SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
KENCAN 2


__ADS_3

Mobil melaju menuju restauran tempat Andika akan mengajak Jeny untuk makan siang bersama, Jeny ingin sekali bertanya tujuan mereka namun dia masih merasa sungkan untuk mengajak bicara Andika lebih dulu.


Jeny sesekali melihat ke arah Andika yang sedang fokus mengemudikan mobil, dia melihat senyum di wajah Andika yang membuat Jeny ikut tersenyum.


"Anda terlihat lebih tampan tuan, tidak semenyeramkan sebelumnya melihat senyum anda."


"Nona."


"Apa dia tahu apa yang aku pikirkan." Pikir Jeny panik


"Iya tuan."


"Apa yang anda kerjakan dari pagi?" Andika menoleh ketika berbicara pada Jeny.


"Ah syukurlah." Jeny menghembuskan nafas lega.


"Saya hanya bersantai di apartemen menikmati hari libur yang jarang saya dapatkan tuan."


"Apa yang mulia sekejam itu?"


"Maksud tuan?" Tanya Jeny panik.


"Jarang memberimu hari libur." Andika tersenyum kearah Jeny.


"Ah tidak tuan, saya yang mencintai pekerjaan saya." Jeny menjawab dengan senyuman di wajahnya.


"Wah nona luar biasa." Jeny tersipu "sangat menyenangkan memiliki karyawan yang berdedikasi tinggi." Tawa Andika menggema.


"Hahaha, awalnya memang berat tuan, tapi ternyata cukup menyenangkan untuk membunuh rasa bosan dengan bekerja." Jeny terlihat lebih santai sekarang.


"Jika dari awal aku tahu nona sangat suka dengan pekerjaan, aku tidak akan memberi nona hari libur."


"Hahaha, dengan senang hati saya akan menerima perintah tuan."

__ADS_1


Mereka terus melanjutkan obrolan, suasana semakin mencair, tembok pembatas yang selama ini ada diantara Andika dan Jeny hari ini seperti benar-benar runtuh.


Setelah beberapa menit mobil akhirnya sampai di tujuan, Andika memarkirkan mobil Jeny di depan sebuah restauran mewah.


"Tunggu." Andika menahan tangan Jeny ketika dia hendak membuka pintu, Andika kemudian langsung turun dan berlari memutari mobil.


"Silahkan nona." Andika membuka pintu dan membungkuk yang membuat Jeny tersenyum.


"Kenapa anda jadi sangat romantis tuan."


"Terimakasih tuan." Jeny tersenyum kemudian turun dari mobil.


Andika berjalan beriringan dengan Jeny, dia kemudian mempersilahkan Jeny masuk terlebih dahulu ketika pintu sudah terbuka.


"Reservasi atas nama Andika." Pelayan kemudian mengantarkan Andika dan Jeny menuju meja yang telah dipesan sebelumnya.


Andika meminta Jeny untuk menuju meja terlebih dahulu, Andika kemudian mengirim pesan pada Deni untuk menelponnya sesuai dengan rencana mereka.


"Mungkin seben...." Ponsel Andika berbunyi sebelum dia menyelesaikan bicaranya.


"Halo."


"Saya sudah berada di restauran."


"Oh begitu, baiklah tidak papa."


"Tenang saja."


"Nanti staf saya akan menghubungi anda."


Andika berpura-pura berbicara dengan kliennya, padahal Deni yang baru saja menelponnya.


"Ada apa tuan?" Tanya Jeny melihat ekspresi wajah Andika.

__ADS_1


"Klien baru saja mengabari ada halangan." Jawab Andika pura-pura kesal.


"Lalu?"


"Dia tidak bisa datang."


Jeny sesaat menatap Andika kemudian dia menatap hidangan yang baru saja datang.


"Kita pergi saja." Andika sudah berdiri dari duduknya, Jeny terlihat ragu menerima ajakan Andika, dia menatap makanan yang sudah terhidang.


"Tuan." Andika menoleh.


"Apa tidak sebaiknya kita makan dulu, makanan sudah di hidangkan." Jeny memberanikan diri untuk bicara, Andika menatap Jeny sesaat.


"Kita akan terlihat seperti berkencan nona." Andika tetap berdiri, dia berusaha menahan senyum.


"Hahaha, anggap saja kita memang berkencan tuan." Jeny tidak bisa menahan tawa melihat wajah Andika yang menahan senyum.


"Baiklah, hari ini kita berkencan nona." Andika kembali duduk dan menyantap makanan.


Andika dan Jeny menyantap makanan mereka di selingi beberapa obrolan, Jeny sesekali terlihat tertawa mendengar gurauan Andika.


Setelah selesai makan Andika meminta Jeny untuk langsung mengantarnya ke kantor, Andika seakan tidak bisa berpikir jernih ketika berada di dekat Jeny, dia masih ingin mengajak Jeny untuk jalan-jalan tapi rencana yang diberikan oleh Deni hanya sekedar mengajak Jeny makan siang bersama.


"Terimakasih nona." Andika turun dari mobil Jeny.


"Sama sama tuan." Jeny berpindah ke belakang kemudi.


"Terimakasih atas makan siangnya." Jeny tersenyum sangat manis.


Andika melambaikan tangan mengantar kepergian Jeny


"Aku dapat melihat senyum tulus di wajahmu nona, entah kenapa aku tidak bisa menerima fakta tentang mu, biarlah Tuhan yang menentukan semuanya." Gumam Andika lalu melangkah masuk ke dalam kantornya.

__ADS_1


__ADS_2