
Andika baru saja turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam gedung Aras group, Jeny berjalan mengikuti Andika dari belakang.
Hari ini Andika akan bertemu Presdir Romy, Andika sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh Presdir Romy, tak lain adalah perihal kebebasan Chandra.
"Silahkan duduk Andika." Presdir Romy berdiri dari kursi kebesarannya menuju sofa.
"Ada apa yang mulia." Andika mulai membuka pembicaraan.
"Kau pasti sudah tahu alasan kenapa kau ada disini Andika." Presdir Romy menatap tajam Andika.
"Tidak mudah membebaskan putra mahkota saat ini."
"Kenapa?" Ucap Presdir Romy geram.
"Anda pasti sudah tahu alasannya."
"Tidak usah berputar-putar Andika, langsung saja jelaskan."
Jeny hanya duduk diam di sebelah Andika, dia bahkan menundukkan kepalanya mendengar perbincangan antara Andika dan Presdir Romy.
"Anda pasti sudah tahu kunci kebebasan putra mahkota dipegang oleh siapa saat ini."
"Ferry?" Tebak Presdir Romy
__ADS_1
Andika menggeleng yang membuat Presdir Romy mengerutkan dahinya.
"Adrian." Andika tersenyum melihat ekspresi terkejut dari Presdir Romy, tentu saja Presdir Romy tak menyangka jika Adrian memegang satu kelemahan nya, dia hanya berpikir Mahesa group yang ada dibalik ini semua ternya ada seorang musuh besar yang tidak Presdir Romy perhitungkan dan dia berdiri di sebelah Mahesa group.
"Brengsek." Maki Presdir Romy
"Bagaimana bisa aku tidak memperhitungkan keparat yang selalu menjadi pembisik Ferry." Jeny melirik Andika kemudian dia langsung membuang muka ketika Andika menoleh dan tersenyum kearahnya.
"Jadi ini alasan kemarin tuan Andika menemui Adrian." Ucap Jeny dalam hati
"Bagaimana Andika, apa kamu sudah tak sehebat dulu?" Presdir Romy tersenyum meremehkan kearah Andika.
"Hahahaha." Andika tergelak
"Berapa yang dia mau?" Presdir Romy tersenyum sinis, dia memang memiliki segalanya sehingga apapun kemauan Adrian mungkin bisa dia bayar.
"Hahaha." Andika kembali tergelak "Anda yakin akan memberikan apa yang Adrian mau yang mulia?"
"Memang apa yang dia mau, apa dia mau mengambil seluruh aset perusahaan." Ucap Presdir Romy dengan nada tinggi.
"Lebih dari itu." Presdir Romy mendongakkan kepalanya bertanya pada Andika.
"Apa anda mau mendengarnya?" Andika sepertinya berhasil memancing emosi dari Presdir Romy.
__ADS_1
"Katakan saja!"
"Semoga anda tidak terkejut mendengarnya." Andika tersenyum di depan Presdir Romy yang terlihat sangat emosi.
"Hidup anda." Bukan hanya Presdir Romy yang terkejut tapi Jeny yang sedari tadi diam langsung terpekik mendengar ucapan Andika, Jeny menatap Andika dan Presdir Romy secara bergantian.
"Brengsek."
"Gila."
"Kurang ajar."
Makian terus keluar dari mulut Presdir Romy, dia terus mengutuki Adrian, sedangkan Andika hanya tersenyum sinis saja melihat Presdir Romy.
"Sekarang semua ada ditangan yang mulia, pikirkan baik-baik." Andika beranjak dari duduknya.
"Saya permisi dulu yang mulia." Andika berjalan meninggalkan Presdir Romy yang masih duduk diam dengan napas yang memburu.
"Jeny." Panggil Andika yang melihat Jeny masih duduk termenung. Jeny langsung berdiri dan berjalan mengikuti Andika setelah berpamitan dengan Presdir Romy.
Andika keluar dari gedung Aras group, Andika berdiri di depan loby menunggu mobilnya datang, Jeny berdiri si samping Andika, dia hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jangan pikirkan apa yang tidak layak nona pikirkan." Ucap Andika melihat Jeny diam termenung.
__ADS_1