
Tedy Wibowo tengah duduk di kursi kebesarannya sebagai presiden direktur Wibowo group, semenjak sang ayah meninggal, dia di paksa untuk bisa melakukan segala sesuatu sendiri, pada awalnya dia hendak menyerah, saat itulah muncul seseorang yang mampu membuatnya bangkit dia pula yang membimbing Tedy hingga sekarang dia menjadi salah satu pembisnis yang sangat di segani.
"Om Dion". Sapa Tedy ketika Dion memasuki ruangannya.
Dion Mahesa merupakan anak angkat dari Ferry Mahesa, karena Ferry hanya memiliki satu orang anak perempuan yaitu Jeny maka dari itu Ferry akhirnya mengasuh Dion kemudian mendidik dan menjadikannya seorang berdarah dinging dalam dunia bisnis, dari situlah masa kecil Jeny kekurangan kasih sayang dari Ferry karena Ferry sibuk dengan pekerjaannya dan Dion.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Dion setelah duduk di sofa
"Baik om" Tedy kemudian berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri Dion dan menjabat tangannya.
"Aku lihat kamu sudah siap sekarang" tatap Dion melihat Tedy.
"Dari beberapa bulan lalu aku sudah siap om hanya saja om Dion tidak mengizinkan ku untuk beraksi" jawab Tedy dengan penuh semangat, dia yakin hari ini Dion akan memberinya izin untuk mulai melakukan balas dendam.
"Kemarin kau masih terlihat sangat terburu buru dan ceroboh, bukan kah kau tau siapa yang akan kita hadapi". Tedy menganggukan kepalanya tanda menyetujui semua ucapan Dion.
"Lalu menururt om apakah sekarang aku sudah siap"
"Tentu saja, tunggu kabar dariku dan kita mulai semuanya" Dion kemudian berdiri dia lalu menepuk pundak Tedy dan berjalan keluar dari ruangan Tedy.
Kantor A&A Law Firm
Andika tengah sibuk memeriksa berkas perkara untuk dia bawa ke pengadilan, dengan sangat fokus dan teliti dia membaca satu persatu tulisan yang ada dalam berkas yang tengah dia baca.
" Ada apa?" tanya Andika ketika mengangkat panggilan dari Rendy
"Baik aku langsung kesana" Andika bergegas pergi untuk menuju Rumah Sakit, baru saja dia di kabari oleh Rendy bahwa saat ini Lisa tengah berada dia Rumah Sakit, Andika belum tahu penyebab Lisa masuk Rumas Sakit karena tadi dia tidak sempat bertanya pada Rendy, Andika langsung panik ketika mendengar Lisa masuk Rumah Sakit.
"Sial". Teriak Andika sembari menendang ban mobilnya
"Kenapa disaat seperi ini kau malah merepotkanku" Andika kesal karena ban mobilnya tiba tiba kempes saat dia sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
Dari kejauhan terlihat sebuh mobil memberikan lampu sein untuk menepi, benar saja mobil itu berhenti tepat di depan Andika yang tengah bersandar di depan mobilnya yang sedang bermasalah.
"Ada masalah dengan mobilmu?" tanya seorang pria yang turun dari mobil
__ADS_1
Andika memperhatikan pria tersebut sejenak, pria tinggi tegap dengan wajah tampan tengah berdiri di depannya sedang menantikan jawaban Andika.
"Seperti yang kau lihat" ucap Andika sembari melirik ke arah ban mobilnya
"Jika kau mau aku bisa mengantarmu". tawar Dion yang di sambut tatapan menyelidik oleh Andika
"Tidak usah, sebentar lagi supir ku akan datang".
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu". Dion melangkah kembali menuju ke mobilnya.
klik... Andika mengangkat panggilan telfon dari Rendy.
"Apakah tuan masih lama?" tanya Rendy
"Aku memiliki sedikit masalah, ban mobilku kempes". jawab Andika di sertai rasa kesal
"Saya juga belum bisa ke Rumah Sakit saat ini, masih menemani tuan Adrian terapi"
"Lanjutkan saja, aku akan segera sampai di rumah sakit".
"Tuan". panggil Andika sembari berlari kecil menghampiri Dion yang tengah masuk kedalam mobilnya.
"Ada apa?" tanya Dion setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Bolehkan saya menumpang ke Rumah Sakit X".
"Tentu saja dengan senang hati tuan".
"Panggil saja Andika". ucap Andika seraya mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu panggil saya Dion". Dion menyambut uluran tangan dari Andika.
Sesampainya di Rumah Sakit Andika langsung bergegas masuk ke dalam, tidak lupa dia mengucapkan terimakasih kepada Dion, dan berjanji akan mentraktirnya apabila mereka bertemu lagi.
"Bagaimana keadaanmu Lisa" Tanya Andika ketika melihat Lisa sudah siuman
__ADS_1
" Ahhh..." Lisa sedikit mengaduh sembari memegang keningnya.
"Tidak usah memaksakan diri untuk duduk, tetaplah berbaring" perintah Andika sembari membantu Lisa berbaring.
"Masih sedikit pusing kepala saya tuan".
"Apa yang terjadi, ceritalah pelan pelan" Andika menarik kursi untuk duduk di sebelah Lisa
Lisa memulai bercerita, tadi dia sedang makan di rumahnya, baru makan beberapa suap entah kenapa kepala Lisa langsung pusing, kemudian dia tidak mengingat lagi apa yang terjadi, ketika dia sadar sudah berada di Rumah Sakit.
Andika diam dan berfikir sejenak.
"Apa yang kau makan"
"Burger X" Lisa menyebutkan merk burger yang terkenal di kota itu.
"Beristirahatlah, aku akan menemui dokter dulu".
Andika merogoh sakunya, dia kemudian mengirim pesan kepada Rendy meminta dia dan Adrian untuk menemuinya di restauran gold, berdasarkan penjelasan dari dokter Lisa di yakini mengalami keracunan makanan, saat ini sedang di lakukan pengujian sampel di lab dari sisa makanan Lisa.
--------------------
Restauran gold
"Aku yakin ini sesuatu yang di sengaja". Adrian berbicara setelah mendengar cerita Andika perihal Lisa yang keracunan.
"Aku pun berpikir demikian, karena jika itu suatu ketidaksengajaan dari restauran pasti bukan hanya Lisa saja yang keracunan".
Ucapan Andika di dukung oleh Rendy, dia baru saja menyelidiki hal tersebut bahwa tidak ada korban lain selain Lisa yang keracunan.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Andika kepada Adrian yang nampak sedang berpikir
"Ini Ancaman pertama untuk kita". Andika mengangkat alisnya mendengar perkataan Adrian.
"Aku yakin ulah Tedy". Mereka meremas tangan masing masing, mereka yakin Tedy adalah dalang dibalik semua ini.
__ADS_1