
Andika masih berdiri kaku menatap kepergian Adrian, dia tidak menyangka semua yang dia lakukan akan berakhir seperti ini, di belakangnya Rendy merasakan hal yang sama, tidak ada niatan jelek mereka kepada Adrian tapi kesalahpahaman lah yang terjadi saat ini.
"Rendy" panggil Andika sembari berjalan mendekati Rendy.
"Coba kau temui Adrian, usahakan kau bisa menjelaskan semuanya pada Adrian" perintah Andika yang langsung di sanggupi pleh Rendy.
"Pergilah sekarang, kita tidak boleh membiarkan masalah ini terlalu berlarut larut".
Setelah kepergian Rendy, Andika duduk di atas kursinya, pandangannya menatap ruang hampa di sekitarnya, entah krnapa tiba tiba dunia Andika terasa begitu hampa setelah Adrian salah paham dengan dirinya, Andika sangat mengenal Adrian akan susah sekali meyakinkan Adrian untuk percaya lagi kepadanya.
"Bagaimana Adrian bisa tahu" ucap Andika dalam lamunanya "Pasti dokter Rani". pikiran Andika langsung tertuju kepada dokter Rani, karena hanya dokter Rani yang bisa membuat ini semu, Andika yakin tidak mungkin dokter Hendra bisa membuat Adrian semarah itu, Adrian adalah orang yang tidak mudah percaya dengan orang yang tidak dia kenal, kecuali dia telah berjasa dalam hidup Adrian.
--------
Rumah Adrian
Ketegangan langsung terjadi ketika Rendy datang, walaupun dalam cerita Dion tidak pernah sekalipun dia menyebut nama Rendy tapi Adrian yakin pasti Rendy tahu semuanya.
"Kau membalasku dengan semua ini Rendy?" ucap Adrian dengan marah "Kau membalas orang yang telah memeliharamu dengan cara seperti ini" bentak adrian sembari mengucapkan kalimat merendahkan Rendy.
"Maafkan saya tuan" tidak ada kata lain yang bisa Rendy berikan selain kata maaf, karena jika Rendy ingin menjelaskan juga percuma, Adrian tidak akan mempercayainya.
__ADS_1
"Pegilah dari sini, kau sudah tak di terima di sini" Rendy hanya diam sekeras apain Adrian membentaknya.
Bug...
Suara pukulan terdengar lumayan keras ketika tinju dari Adrian mendarat tepat di perut Rendy.
Prak....
Kali ini kepala Rendy tidak luput dari sasaran amukan Adrian, sekeras apapun Adrian mencoba memukul bahkan menendang Rendy tapi tak sekalipun tubuh Rendy bergeser, dia tetap diam dan menunduk di depak tuannya.
Keributan yang terjadi memancing dokter Rani keluar, melihat darag segar mengucur dari pelipis Rendy dengan sigap dokter Rani ingin membatu.
"Tak usah ikut campur Rani" ucap Adrian dingin yang membuat dokter Rani mengurungkan niatnya.
"Apakah kamu akan berhenti saat Rendy sudah tak bernafas? dokter Rani yang sudah tidak tahan akhirnya memberanikah diri untuk bersuara.
"Bukankah dia orang yang selalu ada di depanmu ketika kamu sedang ada masalah?" lanjut dokter Rani dengan deru nafas yang memburu.
"Apakah kamu akan membunuhnya saat ini?" tanya dokter dengan berapi apai.
"Jangan ikut campur Rani, aku begini karena kamu" ucap Adrian sembari menatap dokter Rani dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah" dokter Rani kemudian berjalan ke arah dapur, dia terlihat mengambil sesuatu dari dapur.
"Gunakan ini jika kamu memang akan membunuhnya" dokter Rani menyrrahkan pisau kepada Adrian "Jangan siksa dia" kali ini tatapan mata dokter Rani menyiratkan kemarahan.
Walau bagaimanapun Rendy selalu berperilaku baik terhadap dokter Rani, perpisahan antara Adrian dan dokter Rani juga bukan Rendy penyebabnya, walau Rendy mengetahui itu tapi dokter Rani yakin semua yang Rendy lakukan demi Adrian dan sudah terbukti kini Adrian sudah menjalani hidup dengan normal seperti sedia kala.
"Lakukan" teriak dokter Rani "Lakukan sekarang Adrian" lengkingan suara dokter Rani sangat terdengar nyaring sehingga membuat Adrian tanpa sadar menjatuhkan pisau yang dia genggam.
Setelah Adrian nampak tenang dan dokter Rani telah selesai mengobati luka Rendy kini mereka bertiga tengah duduk di ruang tengah.
"Apa maumu?" tanya Adrian tanpa melihat ke arah Rendy.
"Tuan Andika ingin menemui tuan untuk menjelaskan semuanya.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan" potong Adrian sebelum Rendy menyelesaikan ucapannya.
Rendy terus mencoba untuk bernegosiasi dengan Adrian, jika mrmang Adrian tidak mau bertemu Andika setidaknya dia mau mendengar penjrlasan dari Rendy.
Adrian masih terus dengan pendiriannya dia tidak mau mendengar apapun dari Rendy, berkali kali Rendy mencoba berkali kali pula Adrian menolak.
"Baiklah tuan" dari suara Rendy dapat terdengar dia sudah putus asa untuk mencoba meyakinkan Adrian.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pergi, tapi kapan tuan membutuhkan saya jangan sungkan untuk menghubungi saya" Rendy berdiri "Saya masih Rendy yang dulu, dan tuan Adrian akan selalu menjadi tuan Adrian yang saya kenal" Rendy pergi meninggalkan rumah Adrian, dengan air mata yang keluar dari ujung matanya tanpa Rendy sadari, ini adalah kejadian yang menyakitkan bagi Rendy setelah kepergian Roy dulu yang mampu membuat dirinya menitihkan air mata.