuan." Rendy mengerti maksud ucapan Andika, bagaimana pun hanya ada dua pilihan Jeny atau Rendy yang harus masuk penjara saat ini.


"Tenanglah tuan, saya akan menutup mulut saya berkaitan dengan nona Jeny." Ucap Rendy sembari menatap mata Andika.


"Terimakasih Rendy." Rendy mengangguk.


Rendy patuh terhadap Andika, karena Adrian meminta Rendy untuk bersumpah akan menjaga Andika dan patuh kepada Andika seperti halnya Rendy menjaga dan patuh pada Adrian.


Ambulance datang dengan mobil polisi yang mengikutinya, beberapa perawat langsung berlari kearah Adrian karena Andika menyuruh mereka untuk memeriksa Adrian dulu sebab Presdir Ferry sudah pasti tidak tertolong.


Adrian langsung dimasukkan ke dalam mobil ambulance, setelah itu Jeny ikut di evakuasi karena dia tidak kunjung sadar, sedangkan tubuh Presdir Ferry sudah di tutup dengan kain putih setelah dinyatakan meninggal oleh dokter.


Tangan Rendy di borgol oleh polisi, karena polisi mendapati Rendy memiliki pistol di pinggangnya.


Andika berjalan beriringan dengan Rendy menuju mobil polisi, dia harus mendampingi Rendy untuk proses penyidikan.


"Terus kabari perkembangan Adrian dan Jeny." Perintah Andika pada Deni.


"Baik tuan."


Deni langsung meninggalkan rumah Adrian menggunakan mobil Presdir Ferry, sedangkan Andika menggunakan mobilnya dan mengikuti mobil polisi yang terdapat Rendy di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2