SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
INI BUKAN MIMPI


__ADS_3

Lisa menatap wajah Roy untuk terakhir kalinya, dia berdiri mematung di samping peti jenazah Roy, tak ada air mata yang keluar dari kedua mata indah Lisa, dia tidak mau pandangan tidak jelas karena air mata, dia benar-benar ingin mengingat wajah Roy dan menyimpan di memory otaknya.


"Selamat jalan Roy." Air mata Lisa kembali menetes saat peti jenazah di turunkan kedalam liang lahat.


Banyak orang berpakaian serba hitam berdiri di sekitar pusara Roy, mereka adalah teman seperjuangan Roy dan Rendy dulu saat sama-sama di tempa dan bekerja di perusahaan keamanan.


Andika berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada, di sebelahnya ada Adrian dengan wajah yang mengguratkan kesedihan, pandangan mereka tidak pernah lepas dari seorang laki-laki yang berdiri tepat di belakang nisan Roy, dia adalah Presdir Ferry.


"Entah Kenapa aku merasa dia ada hubungannya dengan semua ini." Adrian berbicara pada Andika sambil menunjuk Presdir Ferry.


"Kita bicarakan nanti." Balas Andika yang diiyakan oleh Adrian.


Satu persatu orang meninggalkan pusara Roy setelah acara pemakaman selesai, beberapa dari mereka terlihat tertunduk dengan wajah sedih.


Rendy berjalan bersama Lisa mendekati Adrian dan Andika, langkah Lisa begitu berat sesekali dia menoleh kebelakang berharap ini semua hanya mimpi.


"Ini bukan mimpi Lisa." ucap Andika melihat Lisa yang terus menoleh kebelakang, Lisa kembali menangis mendengar ucapan Andika.


"Antar Lisa pulang, aku pulang bersama Andika." Perintah Adrian pada Rendy.


"Baik tuan." Tak seperti biasanya Rendy akan membantah ketika dia harus pergi tanpa Adrian, tapi mulai hari ini dia juga harus menjaga Lisa sesuai janjinya pada Roy.


Rendy dan Lisa langsung pergi meninggalkan Adrian dan Andika yang masih berdiri sambil menatap tajam Presdir Ferry.


"Aku berharap hubungan kita sedikit membaik setelah ini." Ucap Presdir Ferry sambil menatap Adrian dan Andika bergantian.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, hanya tatapan sinis yang diberikan oleh Adrian dan Andika.


Melihat respon Andika dan Adrian yang tampak acuh Presdir Ferry pun meninggalkan mereka, dia memang harus menghindari konflik kepada Adrian dan Andika saat ini karena Presdir Ferry benar-benar sendiri sekarang jika harus melawan mereka.


- - -


Rumah Lisa

__ADS_1


Mobil baru saja berhenti di depan rumah Lisa, Rendy menoleh ke arah Lisa yang terlihat masih diam sambil menghadap jendela.


"Lisa." Lisa hanya diam seakan tidak mendengar Rendy memanggil namanya.


"Lisa." Rendy memegang bahu Lisa.


"Oh maaf tuan." Lisa menghapus air mata di pipinya.


"Kita sudah sampai." Rendy langsung turun kemudian berjalan memutari mobil, dia membukakan pintu untuk Lisa.


"Mari ku bantu." Rendy memegang tangan Lisa untuk membantu Lis berjalan, tidak ada penolakan dari Lisa karena dia juga merasa tubuhnya sangat lemas.


"Terimakasih sudah mengantarku tuan.", Lisa sedikit menunduk pada Rendy.


"Sama-sama." Jawab Rendy masih berdiri di depan Lisa.


"Ada apa tuan?" Tanya Lisa karena Rendy tak kunjung pergi meninggalkan rumahnya.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan Lisa."


"Duduklah tuan, saya ganti baju dulu." Lisa masuk kedalam rumah sedangkan Rendy langsung duduk di kursi yang ada di teras rumah Lisa.


Beberapa menit kemudian Lisa keluar dari rumahnya sambil membawa nampan yang berisi minuman, dia kemudian duduk di sebelah Rendy.


"Silahkan tuan." Lisa menyodorkan gelas untuk Rendy.


"Terimakasih." Rendy menerima gelas itu dan langsung meminum air di dalamnya.


Rendy meletakkan gelas diatas meja, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong jas yang dia kenakan.


"Silahkan Lisa"


"Surat?" Ucap Jeny saat menerima sebuah amplop kecil berwarna merah dari Rendy.

__ADS_1


"Itu dari Roy, dia tulis beberapa hari lalu, Roy memberikan padaku saat pertemuan terakhir kita di pengadilan waktu itu. Jelas Rendy karena melihat wajah Lisa yang bingung.


"Saya permisi dulu Lisa." Rendy langsung berdiri.


"Tuan." Panggil Lisa sat Rendy baru melangkah beberapa meter.


"Bisakah tuan temani saya sebentar." Pinta Lisa.


Tanpa menjawab Rendy langsung balik badan kemudian melangkah kearah kursi yang tadi dia duduki.


"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."


"Apa saja Lisa." Ucap Rendy.


"Apa Roy tidak memiliki keluarga?"


Rendy tersenyum sejenak.


"Kami tidak memiliki siapapun di dunia ini selain tuan kami." Jawab Rendy yang membuat Lisa semakin bingung.


"Kami?" Ucap Lisa sambil menatap Rendy.


"Mungkin ada sesuatu yang belum Roy ceritakan pada mu, baiklah aku akan menceritakan hal itu sekarang." Lisa mengangguk mendengar ucapan Rendy.


Rendy dan Roy sudah sejak kecil berada di asrama perusahaan keamanan, mereka sudah dilatih untuk menjadi pengawal handal sejak kecil, perusahaan selalu merekrut orang yang hidup sebatang kara, karena alasan jika orang yang hidup sendiri tidak akan pernah merasa terbebani dalam menjalankan tugas apapun.


Lisa meneteskan air matanya kembali setelah mengetahui fakta bahwa Roy selama ini hidup sendirian.


"Lalu apakah kalian masih bekerja di perusahaan itu?" Rendy menggelengkan kepalanya.


"Perusahaan itu sudah ditutup oleh pemerintah beberapa tahun lalu." Jawab Rendy yang dibalas anggukan kepala oleh Lisa.


"Baiklah sekarang aku permisi dulu Lisa, hubungi kapan pun jika kamu membutuhkan bantuan." Rendy kemudian pergi meninggalkan Lisa setelah Lisa mengizinkan dirinya pergi.

__ADS_1


Lisa menatap nanar kepergian Rendy, setelah mobil Rendy sudah tidak terlihat lagi Lisa kemudian berjalan masuk kedalam rumah sambil memegang erat surat yang di berikan oleh Rendy barusan.


"Aku akan menyimpan ini Roy, aku akan baca jika suatu hari nanti ada seseorang yang sudah menggantikan dirimu di hatiku." Ucap Lisa dalam hati sembari melihat surat dari Roy.


__ADS_2