
Andika keluar dari ruangan dokter setelah mendengar ucapan basa-basi dari direktur rumah sakit, dia langsung menuju ke tempat Deni dan Lisa sedang menunggu.
"Bagaimana kondisi Jeny?" Tanya Andika pada Deni.
"Nona Jeny baru saja sadar tuan."
Andika yang akan beranjak mengurungkan niatnya karena melihat perubahan ekspresi Deni.
"Ada apa?"
"Sebaiknya tuan melihat sendiri dan bertanya pada dokter yang menangani nona Jeny."
"Tuan." Andika menghentikan langkahnya ketika mendengar Lisa memanggil namanya.
Lisa menatap Andika dengan tatapan nanar dan wajah yang di penuhi air mata, tanpa berpikir Andika langsung menghampiri Lisa.
"Maafkan aku Lisa." Ucap Andika penuh sesal, sedari tadi dia memang tidak memperhatikan kondisi Lisa.
"Saya mengerti tuan." Jawab Lisa " Bagaimana kabar Rendy?"
"Dia akan baik-baik saja." Ucap Andika berusaha menenangkan Lisa.
"Kenapa Rendy melakukannya tuan?" Andika langsung menatap Deni dengan tatapan tajam setelah mendengar ucapan Lisa.
"Saya tidak bisa berbohong pada Lisa tuan." Ucap Deni dengan suara lirih sambil menunduk karena melihat tatapan tajam Andika.
"Nanti akan aku jelaskan Lisa." ucap Andika dengan tatapan lembut "Percayalah Rendy orang baik, semua ada alasannya."
"iya tuan." jawab Lisa
"Siapkan dirimu, kita akan bebaskan Rendy secepatnya." Lisa mengangguk.
"Deni."
"Iya tuan."
"Antar Lisa pulang."
"Saya bawa mobil tuan." kata Lisa.
"Baiklah, kalau begitu pulanglah, siapkan tenaga mu untuk membela Rendy nanti."
Lisa mengangguk mendengar ucapan Andika, bagaimana pun dia tahu saat ini Andika sedang menghadapi masalah yang berat, Andika harus memikirkan keselamatan Adrian, kondisi Jeny dan kebebasan Rendy dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Saya permisi tuan."
"Hati-hati di jalan."
Lisa berlalu meninggalkan Andika dan Deni.
"Ikut aku keruangan Jeny dirawat."
"Tapi bagaimana dengan tuan Adrian?"
"Dia sedang berada di ruang operasi, dia tidak akan pergi kemana-mana." Ucap Andika sedikit bergurau.
"Baiklah tuan." Deni tersenyum sambil mengikuti langkah Andika, dia tahu Andika sedikit bergurau untuk mengurangi ketegangan.
Andika memasuki ruang perawatan Jeny, terlihat Bu Lilis sedang duduk di sebelah ranjang pasien, tangannya terus menggenggam tangan Jeny, air mata terus mengalir membasahi wajahnya.
"Bu Lilis." Mendengar ada suara yang memanggil fokus Bu Lilis teralihkan.
"Tuan Andika." Bu Lilis menundukkan kepalanya melihat kehadiran Andika.
"Bagaimana kondisi Jeny?"
"Non Lita tadi sempat sadar tapi kemudian dokter memberikan obat penenang." Jawab Bu Lilis, dahi Andika mengerut mendengar Bu Lilis menyebut nama Lita.
"Ibu jaga Jeny dulu, Andika ingin menemui dokter dan membereskan masalah yang ada."
"Baik tuan."
"Tuan." ucap Bu Lilis ragu ketika Andika akan keluar.
"Ikut Deni jika ibu ingin melihat pemakaman ayah Jeny." kata Andika seakan mengerti apa yang akan di tanyakan Bu Lilis.
"Ba.. baik tuan." Bu Lilis tergagap dia tidak menyangka Andika menjawab tepat dengan apa yang ada di pikiran Bu Lilis.
Bu Lilis masih menatap Andika seakan ada hal lain yang ingin dia tanyakan.
"Lebih baik ibu tidak mengetahui apapun saat ini, itu lebih baik." Andika berbicara dengan suara dingin yang membuat Bu Lilis langsung menunduk, Bu Lilis tidak mengetahui apa yang terjadi karena saat kejadian dia sedang tidak berada di rumah Adrian.
Andika keluar dari ruang perawatan Jeny bersama Deni untuk menemui dokter yang menangani Jeny.
- - -
Andika dan Deni sedang duduk di kursi tunggu depan ruang operasi Adrian, dia baru saja menemui dokter yang menangani Jeny.
__ADS_1
"Pasien mengalami guncangan hebat yang mempengaruhi kondisi mentalnya, akan butuh waktu cukup lama untuk mengembalikan kondisi pasien, ada kemungkinan pasien mengalami depresi bahkan gangguan jiwa."
Ucapan dokter terus mengiang di kepala Andia, dia tidak bisa membayangkan akan seperti ini kejadiannya.
"Jeny, maafkan aku Jeny." Ucap Andika dalam hatinya.
"Tuan." Deni memberanikan diri berbicara pada Andika.
"Tuan." Deni kembali memanggil nama Andika karena tidak ada respon dari panggilan sebelumnya.
Andika mengangkat wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Andika dengan suara lirih.
"Polisi sudah selesai melakukan autopsi pada jasad tuan Ferry."
"Deni."
"I... Iya tuan."
"Kamu urus pemakaman Ferry."
"Baik tuan."
"Urus perusahaan kedepannya, kamu orang kepercayaan Ferry terakhir, Jeny tidak mungkin bisa kembali bekerja dalam waktu dekat."
"Baik tuan."
Deni mulai beranjak meninggalkan Andika.
"Deni."
"Saya tuan." Deni membalikan badannya, dia langsung ketakutan ketika melihat tatapan tajam Andika.
"Kunci rapat-rapat mulutmu atau aku yang akan menguncinya."
"Tidak perlu anda mengancam tuan, saya tidak akan berani membuka mulut." Ucap Deni dalam hatinya.
"Baik tuan."
"Pergilah."
Andika kembali termenung, ingin rasanya dia menyerah, Andika tidak dapat membayangkan jika Adrian pergi saat ini dan Jeny menjadi seseorang sesuai dengan ucapan dokter.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerah." Ucap Andika menyemangati dirinya sendiri setelah mengingat semua hal tentang Jeny, Adrian, Rendy, Lisa dan Roy.