
"Kotak kayu" Andika nampak berpikir ketika dia mendapatkan pesan dari anak buah Rendy yang mengabarkan Dion memberikan sebuah kotak kayu pada Adrian.
"Periksa apa isinya, beritahu aku" Perintah Andika.
Setelah kepergian Rendy, Andika hanya bisa mengandalkan anak buah Rendy, walaupun penjaga rumah Adrian sudah diganti setelah kejadian antara Andika dan Adrian, tapi berkat Rendy dia masih bisa menyusupkan satu orang untuk ikut menjaga Adrian.
Rendy entah bagaimana kabarnya, setelah kepergiannya dia bak menghilang di telan bumi, Andika tidak dapat menghubungi Rendy semenjak saat terakhir mereka bertemu.
Rumah Adrian
"Apa itu sayang?" tanya dokter Rani saat melihat Adrian sedang menyimpan sebuah kota kayu di brangkasnya.
"Bukan apa apa" jawab Adrian singkat sembari tersenyum hangat pada dokter Rani.
"Owh sebuah rahasia", dokter Rani merajuk.
"Bukan, itu barang milik Dion yang di titipkan padaku" mendengar hal itu dokter Rani mengangkat kedua alisnya.
"Dion?", dokter Rani memperjelas ucapan Adrian.
"Iya, Dion yang telah menolongmu", mendengar jawaban Adrian dokter Rani langsung menaruh curiga, karena Dion yang dia tahu adalah orang yang sedang berusaha untuk menjauhkan Andika dan suaminya.
"Bukankah lebih baik kamu memeriksanya dulu" pinta dokter Rani yang di balas gelengan kepala Adrian, rahasia client.
__ADS_1
Adrian kemudian bercerita bahwa kini dia sudah menjadi pengacara pribadi dari Dion, hal yang membuat dokter Rani semakin khawatir, dia berusaha memberika saran pada suaminya untuk menjaga jarak dengan Dion, karena bagaimanapun mereka baru saja saling mengenal.
"Sudahlah lebih baik kita tidur saja" Adrian naik ke atas tempat tidur "Ini bagian pekerjaanku dan kamu sebagai dokter tak akan bisa memahaminya".
Tanpa bertanya lebih lanjut dokter Rani menuruti Adrian walaupun di hatinya ada sesuatu yang mengganjal tapi dia hanya bisa berdoa agar semua baik baik saja.
Pagi hari
Seperti biasa keluarga kecil Adrian dan dokter Rani selalu mengawali hari dengan sarapan bersama, mereka duduk di meja makan sembari bersenda gurau.
"Mau pergi?" tanya dokter Rani ketika mendapati Adrian sudah berpakaian rapi.
"Mau bertemu client" jawab Adrian sembari meneguk habis satu gelas susu.
"Semoga semuanya baik baik saja, perasaanku sangat tidak enak" ucap dokter Rani dalam hatinya dengan tayapan yang tak lepas melihat Adrian sampai dia menghilang dari pandangannya.
"Jl X no 50 disana sudah ada orangku yang menunggu, dia akan memberikan dokumen yang kau minta" Isi pesan dari Dion kepada Adrian.
"Apa kau tidak bisa menemuiku hari ini?" balas Adrian, dia kemudian melajukan mobilnya menggalkan rumah dan menuju ke alamat yang telah di berikan oleh Dion.
Adrian baru saja tiba di alamat yang telah di berikan oleh Dion, dia menatap sejenak rumah yang terlihat sederhana dan nampak kurang terawat itu.
Adrian sedikit ragu untuk masuk, apalagi Dion belum membalas pesan yang Adrian kirimkan sebelum dia pergi tadi.
__ADS_1
Tuttt.... Tutttt.......
Adrian memanggil Dion melalui sambungan telfon, cukup lama dia menunggu sebelum akbirnya panggilannya di jawab oleh Dion.
"Masuk saja, di dalam ada orangku yang menunggu", jawab Dion ketika Adrian memastika apakah benar rumah itu yang Dion maksud.
Dengan langkah yang sudah lebih yakin Adrian memasuki rumah tersebut, walau sekelilingnya terlihat ilalang yang cukup tinggi tapi karena ucapan dari Dion membuat Adrian yakin untuk masuk.
"Permisi" teriak Adrian setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Klek.....
Bunya gagang pintuk ketika Adrian mencoba untuk membukanya.
"Tidak di kunci" Ucap Adrian dalam hati mendapati pintu rumah hang tidak terkunci.
"Permisi" Adrian kembali berteriak berharap ada orang yang menjawab dari dalam.
Adrian perlahan memasuki rumah tersebut, di dalam terlihat perabotan yang tertutup kain putih dan terdapat debu yang cukup tebal di atasnya.
Semakin dalam Adrian melangkah, semakin kotor rumah itu, banyak sarang laba laba yang terdapat di hampir semua sudut ruangan.
Adrian berhenti sejenak, dia mempertajam indera pendengarannya, terdengar suara rintihan yang cukup lirih, dengan perlahan Adrian mendekati sumber suara.
"Kau kenapa?" tanya Adrian ketika mendapati seorang laki laki tengah bersimpuh dengan darah yang sudah membanjiri sekelilingnya.
__ADS_1
"Per... gi... ja... ngan...." Belum sempat menyelesaikan ucapanya laki laki tersebut pingsan, Adrian pun langsung panik, tanpa berpikir banyak dia kemudian memanggil ambulance.
** Jangan lupa mampir ke novel terbaru Author ya AKU BUKAN PILIHAN