SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
Berjanjilah


__ADS_3

Setelah penggeledahan di rumah Adrian selesai, beberapa anggota polisi nampak sedang berbenah untuk membereskan barang mereka, Andika tengah duduk bersama kepala tim yang memimpin penggeledahan.


"Silahkan tanda tangah di sini" pinta kepala tim sembari menyerahkan secarik kertas pada Andika.


Terdapat rincian barang apa saja yang di sita oleh tim penggeledah, antara lain pistol dan beberapa obat obatan saat Adrian sakit dulu, ada juga resep yang di tulis oleh dokter Hendra, semua bukti dengan kuat mengearah pada Adrian, Andika pun menyadari jika dari bukti tersebut secara tidak langsung menunjukkan jika Adrian memiliki motif untuk melakukan penculikan dan pembunuhan.


"Apa kalian sudah melakukan olah TKP" tanya Andika setelah selesai menandatangi dokumen tersebut.


"Sudah" jawab kepala tim singkat, "Lalu?" tanya Andika yang ingin tahu lebih rinci, "Terdapat sidik jari tersangka di beberapa tempat" jawabnya.


"Untuk kepemilikan rumah tempat kejadian?" tanya Andika yang ingin mendapatkan informasi lebih rinci "Kami sudah mengecek, atas nama almarhum orang tua tersangka".


Pernyataan dari kepala tim semakin membuat Andika tercengang, dia tidak menyangka jika Dion sudah mengatur sebuah drama yang luar biasa, bahkan Andika tidak mencurigai jika Dion akan berfikir sejauh itu.


Setelah seluruh tim penggeledah pergi, Andika kemudian berpesan kepada penjaga agar lebih waspada dan jangan membiarkan siapapun masuk ke dalam termasuk dokter Rani, dalam pikiran Andika sedikit mencurigai dokter Rani.


 


Kantor A&A Law Firm


Andika baru saja tiba di kantornya, setelah bertanya pada resepsionis kantor tentang keberadaan Lisa dan dokter Rani kemudian dia langsung menuju ke ruangan yang pernah di pakai oleh Adrian.


"Ehem" Andika berdehem untuk menarik perhatian Lisa dan dokter Rani saat masuk ke dalam ruangan, terlihat Lisa tengah sibuk untuk menenangkan dokter Rani.


"Andika" dokter Rani langsung menghapus air mata yang telah membasahi wajahnya, Lisa sedikit memberi informasi tentang apa yang terhadi tapi belum menjawab semua pertanyaan dokter Rani.

__ADS_1


"Aku mohon bantu Adrian" Andika seketika menatap tajam Lisa, seakan berkata "Harusnya kau jaga mulutmu" Lisa yang merasa di tatap oleh tuannya langsung mengucapkan kata maaf tanpa bersuara.


"Tanpa kau meminta aku pasti akan melakukan itu" Andika kemudian duduk di depan Lisa dan dokter Rani "Sebelumnya aku ingin tahu apa yang terjadi denganmu, Adrian dan Dion" Sambungnya.


Dokter Rani kemudian menceritakan semuanya, mulai dari pertemuannya dengan Dion dan juga ancaman Dion kepada dirinya.


"Bodoh" hardik Andika "Kenapa kau sebodoh itu Rani" Andika mengusap wajahnya dengan kasar.


Dokter Rani tidak dapat berbicara, dia semakin takut setelah mendengar Andika membentaknya dengan sangat keras.


"Apakah tuan tidak bisa berbicara dengan baik" Lisa yang sudah tidak tahan melihat dokter Rani semakin terpukul akhirnya berani berbicara lantang dengan Andika "Saat ini anda harus jadi seorang pengacara dari keluarga tuan Adrian, bukan sebagai sahabatnya" suara Lisa tak kalah tinggi dengan Andika, hal itu membuat Andika terkejut dan merasa sedikit takut dengan Lisa saat ini.


"Baiklah baiklah, kau jangan emosi" Andika berusaha meredakan emosi Lisa yang terlihat sudah sampai di puncaknya, memang ketika wanita sudah emosi siapa saja wajib takut kepadanya.


Setelah situasi sudah lebih kondusif Andika melanjutkan pembicaraan mengenai Dion.


"Aku ikut Andika" langkah Andika terhenti, dia kemudian menoleh ke arah dokter Rani yang barusan berbicara.


"Lebih baik kau tetap di sini" perintah Andika, tatapan memohon yang di tunjukkan oleh dokter Rani serta tatapan intimindasi dari Lisa membuat Andika mengalah.


"Tapi kau tidak boleh menunjukkan wajah sedih di depan Adrian" dokter Rani mengangguk menyanggupinya, "Ganti dulu pakaianmu, kau harus tampil baik" dokter Rani sedikit bingung karena dia tidak membawa apapun ketika di jemput Lisa.


"Aku sudah membawakan pakaianmu" ucap Andika sembari melirik ke arah koper yang ada di sebelahnya "Mulai hari ini kau tinggal bersama Lisa di rumahnya sampai semua masalah ini selesai, dan jangan datang kerumah kalian".


Tanpa membantah dokter Rani kemudian meraih koper itu dan membawa ke dalam kamar tidur yang terdapat di dalam ruang kerja Adrian.

__ADS_1


 


Rumah tahanan kepolisian


Andika diam sembari pendangannya menatap jauh, masalah seakan tidak pernah selesai menghantui kehidupannya, di sebelehnya terlihat Lisa yang sedang berbisik kepada dokter Rani, "Anda harus tenang dokter, ingat pesan tuan Andika" dokter Rani menarik nafas dalam berusaha mengendalikan dirinya.


"Cilent anda sudah menunggu, silahkan" ucap petugas mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan yang telah terdapat Adrian di dalamnya.


Dokter Rani langsung berlari ketika melihat adrian tengah duduk menggunakan beju tahanan, dia seakan melupakan semua perintah Andika.


Lisa bermuka masam melihat itu, apalagi setelah melihat wajah Andika yang sudah mengeras.


"Tuan Adrian" Lisa menyapa Adrian yang tengah memeluk dokter Rani yang sedang menangis.


"Waktu kita terbatas" Andika mengingatkan pasangan suami istri itu tentang tujuan mereka bertemu saat ini.


Mereka kemudian duduk di kursinya masing masing, tanpa banyak basa basi Andika langsung bertanya tentang hal hal yang menurutnya bisa mematahkan semua tuduhan pada Adrian.


"Waktu kunjungan sudah habis" penjaga penjara mengingatkan kepada mereka.


Setelah membereskan beberapa kertas yang berisi catatan yang Andika buat mereka kemudian berdiri hendak pergi dari ruangan itu.


"Andika aku mohon jaga istriku sampai aku keluar dari sini" Andika diam menatap Adrian yang dari raut wajahnya jelas terlihat ke khawatiran.


"Bejanjilah" pinta Adrian, Andika yang sudah tidak tahan Akhirnya memeluk Adrian "Aku berjanji akan menjaga istrimu dan membebaskan mu secepatnya" Bisik Andika sembari memeluk Adrian dengan erat.

__ADS_1


** Jangan lupa mampir ke novel terbaru Author ya AKU BUKAN PILIHAN


__ADS_2