
Satu Minggu berlalu
Tepat hari ini tujuh hari kepergian Roy, Andika memutuskan masa berkabung tujuh hari untuk menghormati kepergian Roy, selama itu kegiatan di kantor Andika terlihat lenggang, dia juga tidak menerima tamu, Andika hanya pergi untuk menghadiri persidangan.
Adrian beberapa kali mengajak Andika bertemu untuk membahas banyak hal, tapi Andika menolak dan berkata untuk menemuinya setelah tujuh hari kepergian Roy.
- - -
Kantor Andika Law Firm
Adrian baru saja tiba bersama Rendy, dia langsung menuju keruangan Andika dengan diantar oleh Lisa.
"Buatkan minum Lisa." Perintah Andika setelah Adrian duduk.
"Baik tuan."
Lisa pergi keluar ruangan Andika menuju pantry.
"Bagaimana dengan rencana kita?" Tanya Andika.
"Nanti Rendy akan menjelaskan."
"Duduklah Rendy." Tanpa menjawab Rendy kemudian duduk di sebelah Adrian.
"Sebentar." Andika menghentikan Rendy yang akan berbicara.
"Aku akan mengatakan kepada Lisa tentang penyebab kecelakaan Roy." Ucap Andika.
"Apa kamu yakin?" Tanya Adrian dibalas anggukan kepala oleh Andika.
"Bagaimana pun Lisa berhak tahu."
"Terserah kamu saja Andika."
Beberapa saat kemudian Lisa masuk kembali dengan membawa nampan yang berisi tiga cangkir minuman, dia kemudian meletakkan minuman diatas meja.
"Duduklah Lisa." Ucap Andika saat Lisa hendak keluar ruangan, Lisa kemudian duduk di sebelah Andika.
__ADS_1
"Ada apa tuan?"
"Ada yang ingin aku katakan mengenai Roy."
"Sudahlah tuan, saya sudah menerima kepergian Roy tuan." Ucap Lisa sambil menundukkan kepalanya.
"Harusnya aku yang saat ini terbaring dibawah tanah Lisa."
"Tuan." Lisa menatap Andika yang terlihat sendu "Semua sudah terjadi, kita doakan saja semoga Roy bahagia disana."
Mendengar ucapan Lisa membuat Andika tersenyum, Andika sangat merasa bersalah saat melihat Lisa terpuruk, kini Lisa sudah bisa tersenyum membuat hati Andika lega.
"Terimakasih Lisa." Andika menarik napas dalam-dalam "Aku hanya takut kamu menyalahkan ku." Lisa menggeleng "Tidak ada yang salah tuan."
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar." Lisa kemudian menunduk memberi hormat pada Andika dan Adrian.
"Bagaimana dengan Teddy?" Tanya Andika pada Rendy setelah Lisa keluar dari ruangannya.
"Saya sudah mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk mencari Teddy tuan." Rendy terlihat merasa bersalah "Tapi Teddy seakan hilang di telan bumi."
"Apa kau sudah meminta bantuan hacker untuk melacak keberadaan Teddy." Tanya Adrian.
"Bagaimana dengan Wibowo?" Tanya Andika.
"Dia masih menjalani rutinitas seperti biasa tuan."
Andika terdiam, dia sedang berpikir untuk mencari cara agar bisa menemukan Teddy.
"Aku ada ide." Adrian dan Rendy langsung menatap Andika.
"Jika kita tidak bisa menemukan Teddy biarlah Teddy yang akan menemukan kita."
"Maksudnya?" Andika menyeringai.
Andika kemudian menjelaskan rencananya pada Adrian dan Rendy, mereka akan memancing Teddy kembali ke Indonesia melalui Wibowo.
"Kita akan cilik Wibowo." Ucap Andika.
__ADS_1
"Wibowo akan dengan mudah bebas, jika kita tidak bisa menghilangkan nyawa Teddy setidaknya buat dia merasa kehilangan." Kata Adrian sambil tersenyum sinis.
"Aku memiliki rencana sekarang." Adrian mengembangkan senyum.
"Jelaskan." Pinta Andika.
"Teddy adalah anak manja yang selalu bergantung pada ayahnya, sebaliknya Wibowo sangat menyayangi Teddy."
"Jadi?"
"Kita akan buat Wibowo memilih antara kehilangan Teddy atau menukar nyawa Teddy dengan nyawanya." Andika diam mencerna ucapan Adrian.
"Hahahaha." Andika terbahak "Kamu memang benar-benar licik Adrian."
"Akhirnya kamu mengakui itu." Jawab Adrian dengan penuh kebanggaan.
"Kita langsung ke Wibowo group sekarang."
"Tentu saja Andika."
Mereka melangkah dengan senyum mengembang diwajahnya, rencana Adrian benar-benar luar biasa menurut Andika, dimana rencana itu akan membuat Teddy dan Wibowo hancur dalam waktu yang bersamaan.
Rendy mengemudikan mobil dengan perlahan, di belakangnya Adrian dan Andika sedang berbicara banyak hal perihal rencana balas dendam pada Teddy, mendengar hal itu Rendy tersenyum, dia tidak menyangka tuannya sangat menyayangi Roy lebih dari sekedar anak buah.
"Terimakasih tuan." ucap Rendy dalam hati sembari melihat Adrian dan Andika lewat spion tengah.
"Rendy."
"Iya tuan."
"Siapkan pistol untuk hadiah Wibowo." Perintah Adrian sembari menatap Rendy.
"Baik tuan."
"Amankan pistol itu jangan sampai ada yang bisa melacaknya nanti.'
"Iya tuan."
__ADS_1
Barang yang diminta Adrian selalu tersedia rapi di bagasi belakang mobilnya, karena bukan kali ini saja Rendy mendapat perintah seperti itu, dia selalu membawa senjata api yang benar-benar baru kemanapun mereka pergi karena itu akan berguna dalam keadaan darurat selain itu pistol milik Rendy tidak akan terlacak oleh siapapun karena Rendy menyiapkan secara khusus dengan memesan pistol di luar negeri, hal itu dia lakukan agar tidak meninggalkan jejak saat pistol digunakan nantinya.