SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PERSIDANGAN


__ADS_3

Satu minggu berlalu


Adrian sedang bersiap menuju pengadilan, hari ini adalah jadwal persidangan Aras group, Andika dan Adrian selalu menebar Psy war ketika mereka bertemu di persidangan, hal itu dilakukan untuk meyakinkan semua orang bahwa tidak ada maksud tersembunyi dari Adrian dan Andika.


Adrian kini benar-benar fokus pada perubahan rencana mereka, apalagi Jeny sepertinya menurut dengan semua perintah Adrian untuk menyimpan rapat-rapat apa yang dia tahu, walaupun begitu Adrian tetap mengawasi semua gerak-gerik Jeny.


Selain itu Andika sudah kembali menjadi Andika sang pengacara, beberapa kali Adrian bertemu Andika, terlihat sikap Andika yang kembali terlihat angkuh, Adrian dapat menyimpulkan bahwa Andika sudah baik-baik saja, hal itu yang membuat Adrian enggan untuk bertanya perihal hubungan Andika dan Jeny.


- - -


Andika keluar dari kantornya dengan terburu-buru, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan sehingga Andika datang ke pengadilan dengan waktu yang sudah mepet.


Langkah Andika terhenti saat dia sudah berada di dekat mobil yang sudah menunggunya di loby, di samping mobil berdiri seorang laki-laki yang sangat dia kenali.


"Apa anda datang untuk memohon putra mahkota." Senyum mengejek langsung timbul di bubur Adika ketika melihat Chandra berdiri menunggu di samping mobilnya, Chandra melangkah mendekati Andika ketika melihat Andika berdiri hanya beberapa meter dari tempat Chandra menunggu.


"Apa kabar Andika?" Chandra mengulurkan tangan yang hanya dibalas tatapan tajam dari Andika.


"Ada apa?"


"Aku ingin menawarkan bantuan untuk mu."


"Pergilah." Andika merasa hanya akan membuang waktunya hanya sekedar untuk berbincang dengan Chandra, Chandra mengejar Andika yang akan memasuki mobil.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk bicara Andika." Chandra menatap Andika dengan tatapan memohon.


"Aku bukan musuhmu." Andika menatap Chandra dengan tatapan penuh selidik, Andika adalah orang yang bisa melihat ketulusan seorang hanya dari ekspresi wajahnya.


"Masuklah." Chandra tersenyum mendengar jawaban Andika, dia kemudian ikut masuk ke dalam mobil Andika.


"Ada apa?" Tanya Andika setelah mobil melaju meninggalkan kantornya, Chandra menyerahkan sebuah flashdisk kepada Andika, Andika menerima dengan tatapan bingung.


"Itu flashdisk yang berisi bukti yang akan mempercepat persidangan." Andika langsung menatap tajam Chandra.


"Apa maksudmu?"


"Dengarkan baik-baik Andika." Chandra menarik nafas panjang sebelum memulai bercerita.


"Aku akan membantu mu dengan satu syarat."


"Apapun itu Andika."


"Nikahi gadis yang kau cintai secepatnya." Chandra terkejut dengan syarat yang diberikan oleh Andika.


"Bagaimana?" Tanya Andika yang melihat Chandra hanya terdiam.


"Ba.. baiklah." Jawab Chandra dengan tergagap.

__ADS_1


"Bagus." Andika menepuk pundak Chandra sembari tersenyum, Chandra hanya menelan salivanya melihat sikap Andika yang sangat aneh di matanya. Andika ingin membantu Chandra karena dia tidak mau ada orang lain yang merasakan sakitnya ketika tidak bisa bersatu dengan orang yang dicintainya, entah sejak kapan Andika menjadi melow.


- - -


Di dalam ruang persidangan


Adrian terlihat sangat hebat dalam mematahkan segala argumen Andika, Presdir Romy yang datang di persidangan kali ini terlihat tersenyum penuh kemenangan karena merasa Andika tidak bisa membantah argumen Adrian dengan segala bukti yang diajukan.


"Apakah pihak penggugat akan mengajukan bukti lagi?" Tanya hakim sebelum menutup persidangan.


"Kami masih ada satu bukti yang mulia, tapi kami minta waktu untuk menghadirkannya di persidangan." Hakim langsung berdiskusi dengan hakim anggota.


"Persidangan ditunda, akan dilanjutkan minggu depan." Hakim mengetuk palu kemudian berdiri untuk meninggalkan ruang persidangan.


Presdir Romy langsung menghampiri Adrian setelah hakim keluar dari ruang persidangan.


"Bagaimana persidangannya bisa ditunda untuk melihat bukti Andika." Tanya Presdir Romy geram.


"Tenanglah tuan Romy, apapun bukti yang akan diajukan Andika tidak akan mempengaruhi hasil putusan."


"Apa kau yakin Adrian?"


"Sangat yakin kita akan memenangkan Persidangan ini." Presdir Romy tersenyum mendengar ucapan Adrian, dia baru saja termakan oleh omongan manis dari Adrian.

__ADS_1


__ADS_2