
Jeny melajukan mobilnya keluar dari gedung Aras group, ucapan Presdir Romy terngiang di kepalanya.
"Jangan sampai kau terpikat dengan Andika."
Mobil Jeny berhenti ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, Jeny mengetuk jarinya pada stir mobil, dia berpikir kenapa wajah Andika selalu saja menghantuinya.
"Ah, tuan Andika kenapa kamu selau hadir dalam pikiranku."
Ponsel Jeny berdering, dia melihat sejenak layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya, Jeny mengangkat telpon dan berbicara beberapa hal
"Baik." Ucap Jeny lalu mengakhiri panggilan ponselnya.
Jeny kembali melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas menjadi hijau, dia berjalan perlahan kemudian masuk ke dalam hotel, dia memarkirkan kendaraannya, Jeny hanya terdiam di dalam mobilnya seperti sedang menunggu seseorang.
- - -
Adrian sedang berada di dalam mobil yang di kemudian oleh Rendy, Adrian memasuki hotel untuk bertemu dengan klien nya.
"Tuan." Adrian menoleh "Ada Roy di sini." Rendy menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang berdiri di samping mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil Adrian.
Adrian langsung melihat ke arah yang di tunjuk oleh Rendy, di sana dia melihat Roy sedang berbicara dengan seorang yang ada dalam mobil.
Adrian menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa orang yang berada di dalam mobil itu, dia menatap tajam melihat wajah seorang wanita yang sepertinya tidak asing baginya.
__ADS_1
"Itu asisten tuan Andika." Rendy berbicara ketika melihat Adrian seperti sedang mengingat sesuatu
Adrian menajamkan pandangan untuk memastikan ucapan Rendy, dia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ya benar itu adalah wanita yang datang bersama Andika waktu itu, apa hubungannya dia dengan Roy." Pikir Adrian.
"Rendy."
"Iya tuan."
"Bagaimana pendapatmu?" Adrian bertanya pada Rendy untuk melihat mimik wajah Jeny dan Roy, Rendy memiliki analisa yang baik hanya dengan melihat mimik wajah seseorang.
Rendy memperhatikan dengan seksama Jeny dan Roy yang sedang berbincang, dia mengerutkan dahinya beberapa kali, Adrian duduk diam di kursi belakang, dia menunggu pendapat Rendy.
"Jelaskan."
"Roy terlihat hanya mendengarkan saja, sedangkan asisten tuan Andika seperti sedang memberi sebuah informasi kepada Roy."
"Informasi apa?"
"Informasi tentang tuan Andika." Rendy dapat melihat gerakan bibir Jeny yang seperti menyebutkan nama Andika.
Andrian terdiam, dia sedang berpikir tentang hubungan Andika, Jeny dan Mahesa group, karena jika ada Roy pasti itu semua berkaitan dengan Presdir Ferry.
__ADS_1
"Cari informasi mengenai hubungan mereka." Perintah Adrian.
"Baik tuan."
Rendy mengiyakan perintah Adrian tanpa bertanya lebih lanjut, dia sudah tau maksud dari perintah Adrian mengenai informasi apa yang harus dia cari tahu.
"Kita turun setelah mereka pergi." Rendy mengangguk mendengar ucapan Adrian.
- - -
"Lanjutkan semuanya sesuai dengan rencana, hati-hati jangan sampai anda ketahuan nona." Roy pergi meninggalkan Jeny setelah mendengar laporan dari Jeny.
"Menyusahkan saja."
"Baik Roy." Jeny langsung melajukan mobilnya setelah Roy pergi. Jeny melihat mobil yang sepertinya tidak asing ketika dia lewat di depan mobil Adrian, tapi Jeny tetap melaju dan tidak memikirkan hal itu.
- - -
Rendy turun terlebih dahulu untuk memastikan kondisi sudah aman, dari jauh dia terus memperhatikan Roy yang baru saja masuk ke dalam mobil. Setelah mobil Roy benar-benar sudah meninggalkan parkiran hotel, Rendy kembali masuk ke dalam mobilnya untuk memberi tahu Adrian.
"Kondisi sudah aman tuan." Rendy membuka pintu belakang mobil.
"Cari informasi secepatnya, lakukan tugasmu tidak usah ikut masuk." Adrian berjalan meninggalkan mobilnya sedangkan Rendy masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan mobil meninggalkan hotel.
__ADS_1