
Deni melangkah memasuki lobby kantor Mahesa group, hari ini adalah hari pertama Deni bekerja sebagai asisten Presdir Ferry, sesuai dengan ucapan Roy, beberapa hari setelahnya pertemuannya dengan Andika, Presdir Ferry menelpon Deni dan menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadinya yang langsung diiyakan oleh Deni.
Tring...
Deni langsung membuka ponselnya saat ada nada suara pesan masuk, terlihat Roy yang baru saja mengirim pesan pada Deni.
"Jangan membuka ponsel di depan tuan Ferry."
Deni mematikan ponselnya kemudian memasukkan kedalam kantong celananya, entah sudah berapa kali Roy mengirim pesan pagi itu, Roy selalu mengingatkan apa saja yang harus Deni lakukan agar Presdir Ferry tidak mencurigainya.
Bukan tanpa alasan Presdir Ferry memilih Deni sebagai asistennya, Deni adalah orang yang sangat dekat dengan Andika dulu, Deni pasti memiliki informasi yang dibutuhkan oleh Presdir Ferry untuk dapat memantau pergerakan Andika, selain itu Deni sangat mudah di kendalikan dengan uang, begitu pikir Presdir Ferry.
"Bagus sekali kantor ini, bagaimana dengan ruangan Presdir ya." Gumam Deni saat melihat berbagai ruangan yang terdapat di gedung Mahesa group.
Ting...
Pintu lift terbuka saat mencapai lantai tertinggi di gedung Mahesa group, Deni melangkahkan kakinya menuju meja yang berada di depan ruang Presdir, meja yang bertuliskan sekretaris presiden direktur.
"Maaf nona." Deni menyapa seorang wanita yang sedang duduk sambil menatap layar komputer di depannya, wanita tersebut kemudian melirik Deni sambil tersenyum manis.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Hallo." Wanita itu mengibaskan tangannya di depan Deni, Deni kemudian tersenyum kaku saat dirinya sadar, dia baru saja terpesona dengan kecantikan wanita itu.
"Saya Deni asisten baru tuan Ferry."
__ADS_1
"Oh tuan Deni, mari silahkan." Wanita itu kemudian berdiri, dia membukakan pintu ruangan Presdir Ferry, Deni masuk mengikuti wanita itu ke dalam ruangan Presdir Ferry.
"Presdir belum datang, silahkan tuan menunggu di sini." Deni kemudian duduk di sofa yang baru saja ditunjuk oleh wanita itu.
"Terimakasih." Ucap Deni seraya tersenyum pada wanita itu
"Sama-sama, saya permisi dulu tuan." Deni mengangguk, dia menatap punggung wanita itu sampai menghilang di balik pintu.
Tring..
Ponsel Deni kembali berdering, Deni menyebikan bibirnya saat melihat nama Roy yang tertera di layar ponselnya.
"Ingat tugasmu, jangan sampai kau tertarik pada Sisi."
"Deni." Pesan kembali masuk dari Roy, karena Deni tidak membalas pesan sebelumnya.
"Iya Roy." Balas Deni.
Deni duduk sambil mengamati ruang Presdir Ferry yang terlihat sangat mewah, belum pernah dia melihat ruangan semewah itu sebelumnya.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Deni, terlihat Presdir Ferry masuk kedalam ruangannya di ikuti Sisi dari belakang.
Deni kemudian berdiri, dia menundukkan kepalanya menyapa Presdir Ferry
"Selamat pagi tuan." Presdir Ferry terus berjalan menuju kursinya tanpa menjawab sapaan dari Deni.
__ADS_1
"Sisi." Panggil Presdir Ferry saat dia sudah duduk diatas kursi kebesarannya
"Iya tuan."
"Beritahu dia apa saja yang harus dia kerjakan." Presdir Ferry menunjuk Deni yang masih berdiri di depan sofa.
"Baik tuan." Sisi kemudian berjalan menghampiri Deni.
"Mari tuan ikut saya." Deni mengangguk, dia kemudian mengikuti sisi keluar dari ruangan Presdir menuju ruangan lain yang berada di sebelah meja kerja Sisi.
"Silahkan tuan." Deni kemudian duduk di salah satu kursi yang di tunjuk oleh Sisi, ruangan yang merupakan ruang rapat pribadi dari Presdir Ferry.
"Terimakasih." Jawab Deni.
Sisi kemudian duduk di depan Deni, dia lalu menjelaskan tugas Deni dengan rinci, Presdir Ferry adalah orang yang tidak pernah mau melihat ada kesalahan yang berhubungan dengan dirinya, Deni terus menatap wajah cantik Sisi yang sedang berbicara di depannya.
"Bagaimana, apa tuan sudah paham." Deni mengangguk, dia tentu saja sangat paham dengan tugas yang akan dia kerjakan, Roy sudah memberitahu Deni semuanya.
"Jangan sungkan untuk bertanya jika tuan tidak mengerti."
"Tentu saja." Ucap Deni sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu semoga tuan betah bekerja disini, selamat bekerja tuan." Sisi
Kemudian mengulurkan tangannya dan mengajak Deni untuk berjabat tangan, tanpa menunggu lama Deni langsung menyambar tangan Sisi.
__ADS_1