
Andika baru saja tiba di pengadilan, dia datang lebih awal dari pada biasanya, Andika harus mempersiapkan beberapa hal terlebih dahulu sebelum memasuki ruang persidangan, dia harus menata dokumen yang berisi bukti yang akan membuat Aras group kalah di persidangan.
Andika duduk di ruang tunggu yang berada di depan ruang persidangan, di sebelahnya terlihat Lisa yang sedang sibuk menata tumpukan berkas yang terlihat cukup banyak.
Dari arah pintu masuk Andika melihat kedatangan Adrian bersama Presdir Romy di sebelahnya, tatapan Andika langsung berubah ketika pandangannya bertemu dengan Presdir Romy yang terlihat tersenyum sinis kearahnya.
Andika langsung berdiri ketika Presdir Romy dan Adrian mendekat, ingin rasanya Andika memaki Presdir Romy saat ini, tapi dia memilih hanya mengirim pesan lewat tatapan, Andika membiarkan Presdir Romy menikmati kemenangan semu atas hasil persidangan Minggu lalu.
"Apa kau belum menyerah Andika." Presdir Romy berbicara dengan tatapan sinis dan senyum merendahkan.
"Hahaha." Presdir Romy terbahak melihat Andika menatapnya tajam "Bahkan untuk sekedar menjawab perkataan ku saja kau tidak bisa."
"Bicara apa yang anda mau jika itu bisa membuat anda senang tuan." Presdir Romy terlihat geram dengan Andika yang sedang tersenyum, di belakang Presdir Romy, Adrian sedang tersenyum juga menikmati pemandangan di depannya.
Panggilan dari dalam ruang persidangan membuat mereka menghentikan pembicaraan, Adrian terlebih dahulu masuk bersama Presdir Romy, kemudian Andika menyusul mereka di ikuti Jeny di belakangnya.
__ADS_1
Semua berdiri ketika hakim memasuki ruang persidangan, Presdir Romy terus tersenyum menatap Andika yang sedang berbicara panjang lebar untuk menguatkan argumen terhadap bukti yang akan dia serahkan.
"Pihak tergugat silahkan maju." Ucap hakim saat Andika menyerahkan tumpukan dokumen kepada hakim.
Adrian berdiri di sebelah Andika untuk melihat hakim yang sedang mengecek bukti yang baru saja diberikan oleh Andika.
Mata Presdir Romy langsung terbelalak ketika mengetahui bukti yang di berikan oleh Andika, disana terdapat transaksi dari Aras group untuk pembayaran pembuangan limbah ke sungai, Presdir Romy semakin geram ketika melihat Adrian hanya tersenyum.
"Apa kau hanya tersenyum melihat ini Adrian." Teriak Presdir Romy.
Proses pemeriksaan alat bukti berlangsung secara terbuka, Presdir Romy tidak dapat berkata apapun, semua bukti kejahatan perusahaannya kini sudah terpampang dengan jelas di persidangan.
"Apakah pihak tergugat akan mengajukan bukti lagi?"
"Tidak yang mulia." Adrian langsung menjawab dengan cepat.
__ADS_1
"Bagaimana pihak penggugat apakah ada bukti tambahan?"
"Sudah cukup yang mulia."
"Baiklah kalau begitu sidang hari ini di tutup dan akan dilanjutkan dengan pembacaan putusan Minggu depan." Ketukan palu hakim menandakan berakhirnya persidangan.
Presdir Romy langsung berjalan menghampiri Andika setelah hakim keluar dari ruang persidangan.
"Dari mana kau mendapatkan itu Andika?" Dengan suara tinggi Presdir Romy berbicara tepat di depan Andika.
"Anda tidak perlu tahu tuan Romy Gunawan." Andika terlihat sangat senang melihat wajah pias Presdir Romy.
"Kau." Presdir Romy menunjuk wajah Andika.
"Jangan membuang waktu tuan, sebaiknya anda segera berkemas dari sekarang, atau mencari pekerjaan." Tawa keras Andika membuat Presdir Romy ingin memukulnya.
__ADS_1
Saat Presdir Romy masih berdebat dengan Andika, Adrian berjalan meninggalkan ruang persidangan, tidak ada gunanya lagi menunggu Presdir Romy yang hanya akan berbicara dan meratapi kehancurannya.