SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
HARI YANG MELELAHKAN


__ADS_3

Lampu kecil di depan ruang operasi padam pertanda bahwa operasi telah selesai, Andika langsung berdiri dan berjalan menunggu dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan Adrian dokter?" Tanya Andika ketika dokter Rani keluar dari ruang operasi.


"Operasi berjalan lancar." ucap dokter yang membuat Andika menarik nafas lega.


"Tapi." Tatapan tajam langsung Andika arahkan kepada dokter Rani ketika dia hendak bicara.


"Katakan saja!" Ucap Andika karena melihat dokter Rani ragu.


"Pasien masih koma tuan." Jawab dokter Rani dengan suara lirih.


"Sampai kapan?" Dokter Rani mengangkat bahunya.


"Kita hanya bisa berdoa saat ini."


"Baiklah, terimakasih atas kerja keras anda dokter." Andika bicara tanpa melihat dokter Rani, matanya sedang menatap ranjang pasien yang baru saja di dorong keluar dari ruang operasi, terlihat Adrian yang sedang terbaring diatasnya dengan berbagai Kabeh yang menempel di kepala dan tubuhnya.


Dengan langkah gontai Andika masuk ke dalam ruang perawatan Adrian, wajah angkuh Andika dan sikap dinginnya mendadak hilang, hanya raut kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya melihat kondisi Adrian sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Beristirahat lah Adrian, aku yang akan mengurus semuanya sekarang." Ucap Andika sambil terus memandangi Adrian.


- - -


Mata Andika perlahan terbuka karena mendengar suara seseorang dalam ruangan Adrian.

__ADS_1


"Sudah pagi ternyata." Andika bangun dari tidurnya, matanya langsung mengarah kepada dokter yang sedang memeriksa Adrian.


"Maaf mengganggu tidur anda tuan." Ucap dokter Rani setelah menyadari Andika sudah duduk diatas sofa tempat dia tidur tadi.


Andika mengangguk, dia kemudian bangkit dan berjalan menuju kearah dokter Rani.


"Bagaimana keadaan Adrian dokter?"


"Semua organ vital sudah berfungsi dengan baik tuan, kita tinggal menunggu waktu tuan Adrian sadar." Jawab dokter Rani tanpa berani menatap Andika.


"Terimakasih atas kerja keras dokter, maaf sudah membuat dokter ketakutan." Dokter Rani mengangkat kepalanya setelah mendengar ucapan Andika.


"Saya mungkin akan melakukan hal yang lebih dari yang tuan lakukan jika ada di posisi tuan sat itu." Jawab dokter Rani dengan tersenyum.


"Baiklah saya harus pergi dokter, tolong rawat Adrian dengan baik." Ucap Andika yang dibalas anggukan kepala oleh dokter Rani, Andika kemudian berjalan keluar ruang perawatan Adrian.


Sesaat kemudian Andika terkejut melihat ruang perawatan Jeny sudah kosong dengan kondisi tertata rapi seperti ruangan yang baru saja di bersihkan.


"Kemana pasien atas nama Jenyca Arnelita Mahesa?" Tanya Andika pada staf administrasi rumah sakit.


"Pasien sudah keluar dari rumah sakit dini hari tadi tuan."


"Terimakasih."


Andika kemudian pergi, dia hendak menemui dokter yang menangani Jeny kemarin.

__ADS_1


"Dokter."


"Silahkan duduk tuan." Ucap dokter ramah.


Direktur rumah sakit sudah memberitahu semua dokter yang berkaitan dengan Jeny dan Adrian, mereka harus memperlakukan pasien dengan baik dan memberitahunya jika Andika menemui mereka dan menanyakan apapun maka dokter harus memberikan jawaban dan tidak membuat masalah pada Andika.


"Bagaimana Jeny bisa keluar dari rumah sakit, bukankah dokter biang kondisinya sekarang sangat tidak stabil mentalnya?"


"Kami sebenarnya juga bingung dengan kondisi pasien tuan." Andika lebih bingung lagi dengan ekspresi wajah dan ucapan dokter.


"Dokter bisa jelaskan dengan detail yang membuat saya tidak bingung."


Dokter bercerita, semalam kondisi Jeny secara tiba-tiba membaik, bahkan tidak terlihat adanya gangguan pada kejiwaan Jeny, dokter sebenarnya bingung melihat hal itu terlebih lagi Jeny ingin keluar dari rumah sakit malam itu juga, awalnya dokter tidak mengijinkan tapi karena Jeny meyakinkan bahwa dia baik-baik saja akhirnya dokter mengijinkan Jeny untuk pulang.


Andika semakin bingung setelah dokter menjelaskan semuanya, dia bahkan tidak mampu bertanya lebih lanjut pada dokter.


"Baiklah terimakasih dokter."


Andika langsung keluar dari ruangan dokter, dia ingin segera mencari keberadaan Jeny saat ini, Andika sangat khawatir dengan keadaan Jeny.


Andika melihat jam tangannya, dia memutuskan untuk makan lebih dulu di kantin rumah sakit karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.00.


Andika menikmati makanan sambil sesekali memikirkan keadaan Jeny, dia sebenarnya bingung akan mencari Jeny kemana, karena baru saja dia menghubungi Deni dan menanyakan keberadaan Jeny, tapi Deni bicara Jeny tidak ada di rumah Presdir Ferry.


"Hari yang melelahkan Andika." Suara wanita yang sangat Andika kenal terdengar dari belakang, Andika langsung menoleh.

__ADS_1


"Jeny." Andika terkejut melihat Jeny berdiri di sana, Jeny dengan wajah datar bahkan terkesan dingin dengan senyum sinis menatap Andika tajam.


__ADS_2