
Satu bulan sudah Adrian menikah dengan dokter Rani, dia menjalani hari-harinya dengan bahagia, meskipun Adrian belum bisa berjalan seperti semula namun perlahan dia sudah bisa mulai menggerakkan kakinya.
Hari ini Andika berencana akan mengajak Adrian untuk menjalani terapi di rumah sakit lain, karena Andika merasa ada sesuatu yang tidak beres melihat perkembangan Adrian yang seakan tidak ada kemajuan.
Dokter Rani sedang keluar kota untuk menghadiri acara seminar kedokteran yang tidak bisa diwakilkan, Andika mengambil kesempatan ini untuk memeriksakan kondisi Adrian di tempat lain, beberapa kali Andika mencoba tapi selalu di tolak oleh dokter Rani dengan alasan harus dokter yang menangani Adrian dari pertama karena dokter itu yang paling paham dengan kondisi Adrian.
"Kita mau kemana?" tanya Adrian setelah mobil melaju kearah yang berbeda dengan rumah sakit tempat Adrian biasa terapi.
"Kita mau kerumah sakit lain."
"Kenapa?" Adrian bingung dengan maksud Andika.
"Aku hanya ingin mencoba memeriksakan kondisi mu di rumah sakit lain."
"Bukankah Rani melarangnya."
"Sudahlah ikut saja, ini untuk kebaikanmu."
Adrian akhirnya diam, tidak lagi protes dengan tindakan Andika, dia melihat raut wajah serius Andika dan Adrian yakin ada maksud tertentu Andika melakukan hal itu.
Mobil berhenti di depan lobby rumah sakit, Rendy langsung turun kemudian membukakan pintu mobil untuk Andika dan Adrian setelah itu dia berlari ke bagasi untuk mengambil kursi roda.
- - -
"Bagaimana kondisi Adrian dok?" tanya Andika setelah Adrian selesai menjalani terapi.
"Sejauh ini kondisinya sangat bagus, tiga bulan kedepan pasien sudah bisa mulai berjalan walau dengan bantuan tongkat." jelas dokter yang membuat Andika tersenyum.
"Kenapa waktu kesembuhan Adrian meleset jauh dari perkiraan dokter dulu?"
"Untuk itu harus dilakukan tes lebih mendalam, karena jika di lihat dari hasil terapi syaraf pasien sudah mulai berfungsi dengan baik, seharusnya pasien sudah bisa berjalan jika di lihat dari rekam medis pasien, tapi saya duga ada sesuatu yang membuat syaraf dari pasien terhambat untuk berfungsi."
Andika diam, dia sedang berpikir sesuatu yang selama ini dia khawatirkan.
__ADS_1
"Bisakah dokter melakukan tes untuk mengetahui apa yang salah sehingga Adrian belum bisa berjalan?"
"Tentu saja, kami akan mengambil sampel dari dari pasien untuk mengetes penyebab dari kondisi pasien yang belum bisa berjalan."
"Berapa lama dok hasil tes keluar?"
"Kurang lebih tiga hari."
"Baiklah."
Andika kemudian keluar dari ruang pemeriksaan, dia menunggu Adrian selesai melakukan pemeriksaan.
Di ruang tunggu Andika diam, dia sedang mencerna dan memahami maksud dari dokter, karena Andika menangkap arah pembicaraan dokter seharusnya Adrian sudah bisa sembuh jika semuanya normal.
"Syaraf terhambat untuk berfungsi." ucapan dokter terngiang di kepala Andika.
"Obat." gumam Andika "Pasti ada yang salah dengan obat yang di minum oleh Adrian." lanjutnya.
"Saya tuan."
"Ambilkan obat Adrian dirumah, bawa kesini secepatnya."
"Baik tuan."
Rendy kemudian langsung berlalu meninggalkan Andika, walaupun dia tidak tahu maksud dari perintah Andika tapi Rendy tidak akan bertanya perintah yang diberikan padanya jika Andika tidak menjelaskannya.
"Kemana Rendy?" Adrian baru saja selesai melakukan pemeriksaan, dia keluar dari ruang pemeriksaan dan menuju ke ruang tunggu tempat Andika dan Rendy menunggunya.
"Diamlah kita tunggu Rendy sebentar."
"Memang kemana dia?"
"Kenapa semenjak menikah kamu lebih bawel Adrian." ucap Andika sembari tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Wah apa kamu selalu memperhatikan ku."
Andika memilih diam menyudahi obrolan itu, karena dia pasti yang akan diejek oleh Adrian pada akhirnya.
Beberapa menit kemudian Rendy datang dengan membawa sesuatu di tangannya, Adrian melihat apa yang dibawa oleh Rendy kemudian dia menatap Andika dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu membawa obat ku?" tanya Adrian, Rendy hanya mengangkat bahunya kemudian melirik Andika.
"Tunggu saja di sini, aku menemui dokter dulu, nanti aku jelaskan."
"Baiklah."
Dokter menatap obat yang diberikan oleh Andika dengan tatapan tajam.
"Ada apa dok?" tanya Andika setelah melihat ekspresi dari dokter.
"Sejak kapan pasien meminum obat ini?"
"Kurang lebih enam bulan dok."
"Ini obat yang bisa menghambat syaraf, saya yakin obat ini yang membuat pasien belum bisa berjalan."
Andika langsung mengepalkan tangannya dan mengeratkan gigi, sesuai dengan dugaannya bahwa ada yang tidak beres.
"Kedepannya harus bagaimana dok?"
"Saya tetap akan melakukan tes terhadap tubuh pasien, ini resep obat untuk pasien." Dokter menyodorkan secarik kertas pada Andika "Dan obat ini jangan pernah di minum lagi." tunjuk dokter pada obat yang sebelumnya dikonsumsi oleh Adrian.
"Terimakasih dokter."
Andika mengambil resep yang di berikan oleh dokter, dia kemudian keluar dari ruangan dokter dengan wajah merah padam, dia tidak terima ada orang yang ingin mencelakai Adrian dengan cara seperti ini.
"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah membuat Adrian seperti ini, termasuk kau Rani." ucap Andika dalam hatinya.
__ADS_1