
Andika keluar dari ruangan dokter dengan wajah masam, walau dia tersenyum di depan dokter Rani tapi pikirannya kacau memikirkan kondisi Adrian saat ini.
Andika masuk ke dalam ruang perawatan Adrian, matanya langsung terbelalak melihat keberadaan Jeny di sana.
Terlihat Jeny sedang duduk di sofa dengan Deni yang berdiri di sebelahnya, sedangkan Rendy dengan setia berdiri di sebelah Adrian yang sedang makan dibantu oleh Lisa, aura kebencian dapat Andika rasakan dari Jeny, Jeny sedang menatap Rendy dengan tatapan membunuh.
"Apa kamu sudah lama disini Jeny?" Tanya Andika setelah dia berada di samping Jeny.
Jeny hanya melirik Andika kemudian mengangguk kecil tanpa menjawab, Andika langsung melirik Adrian yang hanya mengangkat bahunya.
Andika semakin bingung dia saat ini berdiri ditengah antara cinta atau keluarga, seakan Andika sudah tahu maksud dari kedatangan Jeny.
"Apa kamu datang untuk menjenguk Adrian?"
"Hem." Jeny benar-benar terlihat asing di depan Andika saat ini.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?"
Jeny tersenyum sinis kemudian berkata "Kau masih seorang Andika yang bisa membaca orang lain hanya dari raut wajahnya."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita bicara di luar."
"Tidak perlu, di sini lebih baik aku rasa untuk kita bicara."
"Huh." Andika membuang napas kasar, dia kemudian berjalan kearah sofa di sebelah Jeny.
"Baiklah aku sudah duduk silahkan bicara Jeny." Andika sudah merubah cara bicaranya menjadi tegas kepada Jeny karena dia tahu saat ini yang duduk di depannya bukanlah Jeny wanita yang dicintainya.
"Aku ingin meminta keadilan untuk ayahku." Ucap Jeny sambil menatap sinis kearah Rendy.
"Keadilan?" Andika tersenyum getir sambil menatap wajah Jeny "Tidak bisakah kamu lihat kebaikan Rendy."
"Bahkan dengan matinya Ferry tidak bisa menebus semua kejahatannya." Semua orang seketika menatap Andika, Andika berbicara dingin dengan tatapan tajam pada Jeny, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
"Aku memang sangat mencintai mu Jeny, aku bahkan ingin memberikan dunia padamu, tapi tidak dengan keluargaku." Andika menatap kearah Adrian, Rendy dan Lisa.
"Aku sudah memaafkan ayahmu dan melupakan dendam masa lalu, tapi dia kembali mengusik hidupku dan membuat satu keluargaku pergi." Jeny mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Aku tahu dia satu-satunya keluargamu Jeny, tapi jika kamu menyalahkan Rendy sebagai penyebab kepergian ayahmu itu salah, karena ayahmu lah penyebab semuanya."
__ADS_1
"Diam!" Jeny berteriak keras.
"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, karena dia pergi sedari usiaku masih belia, kamu pasti tahu siapa yang membuat aku kehilangan Kebahagiaan masa kecilku Jeny."
"Diam Andika." Jeny berdiri "Aku datang ingin minta keadilan untuk ayahku bukan mau mendengarkan ucapanmu yang selalu menyalahkan ayahku."
"Inilah keadilannya Jeny, kembalilah menjadi Jeny yang dulu, kami semua adalah keluargamu."
"Aku tidak memiliki keluarga seperti kalian." Ucap Jeny sambil mengedarkan pandangannya.
Adrian hanya diam menyaksikan perdebatan antara Jeny dan Andika, dia merasa tidak perlu ikut campur dalam hal ini karena akan menyangkut hubungan Andika dan Jeny kedepannya.
"Jangan dibutakan dengan dendam Jeny, semua hanya akan sia-sia aku pernah berada pada posisi itu." Andika terus berusahalah menyadarkan Jeny.
"Aku akan menghancurkan hidup kalian semua!" Teriak Jeny.
"Aku membencimu dengan seluruh hidupku Andika." Ucap Jeny sambil menuding wajah Andika.
Jeny langsung pergi keluar dengan di ikuti oleh Deni, Deni sebelumnya sempat melirik Andika seperti meminta persetujuan apakah dia harus ikut Jeny atau tinggal di situ, Andika memberi jawaban lewat anggukan kepala yang berarti dia meminta Deni untuk terus berada di sisi Jeny.
__ADS_1
"Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku Jeny." Ucap Andika menatap nanar kepergian Jeny.