
Andika tengah beridiri di balkon lantai 2 kantornya, pandangannya menerawang jauh, seakan dia belum bisa menerima jika dokter Rani terlibat dalam persekongkolan yang membuat Adrian belum bisa berjalan sampai saat ini.
"Biarlah kau menilaiku jahat Adrian, yang penting kau bisa sembuh seperti dulu" Ucap Andika dalam hati sembari membayangkan kilasan masa lalunya dengan Adrian.
Kring......
Bunyi ponsel menghentikan lamunan Andika
"Ada apa?" tanya Andika setelah dia mengangkat panggilan dari Rendy
"Barusan dokter Rumah Sakit kemarin menghubungi saya perihal hasil tes dari tuan Adrian" Jawab Rendy di ujung sana
"Bagaimana dengan tugasmu?" dengan sedikit penekanan Andika berbicara, karena dia merasa kali ini Rendy setengah hati melaksanakan perintahnya
"Sore ini saya baru bisa kembali bersama dokter Rani tuan"
"Baiklah".
Klik.... Andika mematikan sambungan Telfonnya.
"Masih sempat" Ucap Andika setelah melihat jam tangannya kemudian dia kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Kau tetap duduk diam di sini sampai aku kembali jika tidak ingin melihat hal buruk dalam hidup mu akan terjadi".
Dokter Hendra mengangguk lemah menjawab perintah Andika.
Lisa terus menatap tajam laki-laki di depannya yang terlihat tidak nyaman dengan tatapan Lisa.
"Mengapa nona menatapku begitu?" Dokter Hendra memberanikan diri bertanya karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Lisa.
__ADS_1
"Ssstt." Lisa memberi gestur tangan menempel bibir untuk menjawab pertanyaan dari Dokter Hendra.
Sebelum Andika pergi dia berpesan kepada Lisa untuk mengawasi dokter Hendra "Jangan biarkan dia melakukan apapun kecuali bernafas, bila perlu awasi dia jangan sampai matamu berkedip" Titah Andika yang membuat Lisa tidak berani melepaskan pandangannya dari dokter Hendra.
---------
"Dokter Rani". Rendy berusaha seramah mungkin kepada dokter Rani karena bagaimanapun dia adalah istri dari tuanya.
"Rendy" Dokter Rani memperlihatkan Ekspresi terkejut melihat Rendy berdiri di belakangnya
"Bisa bicara sebentar". dokter Rani diam sambil melirik ke arah ruangan tempat dia sedang seminar.
"Percayalah ini lebih penting dari seminar anda bahkan hidup anda sekalipun saat ini". Melihat tatapan serius dari Rendy dokter Rani pun akhirnya bersedia untuk berbicara dengan Rendy.
Rendy diam sembari menatap dokter Rani yang saat ini tengah terisak, dia baru saja menjelaskan semuanya terkait apa yang terjadi hari ini.
"Apa kau percaya padaku Rendy".
"Maaf dokter lebih baik anda ikut saya sekarang, kita akan menyelesaikan semuanya bersama tuan Andika".
----------
Di Rumah Sakit Andika tengah duduk dengan tatapan mata tajam, dia sedang memperhatikan setiap ucapan dari dokter yang tengah menjelaskan perihal hasil tes dari Adrian.
"Kalau tidak berbahaya mengapa Adrian belum bisa jalan sampai saat ini dok?" tanya Andika setelah dokter selesai menjelaskan.
"Berdasarkan hasil tes obat yang selama ini tuan Adrian konsumsi hanya memiliki efek mengurangi rangsangan terhadap syaraf dan obatnya pun hanya mempengaruhi dalam jangka pendek".
"Jadi apa yang menyebabkan kerusakan syaraf Adrian dok?"
__ADS_1
"Hanya dokter yang merawatnya dari awal yang bisa menjawab pertanyaan anda tuan".
Andika hanya mengangguk dia merasa percuma saja jika memaksa dokter untuk mengatakan apa yang terjadi, Andika kemudia berdiri dan meninggalkan Rumah Sakit.
Andika masih termenung di dalam mobil yang masih berada di parkiran Rumah Sakit.
"Arrgggg". Andika nampak frustasi, penjelasan yang barusan di berikan oleh dokter tidak sesuai dugaannya.
"Siapa yang menyuruhmu". teriakan Andika menggelegar setelah berapa lama dia bertanya pada dokter Hendra tapi tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Andika langsung kembali ke kantornya setelah dari Rumah Sakit, dia tidak menemukan jawaban apapun entah di dari Rumah Sakit ataupun dokter Hendra.
"Sungguh saya tidak tahu apapun tuan". dokter Hendra menjawab seraya membenarkan kerah bajunya yang baru saja di tarik oleh Andika.
"Lalu apa ini". Andika melempar beberapa lembar kertas ke depan dokter Hendra, kertas yang berisikan informasi terkait orang yang menyuruh dokter Hendra untuk membuat Adrian tetap lumpuh.
"Sepertinya ada yang mencoba bermain dengan kita tuan". Andika menatap Rendy yang sudah berdiri di sebelah pintu, entah kapan Rendy masuk Andika pun tidak mengetahuinya.
"Mana Rani". Rendy pun membuka kembali pintu yang ada di belakangnya, dokter Rani masuk "duduklah". dokter Rani pun duduk di sebelah dokter Hendra.
"Siapa yang mau berbicara terlebih dahulu". kedua dokter itu diam, beberapa kali pandangan mata mereka bertemu, Andika masih terdiam sembari menatap tajam.
"Andika....." dokter Hendra menahan dokter Rani yang hendak berbicara, "Biar aku saja".
"Aku tidak mengenal siapa orang itu tuan". dokter Hendra menarik nafas "dia datang mengancamku untuk mencelakai Kak Adrian".
Andika pun mendengarkan dengan seksama, dokter Hendra bercerita semuanya, awalnya dia menghiraukan hal tersebut namun ancaman itu ternyata bukan omong kosong apalagi di buktikan dengan beberapa kali dokter Hendra, dokter Rani bahkan keluarga mereka hampir celaka, akhirnya dengan berat hati dokter Hendra mau melakukannya, walaupun begitu dokter Hendra hanya membuat Adrian lebih lama tidak bisa berjalan bukan benar benar membuat Adrian lumpuh selamanya.
__ADS_1
"Apa kau mengetahuinya". bentak Andika kepada dokter Rani, Rendy yang sedari tadi berdiri beberapa langkah di belakang Andika kini mendekat, dia dapat merasakam aura dari Andika saat ini sama seperti waktu dia hampir membunuh presdir Ferry dengan tangannya saat mengetahui dia adalah dalang di balik kematian Roy.
Andika bak orang kesetanan setelah melihat anggukan dokter Rani, Rendy dengan sigap menahan tuannya yang akan menerjang kedua orang dokter yang tengah duduk sembari menggenggam erat tangan mereka, "tenanglah tuan, bagaimanapun dokter Rani istri tuan Adrian, kita juga belum mendengar alasan dokter Rani".