SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
SIASAT ANDIKA


__ADS_3

Adrian sedang di dalam mobil bersama Rendy, dia akan menuju kantor Andika untuk menemuinya sesuai dengan permintaan Andika.


"Rendy."


"Iya tuan." Rendy melirik spion tengah.


"Bagaimana pendapatmu tentang Ferry?" Ucap Adrian seakan memberi teka-teki pada Rendy.


"Maksud tuan?" Tanya Rendy bingung.


"Aku rasa dia ada hubungannya dengan semua ini." Jawab Adrian sambil menerawang jauh.


Entah kenapa intuisi Adrian mengatakan bahwa Presdir Ferry ada hubungannya dengan tindakan Teddy yang ingin mencelakai Andika.


"Saya tidak tahu tuan." Jawab Rendy yang membuat Adrian menatapnya tajam.


"Maka dari itu cari tahu." Hardik Adrian.


"Baik tuan."


Rendy sedikit menambah kecepatan mobilnya setelah Adrian tidak lagi mengajak bicara, dia fokus mengemudi walaupun banyak pertanyaan di benaknya tentang ucapan Rendy barusan.


"Apa mungkin tuan Ferry dalang dibalik ini semua." Gumam Rendy menerka-nerka.


Mobil memasuki area kantor Andika, Rendy berhenti tepat di depan lobby.


"Rendy."


"Iya tuan."

__ADS_1


"Apakah kita harus membicarakan perihal Jeny saat ini pada Andika." Adrian ingin sekali menyampaikan informasi tentang Jeny pada Andika tapi dia masih ragu.


"Menurut saya jangan sekarang tuan." Jawab Rendy dengan penuh keyakinan.


"Kenapa?"


"Tuan Andika sedang fokus pada Teddy selain itu tuan Ferry tidak berulah akhir-akhir ini." Adrian menatap Rendy dengan tatapan tajam, dia seakan sedang berusaha mencerna kata-kata Rendy."


"Baiklah, mari kita turun." Rendy bergegas keluar dari mobil, dia memutari mobil kemudian membukakan pintu untuk Adrian.


"Silahkan tuan." Rendy menunduk sopan, Adrian langsung berjalan memasuki kantor Andika.


- - -


"Apa yang membuatmu memanggil ku Andika?" Tanya Adrian setelah duduk di depan Andika.


"Apa kamu merasa puas dengan kematian Wibowo?"


"Maksudnya?"


"Bukankah kematian Wibowo sudah membuat Teddy hancur." Ucap Adrian.


Andika menggeleng


"Belum cukup untuk menebus kepergian Roy." Tatapan Andika berubah menjadi tatapan penuh amarah.


"Lalu apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Adrian yang dibalas seringai Andika.


Melihat Andika menyeringai membuat Adrian sedikit ketakutan, dia tahu betul apa maksud dari seringai Andika.

__ADS_1


"Akan ku buat Teddy hancur berkeping keping hingga dia lupa untuk bersedih atas kematian Wibowo." Andika meremas tangannya dengan erat seakan ada Teddy di dalam genggamannya.


Adrian menelan salivanya, dia sadar mungkin hanya tuhan yang bisa menghentikan Andika saat ini. Kau melupakan Jeny Adrian, haha.


"Apa rencana mu untuk menghancurkan Teddy?" Tanya Adrian.


"Dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya lagi." Adrian yang biasanya akan bercanda jika Andika sedang serius, hari ini dia tidak berani hanya untuk sekedar memotong ucapan Andika, dia hanya mengangguk mendengar Andika berbicara.


"Aku sampai hari ini masih berstatus sebagai Corporate Lawyer dari Wibowo group."


"Jadi?"


"Aku akan membuat surat wasiat yang seakan-akan di tulis oleh Wibowo untuk Teddy, disitulah semua baru dimulai, kita permainkan Teddy sampai dia menyerah dan mengakhiri hidupnya."


"Maksudnya?" Adrian benar-benar belum bisa memahami arah pembicaraan Andika.


"Ish." Andika mendesah kesal "Kenapa kamu jadi bodoh Adrian?" Hardik Andika.


"Apa kamu baru saja mencemooh ku?" Adrian membalas ucapan Andika dengan tatapan tajam.


"Sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Andika menatap Adrian dengan tatapan menyelidik.


"Nanti akan ku beri tahu jika waktunya sudah tepat." Adrian sadar dia tidak akan bisa mengelak jika berbicara pada Andika, tapi dia tidak akan menceritakan perihal Jeny saat ini.


"Baiklah terserah kamu saja."


"Lalu bagaimana dengan rencana mu tadi?" Adrian kembali berbicara tentang topik yang sedang mereka bahas.


"Huh." Andika menarik napas dalam "Intinya aku akan mempermainkan Teddy lewat surat wasiat yang akan aku buat."

__ADS_1


"Baiklah lakukan saja apa mau mu, aku cukup melihat dari jauh bukan?"


"Kamu lihat dan nikmati saja pertunjukkannya." Andika kemudian tertawa yang membuat Adrian menatapnya aneh, entah sebesar apa dendam Andika pada Teddy saat ini bahkan dia tidak terlihat berapi-api seperti sekarang ketika berbicara dendamnya pada Presdir Ferry.


__ADS_2