SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
PENGACARA VS PENGKHIANAT


__ADS_3

Andika dan Adrian berpisah diparkiran mereka memasuki mobil masing-masing, Adrian sangat puas melihat kehancuran musuh besarnya, hari yang sudah lama dia tunggu untuk membalaskan dendam kekasihnya.


"Aku sudah membalasnya sayang, semoga kamu ikut tersenyum disana." Adrian menatap foto kekasihnya, dia menitihkan air mata mengingat waktu kebersamaan mereka dulu.


"Tuan." Rendy memberikan selembar tisu pada Adrian yang sudah mulai terisak.


"Nona pasti ikut senang di sana tuan." Rendy seakan bisa merasakan kepedihan dari Adrian, Rendy melajukan mobilnya dengan perlahan, suara Isak tangis Adrian terdengar begitu menyayat hati, sosok Adrian yang terlihat sangat ramah dan selalu bisa mencairkan suasana dengan leluconnya hari ini terlihat sangat rapuh.


"Ke makam Tyas." Suara Adrian terdengar begitu berat.


"Baik tuan." Rendy melajukan mobilnya ke tempat dimana kekasih Adrian sudah beristirahat selama-lamanya.


Adrian berjalan dengan langkah gontai, tangan kanannya memegang buket bunga mawar putih, bunga yang sangat di sukai sang kekasih semasa hidupnya.


"Aku datang sayang." Adrian mengelus nisan Tyas.


"Maaf aku baru bisa menjenguk mu setelah sekian lama."


"Aku telah membayar sumpahku padamu." Adrian mulai terisak, dia duduk bersimpuh di sebelah makam kekasihnya.


"Apa kabarmu disana?" Rendy beberapa kali menengadahkan kepalanya, dia yang selalu terlihat dingin, hari ini ikut menjadi rapuh seperti tuannya.

__ADS_1


"Apa kamu merindukanku, sama seperti aku merindukan mu sayang?" Air mata mengalir deras membasahi pipi Adrian.


"Tunggu aku mengusul mu nanti sayang." Adrian kemudian hanya diam, beberapa kali dia mencium nisan kekasihnya seakan dia sedang menumpahkan kerinduannya.


"Tuan." Rendy memegang pundak Adrian.


"Nona sudah tenang disana, mari kita pulang." Rendy sudah hapal jika Adrian akan duduk lama sekali di makam Tyas, Rendy lah yang selalu mengajak pulang Adrian jika dia rasa sudah cukup Adrian berada disana.


Adrian melangkah dengan di papah Rendy, sesekali dia menoleh ke belakang seakan tidak rela meninggalkan kekasihnya sendirian.


Rendy menyalahkan mesin mobil dan menghidupkan AC, dia masih diam saja tidak melajukan mobilnya, Rendy masih menunggu Adrian bisa menguasai dirinya lagi.


"Jalan." Suara Adrian yang sudah terdengar normal membuat Rendy melajukan mobilnya, terjadi keheningan di dalam mobil, Adrian terus menatap jendela mobilnya, sesekali dia melirik wajah Rendy yang terlihat gelisah.


"Silahkan tuan." Rendy memberikan beberapa lembar foto kepada Adrian, Adrian memperhatikan foto yang diberikan Rendy dengan seksama, dia menatap tajam setiap wajah yang ada di dalam foto.


"Wibowo kau yang mulai menabuh genderang perang." Gumam Adrian sembari meremas foto itu.


"Rendy."


"Iya tuan."

__ADS_1


"Nanti malam Wibowo mengundangku dan Andika untuk makan malam, bagaimana menurutmu?"


"Tuan Ferry dan tuan Wibowo akan secara terang-terangan mengajak anda dan tuan Andika berperang."


"Seret pengkhianat itu nanti ke acara makan malam, mari kita buat kejutan disana." Adrian menyeringai.


"Semua sudah diatur oleh Roy tuan."


"Maksudnya?" Adrian terkejut mendengar nama Roy di sebut.


"Roy yang memberikan informasi tentang pengkhianat itu kepada kita tuan." Adrian menatap tajam Rendy.


"Pantas mereka selalu bisa mengawasi semua pergerakan Andika."


"Apa Andika sudah tahu?"


"Belum tuan."


"Beritahu Roy untuk tidak memberitahu Andika."


"Baik tuan."

__ADS_1


Adrian tidak ingin Andika tahu lebih dulu karena dia yakin Andika bisa membunuh orang yang telah melakukan pengkhianatan itu, orang yang selama ini terlihat manis di depan Andika ternyata duri dalam daging.


"Kita lihat siapa yang akan menang ketika pengkhianat berurusan dengan pengacara." Adrian tersenyum membayangkan Andika yang akan menghancurkan Mahesa group tanpa harus dibujuk olehnya.


__ADS_2