SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
AKU SUDAH TAHU


__ADS_3

Satu Minggu berlalu


Andika sedang berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, dia dalam perjalanan menuju gedung Aras group, sudah beberapa kali Presdir Romy memanggilnya untuk bertemu tapi Andika selalu menghindar, hari ini Andika bersedia bertemu Presdir Romy setelah Adrian memberikan informasi bahwa sudah terjadi suatu kesepakatan antara Aras group dan Mahesa group.


Hubungan Andika dan Jeny pun terlihat tidak jelas, Jeny seakan lenyap ditelan bumi setelah terakhir kali Andika menemuinya di apartemen Jeny saat Andika menyatakan perasaannya, Andika sempat mencari tahu keberadaan Jeny sampai dia mendapatkan informasi dari Adrian bahwa Jeny sudah kembali pada Mahesa group.


Andika turun dari mobil setelah pintu terbuka, dia melihat Roy berdiri menyambutnya.


"Tuan sudah di tunggu di ruang Presdir Romy." Andika langsung berjalan meninggalkan Roy tanpa mengucapkan apapun.


Semua orang langsung melihat kearah pintu yang terbuka, di sama berdiri Andika dengan wajah dingin dan tatapan membunuh.


Presdir Romy dan Presdir Ferry menyambut kedatangan Andika dengan senyum sinis, sedangkan Jeny hanya menunduk melihat kedatangan Andika.


Adrian yang duduk sendirian di sofa langsung bergeser untuk memberi tempat duduk pada Andika.

__ADS_1


Andika langsung duduk di sebelah Adrian tanpa menunggu Presdir Romy mempersilahkan, Andika menatap satu persatu orang yang ada di situ, terlihat Chandra yang duduk di sebelah Presdir Romy sedang memasang senyum meremehkan, sedangkan Jeny yang duduk di sebelah Presdir Ferry terlihat gelisah.


"Apakah kau sudah tidak tahu diri Andika." Presdir Romy mulai berbicara, Andika hanya diam, dia menatap Presdir Romy dengan tatapan tajam, kemudian dia menyeringai seakan memberi pesan.


"Anda orang pertama yang akan hancur sebelum Mahesa group yang mulia."


Presdir Romy yang melihat tatapan mengancam dari Andika langsung membuang muka, kemudian Presdir Romy melihat kearah Presdir Ferry dan Adrian melihat, timbullah keberanian Presdir Romy.


"Hahahaha." Tawa keras dari Presdir Romy "kau memang orang yang tidak kenal takut, atau kau orang yang sangat bodoh hingga tidak tau sekarang dirimu sudah diambang kehancuran Andika."


"Nikmati hari anda yang mulia, tertawa lah yang keras sebelum tiba saatnya anda hanya bisa menangis."


"Hahaha aku tunggu saat itu tiba Andika."


Disaat Andika dan Presdir Romy saling berbicara dengan aura permusuhan, Presdir Ferry dan orang-orangnya hanya diam saja, sebelum Presdir Ferry tiba Adrian sudah memberi peringatan untuk tidak membuat masalah pada Andika, saat ini orang yang paling ingin Andika hancurkan adalah Presdir Romy.

__ADS_1


"Ckckck." Andika berdecak


"Senang rasanya melihat Mahesa group dan Aras group sudah bekerja sama, akan lebih mudah dan menghemat waktu dalam menghancurkan kalian." Jeny langsung menoleh kearah Andika, Andika yang sengaja berbicara seperti itu untuk memancing respon Jeny pun langsung menatap Jeny tajam, Jeny balik menatap Andika dengan tatapan tajam, Jeny berani menatap Andika karena dia melihat ada cinta di tatapan Andika walaupun ada juga rasa marah disana, Jeny dapat mengerti saat ini Andika sedang menatap Jenyca putri dari Presdir Ferry, bukan Jeny yang sudah mengungkapkan perasaan cintanya pada Andika.


"Kami ada penawaran untukmu Andika." Presdir Ferry akhirnya berbicara, Andika menoleh kearah Presdir Ferry, tatapannya berubah kembali, sekarang sangat terlihat tatapan penuh dendam dari Andika.


"Jadilah bagian dari kami dan nikmati hidupmu."


"Hahahaha." Andika tertawa sangat keras bahkan membuat terkejut hampir semua orang yang ada disitu.


"Jangan buang waktu anda untuk memberi tawaran yang bahkan anda sudah tahu jawabannya tuan Presdir." Andika memberi jeda, dia menatap semua orang satu persatu termasuk Adrian.


"Gunakanlah waktu kalian untuk berpikir bagaimana kalian akan melawanku nanti, karena semua rencana yang bahkan belum terpikirkan oleh kalian aku sudah tahu semuanya."


Andika langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Presdir Romy, sesaat dia menoleh kerah Jeny, disana Jeny terlihat sedang menatap Andika dengan tatapan bersalahnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Andika." Ucap Jeny tanpa mengeluarkan suara.


__ADS_2