SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
BERTENGKAR?


__ADS_3

Andika keluar dari ruangan dokter dan menghampiri Adrian yang terlihat sedang berbincang dengan Rendy.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku." ucap Adrian ketika Andika berdiri di depannya.


"Apa?"


"Kenapa kamu menyuruh Rendy membawa obat ku."


"Nanti aku jelaskan, kita makan siang dulu."


Adrian menatap Andika dengan tatapan menyelidik.


"Aku jelaskan di restauran sekarang kita makan dulu."


"Baiklah."


Andika kemudian mendorong kursi roda Adrian, kebiasaan Andika yang selalu mendorong kursi roda Adrian ketika mereka pergi bersama semata-mata sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang Andika pada Adrian.


- - -


Mobil berhenti di parkiran salah satu restauran mewah di kota itu, Rendy langsung bergegas turun membukakan pintu dan mengambil kursi roda Adrian di bagasi mobil.


Mata Andika sedikit berkaca-kaca tapi raut wajahnya menunjukkan gurat kemarahan ketika melihat Adrian dengan susah payah turun dari mobil dan duduk diatas kursi rodanya.


Adrian tidak mau dibantu oleh Andika untuk naik ke kursi rodanya, Andika hanya di ijinkan untuk mendorong kursi roda Adrian saja.


"Apa kamu bisa jelaskan sekarang?" tanya Andika ketika mereka sudah duduk di salah satu meja restauran.


"Nikmati saja makanan mu, setelah ini aku ceritakan semuanya." jawab Andika yang dibalas anggukan oleh Adrian.


Mereka makan tanpa ada suara, Rendy sesekali melempar pandangannya pada Andika dan Adrian secara bergantian, Rendy seakan mengerti jika ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit tadi, karena setelah Andika keluar dari ruangan dokter langsung terlihat wajah Andika yang seperti menahan amarah.


"Dokter bilang seharusnya kamu sudah bisa berjalan dari enam bulan yang lalu." ucapan Andika langsung membuat Adrian dan Rendy terkejut.

__ADS_1


"Apa maksudnya?"


Andika kemudian menyodorkan obat yang biasa di minum oleh Adrian.


"Obat ini yang membuatmu belum bisa berjalan sampai sekarang."


"Jangan bertele-tele Andika." Adrian tidak sabar dengan penjelasan Andika yang terkesan bertele-tele.


Andika menarik napas dalam, dia kemudian menceritakan semua yang dokter katakan tadi, terlihat tatapan tidak percaya dari Adrian ketika Andika selesai bercerita.


"Apa kamu menuduh Rani?" tanya Adrian dengan nada menekan dan tatapan tajam.


"Semua kemungkinan bisa saja terjadi, apa lagi melihat istrimu selalu bersikukuh pengobatan mu harus selalu di lakukan di rumah sakit itu."


Adrian menatap Andika sembari tersenyum sinis.


"Aku tahu siapa Rani, tidak mungkin dia melakukan itu."


"Ya kamu memang tidak menuduhnya secara langsung tapi dari kata-kata mu seakan sudah menjudge Rani sebagai orang yang membuatku seperti ini." kata Adrian dengan nada marah.


"Aku hanya bicara semua kemungkinan bisa saja terjadi jika melihat kondisimu."


"Berarti mungkin saja kamu yang melakukannya." Andika sontak menatap tajam Adrian, Andika sebelumnya sudah menebak respon yang akan Adrian berikan, tapi dia tidak menyangka jika pemikiran Adrian sejauh ini.


"Jika aku yang melakukannya tidak mungkin aku membawamu ke rumah sakit lain."


"Hahaha." Adrian tertawa mengejek "Apa kamu lupa jika musuhmu selalu berusaha sedekat mungkin dengan dirimu."


Andika dan Adrian saling menatap tajam satu sama lain, di sisi lain Adrian berusaha menapik fakta yang Andika berikan perihal ada seseorang yang menginginkan dia tidak bisa sembuh, tapi Adrian tidak bisa mengenyampingkan bahwa saat ini dokter Rani lah orang yang paling dianggap bersalah saat ini.


"Tuan." Rendy pun akhirnya memberanikan diri membuka suara setelah melihat suasana tidak kondusif antara Andika dan Adrian.


"Diamlah Rendy." gelegar suara Adrian membuat Rendy langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah kita gunakan praduga tak bersalah saat ini untuk semuanya, aku akan membuktikan siapa orang yang ada dibalik ini semua."


"Buktikanlah, aku yakin jika bukan Rani yang melakukannya, karena dokter yang menangani ku bukanlah dia."


Andika tersenyum sinis.


"Tapi jika terbukti istrimu yang melakukan ini, jangan salahkan aku jika Rendy akan melenyapkan nya."


Setelah beberapa lama mereka beradu argumen, Adrian akhirnya hanya bisa setuju dengan usulan Andika, tapi dia sudah bersumpah dalam hatinya apapun yang akan terjadi, dia tidak akan pernah membiarkan Andika melakukan sesuatu kepada dokter Rani.


"Antar Adrian pulang, setelah itu aku tunggu di sini." perintah Andika pada Rendy.


"Untuk apa kamu menyuruhku pulang Andika?" tanya Adrian dengan nada sarkas.


"Pulanglah biar aku dan Rendy yang mengurus ini." Andika berbicara dengan suara dan ekspresi wajah dingin, Adrian paham jika Andika sudah seperti itu artinya dia tidak bisa untuk melawan Andika.


Rendy pun bergegas mendorong kursi roda Adrian untuk keluar dari restauran, dia pun merasa segan ketika Andika sudah menunjukkan sikap dinginnya.


- - -


"Tuan." Rendy sudah kembali ke restauran setelah mengantar Adrian pulang.


"Duduklah."


Andika kemudian langsung memberi tugas untuk Rendy, Andika meminta Rendy untuk mengawasi setiap gerak-gerik dokter Rani, selain itu Andika meminta agar Rendy menyelidiki dokter yang selama ini menangani Adrian.


"Aku minta paling lama tiga hari sudah selesai penyelidikan tentang dokter yang menangani Adrian."


"Baik tuan."


Andika ingin jika hasil penyelidikan Rendy selesai bersamaan dengan hasil pemeriksaan Adrian di rumah sakit yang baru saja mereka kunjungi untuk memeriksa Adrian tadi.


"Tidak usah kau pikirkan, hanya pertengkaran kecil saja." kata Andika setelah melihat tatapan Rendy seakan ingin meminta penjelasan tentang pertengkarannya dengan Adrian tadi.

__ADS_1


__ADS_2