
Pagi hari
Presdir Ferry turun dari lantai dua rumahnya dengan senyum mengembang diwajahnya, dia baru saja mendapat kabar baik dari Deni bahwa Exoc Corp kembali memberikan tender proyek kepada Mahesa group, bahkan dengan nilai yang jauh lebih besar dari proyek yang sebelumnya telah dibatalkan oleh mereka.
Presdir Ferry berjalan menghampiri meja makan dengan tatapan jangan dan senyum ceria melihat Jeny sudah duduk di sana.
"Pagi Lita." Jeny menatap heran dengan ayahnya yang terlihat begitu ceria pagi ini.
"Pagi ayah." Presdir Ferry kemudian mengecup lembut kepala Jeny sebelum duduk, hal yang hampir tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Nikmati makananmu sayang." Jeny semakin heran melihat sikap ayahnya.
"Ada apa ayah?" Tanya Jeny bingung.
"Makanlah, kamu sudah bekerja kerasa sayang." Jeny hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya, dia sesekali melihat sang ayah dengan tatapan heran.
"Apa ada hubungannya dengan Andika." Pikir Jeny.
Setelah selesai menyantap makanan Jeny langsung berpamitan pada Presdir Ferry untuk berangkat kekantor, tidak lupa Jeny berpamitan dengan Bi Lilis, sosok wanita yang sudah Jeny anggap seperti ibunya.
"Hati-hati dijalan non."
"Ibu nanti siap-siap ya." Jeny menggelayut manja di lengan Bi Lilis.
"Siap-siap apa non?" Tanya Bi Lilis bingung.
"Aku mau ajak Ibu keluar nanti."
"Iya non." Jeny kemudian melambaikan tangannya sebelum keluar dari rumah, Bi Lilis melepas kepergian Jeny dengan senyuman, dia tidak bisa menolak permintaan Jeny, karena Jeny akan murung seharian bila Bi Lilis menolak hal itu.
- - -
__ADS_1
Kantor hukum Adrian dan rekan
Adrian baru saja tiba dikantor, dia berjalan memasuki kantor berlantai lima tersebut, beberapa staf langsung menunduk hormat ketika melihat Adrian berjalan bersama Rendy.
"Rendy."
"Iya tuan."
Ting.. pintu lift terbuka, Adrian langsung masuk diikuti oleh Rendy.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kemarin padamu dan Roy?" Tanya Adrian ketika mereka berada di dalam lift.
"Kami masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk mengumpulkan informasi dengan selengkap mungkin tuan." Rendy menundukkan kepalanya seakan meminta maaf dengan Adrian.
"Jangan terburu-buru, kumpulkan informasi selengkap mungkin." Adrian menepuk bahu Rendy.
"Baik tuan."
Nada dering ponsel Rendy berbunyi, diapun membalikkan badan tidak jadi memasuki ruangan Adrian untuk menerima panggilan itu.
"Tuan." Rendy memberi kode mengangkat ponselnya untuk meminta ijin pada Adrian, dia kembali menutup pintu setelah Adrian mengangguk.
Adrian langsung sibuk dengan tumpukan berkas diatas mejanya, dia memeriksa satu persatu berkas yang berisi kasus kliennya dengan teliti.
Rendy kembali masuk dengan wajah masam, dia terlihat ragu untuk menyampaikan berita yang baru saja dia dengan kepada Adrian.
"Ada apa Rendy?" Tanya Adrian melihat Rendy hanya berdiri di depannya tanpa berbicara apapun.
"Maaf tuan." Rendy terlihat ragu untuk menyampaikan berita perihal Andika yang telah meminta Axoc Corp untuk kembali bekerjasama dengan Mahesa group, Rendy takut apabila nanti timbul sedikit konflik antara Andika dan Adrian, dua orang yang sudah dia anggap sebagai tuannya dan akan dia jaga dengan nyawanya sendiri.
"Katakan saja." Adrian berbicara tanpa melihat Rendy, dia masih sibuk mencoret berkas di depannya.
__ADS_1
"Tuan Andika telah meminta Axoc Corp untuk kembali bekerjasama dengan Mahesa Group." Adrian langsung menutup berkas di depannya, melihat hal itu membuat Rendy langsung gelisah.
Rendy masih diam menunggu reaksi Adrian yang kini sedang menatap lurus ke depan, dia benar-benar tidak bisa membaca respon apa yang akan Adrian berikan karena tidak ada ekspresi apapun di wajah Adrian.
"Hahahaha." Suara tawa keras Adrian membuat Rendy terkejut.
"Tu.. tuan." Ucap Rendy tergagap melihat Adrian yang tertawa dengan keras.
"Apa aku tidak salah dengar Rendy?" Adrian kini menatap Rendy.
"Tidak tuan." Jawab Rendy cepat.
"Luar biasa." Adrian bertepuk tangan hal yang membuat Rendy semakin bingung.
"Entah aku harus senang atau marah pada Jeny." Gumam Adrian yang membuat Rendy mengerutkan dahinya.
"Dia benar-benar menaklukkan Andika sampai tidak berkutik." Adrian kembali tertawa keras.
"Sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih pada Jeny telah membuat Adrian kembali seperti dulu." Rendy menatap Adrian dengan tatapan aneh dan penuh tanya.
"Sebenarnya ada apa tuan." Pikir Rendy.
"Sudahlah kau tidak perlu tahu Rendy." Adrian seakan mengerti isi pikiran Rendy.
"Pergilah cari informasi tentang Jeny secepatnya, aku sudah tidak sabar untuk membuatnya bersanding dengan Andika."
"Baik tuan." Rendy melangkah pergi meninggalkan ruang Andika dengan banyak pertanyaan di kepalanya, da sedang menghubungkan respon Adrian yang menurutnya aneh dengan semua informasi yang dia tahu tentang Jeny saat ini.
Setelah kepergian Rendy Adrian kembali fokus kepada tumpukan berkas di depannya, sesekali dia tersenyum karena membayangkan wajah Andika ketika Jeny sedang membujuknya agar mau berbicara pada Axoc Corp.
"Terimakasih Jeny." Gumam Adrian kemudian dia kembali fokus pada berkas di depannya.
__ADS_1