
Jeny menatap Andika dengan tatapan sayu, nama Andika sudah mulai terukir dalam hati Jeny, ada rasa sedih yang Jeny rasakan setelah mengetahui masa lalu Andika.
Andika dan Jeny kembali terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, tanpa terasa mereka sudah sampai di kantor Andika.
"Pulang dan beristirahat lah nona."
"Terimakasih atas kerja kerasmu hari ini." Andika tanpa sadar mengelus kepala Jeny.
"Baik tuan." Jeny menunduk kemudian pergi meninggalkan Andika.
"Ah kenapa dia jadi lembut dan hangat begitu si." Gerutu Jeny sembari berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di halaman kantor Andika.
Jeny melajukan mobilnya perlahan lambaian tangan Andika melepas kepergiannya.
Tanpa Andika sadari dari dalam kantornya ada dua orang yang sedang memperhatikannya, satu dengan ekspresi datar sedangkan satunya dengan ekspresi tak percaya.
"Apa kamu melihat ada yang aneh pada tuan."
"Lisa." Deni terlihat kesal pada Lisa yang diam saja.
"Urusi pekerjaan mu jangan urusi hal yang tidak penting." Lisa berlalu meninggalkan Deni yang masih berdiri melihat Andika.
"Arrg tuan sudah mulai terlihat normal, kapan kamu akan normal Lisa." Deni berbicara sambil melihat punggung Lisa.
"Bagaimana pekerjaan mu?" Deni terkejut melihat Andika sudah berdiri di sebelahnya.
"Eh." Pekik Deni "Sudah hampir selesai tuan." Deni tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Selesaikan hari ini." Andika menatap Deni kemudian berlalu menuju ruangannya.
"Baik tuan." Jawab Deni setengah berteriak karena Andika sudah berjarak beberapa meter.
__ADS_1
- - -
"Hahaha." Suara tawa Presdir Romy menggema di ruangan nya, di depannya Jeny sedang berdiri sambil menundukkan kepala, dia baru saja melaporkan semua kegiatan Andika hari ini termasuk cerita masa lalu Andika.
"Akhirnya aku mengetahui satu celah dari dirimu ******** tengik Andika." Gumam Presdir Romy, dia kembali tertawa keras.
"Jeny."
"Saya tuan."
"Terus awasi dia, lakukan dengan rapi."
"Tuan Andika bahkan sudah tahu semuanya tuan, tapi entah kenapa dia hanya diam."
"Baik tuan."
"Satu lagi." Jeny mengangkat alisnya menunggu Presdir Romy bicara.
"Baik tuan." Jeny tertunduk untuk menghindari tatapan Presdir Romy.
"Pergilah."
Jeny berjalan meninggalkan ruangan Presdir Romy, dia berjalan sembari meremas tangannya memperlihatkan kegelisahan.
"Apa aku tertarik pada tuan Andika, tapi kenapa wajahnya selalu terbayang akhir-akhir ini, tidak tidak aku tidak boleh sampai jatuh cinta padanya." Gumam Jeny.
Jeny langsung menuju parkiran, dia bergegas melajukan mobilnya, Jeny ingin segera pulang ke apartemen nya, dia ingin beristirahat sejenak, sangat penat Jeny rasakan.
- - -
Andika sedang duduk di kursi kebesarannya, dia nampak melamun, sesekali senyum terlihat menyungging di wajahnya.
__ADS_1
"Oh Jeny apa semudah ini aku jatuh hati padamu." Gumam Andika dengan senyum lebar di wajahnya.
"Maaf tuan." Andika terkejut dengan kehadiran Lisa di depannya.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ Lisa." Tanya Andika dengan mimik wajah yang menunjukkan rasa keterkejutan.
"Kenapa tidak mengetuk pintu." Andika berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Apa dia mendengar aku menggumam." Ucap Andika dalam hatinya.
"Saya sudah mengetuk pintu tuan."
"Lantas kenapa aku tidak mendengar?" Lisa menatap Andika dengan tatapan aneh
"Mana aku tahu."
"Ada apa Lisa." tanya Andika melihat Lisa hanya diam, Lisa kemudian menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Andika.
"Ada yang perlu anda tandatangani tuan."
Andika langsung bergegas menandatangani semua berkas yang di berikan Lisa, Lisa menatap Andika tajam merasa ada keanehan dengan Andika.
"Ada lagi?" Tanya Andika melihat Lisa yang menatapnya.
"Tidak tuan, saya permisi." Lisa langsung keluar dari ruangan Andika.
"Tumben tuan tidak membaca dulu, biasanya dia sangat rewel dengan berkas yang akan dia tandatangani."
Lisa mengangguk sebelum menutup pintu ruangan.
"Huh untung dia tidak paham dengan cinta." Ucap Andika lega.
__ADS_1