SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PULANGLAH JENY


__ADS_3

Roy langsung menghubungi Andika setelah mendapat perintah dari Adrian, dia ijin kepada Andika akan kembali sore hari setelah urusannya selesai, entah kenapa Roy merasa ingin secepatnya menyelesaikan tugas ini untuk membantu Andika lepas dari cengkraman Presdir Ferry melalui tangan Jeny.


- - -


Kantor Andika Law Firm


Andika baru saja menutup panggilan dari Roy yang meminta izin untuk sedikit lebih lama berada di luar, Andika kemudian kembali fokus memeriksa tumpukkan berkas di hadapannya.


Tok.. tok... tok..


Suara ketukan pintu mengalihkan fokus Andika sejenak


"Masuk." Sahut Andika yang disusul oleh suara pintu yang terbuka.


"Ada apa Lisa?."


"Ada nona Jeny ingin bertemu dengan tuan." Andika meletakkan bolpoin diatas meja kemudian menatap Lisa sambil menaikkan alisnya.


"Nona tidak mengatakan keperluannya." Ucap Lisa melihat tatapan Andika.


Andika mengibaskan tangannya yang dibalas anggukan kepala Lisa, dia kemudian berdiri dan berjalan kearah sofa di depannya.


"Duduklah Jeny." Andika menatap nanar Jeny, dia seakan sedang mencari tahu tujuan Jeny menemui dirinya melalui ekspresi wajah Jeny.


"Kamu tidak mungkin datang karena merindukan ku bukan?" Andika tersenyum melihat wajah Jeny, dia seakan tidak bisa menolak pesona Jeny yang telah memikat hatinya.


"Salah satunya itu." Jawab Jeny sambil tertawa ringan, senyum Andika dapat melupakan sejenak tujuan Jeny menemui Andika.


"Tujuan lainnya?"

__ADS_1


Jeny diam, dia menundukkan kepalanya, pikirannya saat ini sedang berkecamuk, hatinya mengatakan untuk tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya, tapi perasaan takut Jeny akan kehilangan sang ayah membuatnya harus melakukan itu.


Andika langsung terlihat panik setelah melihat bulir air mata jatuh dari pipi Jeny, dia langsung bangkit sembari menyambar tissue diatas meja kemudian duduk di sebelah Jeny.


"Ada apa Jeny?" Tanya Andika lembut.


"Maafkan aku Andika." Jeny semakin sesegukan di sebelah Andika.


"Tenangkan dirimu, ada aku di sini." Andika menarik kepala Jeny untuk menyadarkan di dadanya.


Jeny terus menangis, perasaannya benar-benar kacau hingga Jeny tidak mampu mengendalikan emosinya saat ini.


"Tenanglah Jeny." Andika mengusap kepala Jeny dengan lembut.


"Ayah." Ucap Jeny terbata-bata.


"Ayah membuatku menangis." Andika langsung melotot mendengar ucapan Jeny, dia kemudian meremas tangannya dengan kuat.


"Berani-beraninya kau Ferry."


"Apa yang dibuat oleh ayahmu sehingga kamu menangis Jeny?" Dengan lembut Andika mengusap air mata yang membasahi pipi Jeny.


"Ayah hari ini terpuruk, dia sedih dengan kondisi perusahaannya, itu yang membuatku menangis."


Andika langsung menyadari arti ucapan Jeny, Jeny seakan sedang menyindir dirinya atas perbuatannya mengacaukan Mahesa group, pikiran nya mengatakan Jeny sedang memanfaatkan dirinya saat ini agar mau membantu Mahesa group, tapi hati Andika tidak bisa memungkiri rasa nyaman yang diberikan oleh Jeny saat ini, rasa yang hanya akan timbul ketika Andika bertemu dengan Jeny bukan Lita.


"Apa yang bisa aku bantu?" Akhirnya Andika lebih mendengar suara hatinya.


"Apa kamu yakin akan membantu ayah?" Jeny menatap Andika dengan wajah sembab.

__ADS_1


Andika menggeleng "Aku membantu untuk membuatmu berhenti menangis." Dengan tatapan teduh Andika berbicara.


"Aku ingin melihat ayah tersenyum." Ekspresi Andika tidak berubah mendengar permintaan Jeny, dia sudah bisa menebak sebelumnya arah pembicaraan Jeny.


"Apa hanya itu yang bisa membuatmu berhenti menangis Jeny?" Jeny mengangguk lemah.


"Apa tidak ada cara lain?" Andika masih berusaha untuk menawar permintaan Jeny.


Jeny menggeleng membuat Andika membuang nafas berat, bukan hal sulit bagi Andika untuk membuat Exoc Corp melanjutkan kerjasama mereka dengan Mahesa group, hanya sekali telpon akan membuat Exoc Corp langsung memberi proyek mereka untuk Mahesa group kembali.


"Baiklah kalau itu bisa membuatmu berhenti menangis Jeny." Andika benar-benar tidak berdaya ketika melihat Jeny menangis, pikirannya akan langsung kalut melihat air mata membasahi wajah cantik Jeny.


"Apa kamu akan melakukan itu demi aku Andika?" Anggukan kepala Andika membuat Jeny tersenyum.


"Terimakasih Andika." Jeny memeluk Andika dengan erat, merasakan pelukan Jeny membuat Andika tersenyum, dia seakan menemukan nafas baru di setiap pelukan Jeny.


"Pulanglah Jeny, kamu akan melihat senyum ayahmu secepatnya." Andika menatap Jeny dengan tatapan penuh kasih sayang, dia tidak pernah mengingkari ucapannya untuk memberi apapun agar Jeny berhenti menangis.


- - -


"Hati-hati dijalan Jeny." Andika melambaikan tangan ketika mobil Jeny melaju meninggalkan kantor, dia kemudian mengambil ponsel dalam kantong celananya.


"Halo Andika."


"Lanjutkan kerjasama anda dengan Mahesa group, aku menarik syarat yang aku berikan untuk perusahaan anda."


"Terserah dengan mu Andika."


"Terimakasih." klik, Andika langsung memutuskan panggilan, dia melangkah masuk kedalam kantornya sambil tersenyum, tidak ada hal yang dia sesali demi melihat senyum di wajah Jeny.

__ADS_1


__ADS_2