
Sudah satu minggu berlalu semenjak kejadian di kantor Andika, hampir setiap hari Adrian menanyakan perkembangan hasil pencarian dokter Rani kepada Rendy, yang Adrian tahu terakhir dokter Rani berpamitan pergi untuk menghadiri acara seminar, tapi sudah beberapa hari lewat tapi belum juga kembali.
"Apakah sesulit itu mencari dia?" tanya Adrian dengan tatapan penuh rasa putus asa
Rendy hanya mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Adrian, dia sempat melihat ke arah Andika sesaat untuk meminta arahan yang di balas dengan gelengan kepala.
"Maafkan aku Rani tidak bisa menjagamu, maafkan karena keterbatasanku ini hingga dirimu sekarang mungkin sedang menderita". ratap pilu Adrian sembari mengingat kenangan bersama dokter Rani.
Andika hanya terdiam, sebenarnya dia tak tega melihat ini semua, bagaimana pun Adrian adalah satu satunya orang yang sudah Andika anggap sebagai keluarga sekarang sangat menderita, tapi dia tak punya pilihan lain saat ini selain membiarkan Adrian unduk menderita sesaat.
"Adrian"
Adrian masih menundukkan kepalanya, dia tidak menanggapi panggilan Andika.
"Angkat kepalamu". ucap Andika dengan nada yang serius
"Sembuhlah dalam waktu cepat sehingga kau bisa mencari sendiri Rani". kata Andika sembari menatap mata Adrian yang kini audah mengangkat kepalanya.
"Mungkin aku tak akan bisa sembuh, semangatku telah hilang bersama dengan MAHARANI". ucap lirih Adrian
---------
"Tuan apa yang harus kita lakukan dengan tuan Adrian?" tanya Rendy ketika sedang duduk berdua dengan Andika di ruangannya
Andika diam, matanya menerawang ke atas, melihat kondisi Adrian yang semakin hari justru terlihat semakin lemah secara tidak langsung sangat mempengaruhi Andika.
"Apa kau punya ide?" Andika balik bertanya kepada Rendy
Rendy sejenak diam, dia sedang memikirkan cara bagaimana supaya Adrian kembali bersemangat untuk menjalani terapinya.
__ADS_1
Rendy yang berfikir tapi Andika yang dapat ide, senyum licik kini muncul di bibir Andika di barengi dengan wajah yang berbinar.
"Apa kau tahu kelemahan Adrian?"
Rendy menggeleng, dia belum mampu menangkap arah pembicaraan Andika.
"Isssshhh" Andika mendesah
"Kenapa sekarang kau semakin bodoh Rendy" hardik Andika sembari senyum meremehkan
"Tyas" Ucap Andika dengan yakin
"Maksud tuan?" Rendy masih terlihat bingung
"Sudahlah percuma aku menjelaskan padamu, lebih baik kau panggil Lisa sekarang". Rendy mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruangan Andika Untuk memanggil Lisa.
"Saya tuan" ucap Lisa yang sudah berdiri di depan Andika
"Ini tulisan dokter saya tidak bisa tuan".
"Payah" Andika mencibir
Rendy melirik ke arah ponsel yang sedang di pegang oleh Lisa.
"Saya bisa tuan".
"Hah...." Lisa dan Andika sama sama terkejut ketika Rendy berbicara.
"Hahahaha" Andika tertawa lebar "Jangan bercanda Rendy bahkan tulisanmu lebih jelek dari ini" Ucap Andika seraya memperlihatkan kertas yang berisi tulisan tangan dirinya.
__ADS_1
"Apa boleh saya coba" kata Rendy dengan penuh keyakinan.
"Sempurna" ucap lisa girang ketika melihat kalau tulisan Rendy sama persis dengan tulisan tangan dokter Lisa
"Bisa gitu ya" Andika seakan tak percaya dan tersenyum bodoh melihat hal itu
"Baiklah tulis ini" Andika mendikte apa saja yang harus di tulis oleh Rendy.
Rendy sesekali menoleh ke arah Andika ketika kata yang di ucapkan Andika membuatnya ragu untuk menulis "Sudah tulis saja, demi kesembuhan Adrian". ucap Andika meyakinkan Rendy.
---------
Makam Tyas
Adrian sedang duduk menatap secarik kertas yang sedang dia pegang, baru saja dia menemukan surat itu berada di atas makam Tyas, saat membacanya sesekali dia menatap Andika dan Rendy dengan tatapan tak percaya, di lain sisi Andika mengulum senyum di bibirnya sembari berkata dalam hatinya "Tak kusangka kau bisa di bodohi dengan mudah Adrian".
Rendy berhasil memancing Adrian untuk berkunjung ke makam Tyas atas perintah Andika, ini lah rencana Andika melalui surat itu dia ingin membuat seakan akan Rani pergi meninggalkan Adrian karena keluarganya menyuruhnya dan dia berjanji akan kembali jika Adrian sudah sembuh sesuai dengan amanat yang ada di tulisan yang dia tinggalkan di makam Tyas.
"Aku yakin ini tulisan Rani" Ucap Andika setelah dia membaca surat tersebut "Bukan begitu Adrian?" tanya Andika untuk semakin menambah keyakinan di hati Adrian.
"Mengapa kau tega sekali Rani" walaupun lirih tapi suara Adrian dapat terdengar jelas oleh Andika dan Rendy
"Maafkan saya tuan" Rendy berbicara dalam hati sembari menatap Adrian dengan tatapan penuh penyesalan.
"Kau harus lekas sembuh Adrian dan tujunkukkan siapa dirimu aebenarnya di depan keluarga Rani yang telah merendahkanmu" Andika terus memancing emosi Adrian
"Aku akan membuat perhitungan saat ini juga" dengan penuh emosi Adrian berkata
"Hahahaha" Andika tertawa skeras membuat Adrian dan Rendy langsung menatapnya "Berdiri saja kau tak mampu mau buat perhitungan seperti apa" Andika meremehkan Adrian, dia tau bagaimana harus memancing semangat Adrian.
__ADS_1
"Tunggu saja kaliam saat aku sembuh" Adrian meremas kertas itu dan membuangnya.
"Kita berhasil" Andika dan Rendy melakukan tos diam diam saat mereka tengah mendorong kursi roda Adrian pergi meninggalkan makam Tyas.