SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MENCARI SOLUSI


__ADS_3

Roy sedang duduk di kursi pengunjung sidang, hari ini Andika sedang menjalani persidangan untuk membela Exoc Corp di pengadilan atas tuntutan salah satu karyawannya.


Andika menjadi Corporate Lawyer dengan bayaran yang sangat tinggi, selain itu Andika meminta Exoc Corp untuk memutuskan semua bentuk kerjasama mereka dengan Mahesa group, syarat yang langsung disanggupi oleh Exoc Group.


Tring....


Suara ponsel mengalihkan fokus Roy yang sedari tapi menatap Andika tanpa bergeming, dia langsung membuka ponselnya yang ternyata berisi pesan dari Deni.


Roy menyunggingkan senyuman ketika membaca laporan Deni akan kekacauan Mahesa Group hari ini, belum selesai Roy membaca masuk kembali satu pesan dari Deni, dia kemudian membaca pesan baru itu, Roy langsung mengerutkan dahinya membaca pesan itu, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres berkaitan dengan laporan Deni yang tertulis di pesan kedua.


"Tuan Ferry berbicara empat mata dengan nona Jeny, saya tidak tahu pembicaraan mereka karena tuan Ferry menyuruh saya keluar untuk membereskan para petinggi."


Roy langsung menghubungi Adrian untuk menyampaikan hal itu, entah mengapa firasatnya mengatakan Presdir Ferry memiliki rencana dengan Jeny.


"Tuan, baru saja Deni memberi laporan tentang kekacauan Mahesa group, saya rasa tuan Ferry sedang merencanakan sesuatu berkaitan dengan nona Jeny." Roy menekan tombol send, dia baru saja mengirim pesan pada Adrian.


"Temui aku dikantor, kita bahas disini." Isi pesan balasan dari Adrian.


"Saya sedang di pengadilan bersama tuan Andika." Balas Roy


"Datanglah setelah semua selesai, jangan sampai Andika tahu."


"Baik tuan."


Roy langsung memasukkan ponselnya kedalam kantong celananya, dia kembali fokus ke depan.

__ADS_1


Satu jam berlalu, persidangan selesai, Andika langsung menghampiri Roy yang tengah duduk di kursi pengunjung.


"Ada apa Roy?" Tanya Adrian melihat ekspresi wajah Roy seakan ingin menyampaikan sesuatu.


"Deni baru saja memberi laporan perihal Mahesa Group tuan."


"Lalu?"


"Saya harus mengecek beberapa hal untuk memastikan laporan Deni." Andika diam sejenak menatap wajah Roy yang terlihat tanpa ekspresi.


"Pergilah setelah kau antar aku ke kantor."


"Baik tuan."


Kantor hukum Adrian dan rekan


"Maaf tuan membuat anda menunggu." Roy menunduk hormat pada Adrian.


"Duduklah Roy." Adrian menunjuk sofa yang berada di depannya, dia kemudian berdiri dari kursinya kemudian melangkah ke sofa itu juga.


"Jelaskan Roy." Adrian duduk dengan tatapan serius melihat kearah Roy.


Roy kemudian menceritakan laporan Deni dengan lengkap, dia juga menambahkan asumsinya tentang hal yang akan Presdir perbuat terhadap Andika melalui Jeny.


"Apa Jeny benar akan melakukan semua perintah Ferry." Adrian menatap Roy ragu, dia sudah mengetahui sebesar apa Jeny mencintai Andika.

__ADS_1


"Apakah tuan lupa?" Roy mencoba mengingatkan kembali Adrian tentang suatu hal, Adrian teridam dia sedang berpikir untuk mengingat-ingat semua hal yang pernah dia bahas dengan Roy berkaitan dengan Jeny.


"Gangguan mental." Gumam Adrian.


"Benar tuan, saya yakin nona Jeny diminta untuk berbicara pada tuan Andika berkaitan dengan Exoc Corp."


"Masuk akal asumsi mu Roy, karena hal itu yang bisa Ferry lakukan saat ini untuk menyelamatkan perusahaannya."


Mereka kemudian diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, mereka sedang berpikir untuk mencari solusi yang paling tepat untuk masalah ini, karena mereka yakin Andika akan luluh jika Jeny yang berbicara padanya.


"Roy."


"Iya tuan."


"Selidiki semua masa lalu Jeny, berikan laporan sedetail mungkin, termasuk bagaimana hubungan Ferry dan Jeny pada masa lalu."


Adrian mencoba mencari sedikit celah yang bisa dia gunakan untuk mencegah taktik Presdir Ferry yang memanfaatkan Jeny dalam mengahadapi Andika.


"Baik tuan." Roy mengangguk menerima perintah Adrian.


"Rendy akan membantu untuk hal ini." Roy mengangguk "Untuk saat ini biarkan saja Jeny melakukan apapun pada Andika."


Adrian benar-benar belum menemukan solusi saat ini, dengan berat hati dia harus merelakan Jeny yang akan membujuk Andika untuk mengembalikan proyek yang telah hilang dari Mahesa group.


"Shit." Adrian mengumpat ketika membayangkan senyum Presdir Ferry atas keberhasilan Jeny dalam membujuk Andika.

__ADS_1


__ADS_2