SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
KEPUTUSAN ANDIKA


__ADS_3

Andika masih duduk terdiam, tidak ada suara yang dia keluarkan, bahkan suara nafas pun tidak terdengar, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam.


Suara tawa dari kursi pengunjung lain tidak dia hiraukan, saat ini pikiran Andika hanya di isi oleh satu nama, Jeny.


Rasanya Andika benar-benar sulit untuk memutuskan meninggalkan Jeny, sungguh nama Jeny sudah terlalu dalam terukir di dalam hatinya.


"Oh Jeny, aku sangat mencintaimu." Gumam Andika


Andika kembali termenung, logikanya benar-benar dikalahkan oleh hatinya, Andika seharusnya sudah bisa mengambil keputusan dari berkas yang dia baca, sudah jelas sekali Jeny adalah alat penghancur yang dikirim oleh Mahesa.


Seringai jahat muncul di wajah Andika ketika teringat dendamnya kepada Mahesa group, tapi ketika bayangan wajah Jeny terlintas senyum teduh diwajahnya langsung tersungging tanpa dia sadari.


Andika membereskan kertas yang berserakan, dia sudah mengambil keputusan yang akan merubah hidupnya.


Andika bergegas meninggalkan restauran dengan membawa beberapa lembar kertas di tangan kanannya, dia memasuki mobilnya.


"Apartemen Jeny." Supir langsung mengangguk mendengar perintah Andika.


Raut wajah Andika sudah terlihat normal, sungguh Jeny sudah bisa merubah Andika menjadi seorang yang berbeda.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan Andika terlihat tersenyum bahagia, supir yang beberapa kali melirik spion tengah merasa heran melihat ekspresi wajah Andika, dia penasaran apa yang terjadi dengan Andika, tapi tidak ada keberanian untuk bertanya.


Mobil menepi di depan loby apartemen, supir hanya diam ketika melihat Andika masih tersenyum dengan tatapan kosong, dia belum berani berkata apapun.


"Tuan kita sudah sampai." Setelah beberapa lama terdiam akhirnya supir Andika berani berbicara.


"Pulang kerumah mu, bawa mobil ini, besok pagi jemput aku di rumah."


"Baik tuan."


Andika langsung turun dari mobilnya, dia melangkah masuk ke dalam apartemen, Andika sudah memutuskan untuk memilih Jeny dan mengorbankan semua yang telah dia raih.


"Jangan balas dendam, jadilah orang besar seperti keinginan ayahmu."


Akhirnya Andika semakin yakin untuk memilih berjuang demi cinta, dia akan melupakan dendam masa lalunya, dia sudah bertekad akan mengejar kebahagiaan bersama Jeny.


"Jeny, aku sangat mencintaimu, sungguh aku rela mengorbankan segalanya untuk bisa bersamamu." Gumam Andika sembari berjalan menuju unit apartemen Jeny.


Andika sudah berada di depan pintu apartemen Jeny, tangannya sudah menempel pada bel apartemen itu, timbul keraguan di hati Andika.

__ADS_1


Andika merasa ragu, apakah perasaannya akan dibalas oleh Jeny, atau justru Andika yang akan hancur bersama dengan kehidupan yang sebentar lagi di hacurkan oleh Ferry Mahesa dan mungkin oleh tuan Romy.


Setelah menarik nafas dalam, Andika akhirnya memencet bel, entah kenapa Andika yang biasanya dingin dan terlihat angkuh, orang yang tidak memiliki rasa takut pada siapapun, tapi hari ini dia sangat takut untuk bertemu Jeny, Andika sangat takut apabila ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Jeny.


"Tuan Andika." Jeny terkejut melihat Andika berdiri di depan pintu.


Andika tersenyum sebelum berbicara, dia menatap Jeny dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Apa nona sedang sibuk?" Tanya Andika dengan suara lembut.


"Tidak tuan." Jeny terlihat gugup dengan sikap Andika yang benar-benar tidak menunjukkan sebagai Andika sang pengacara.


"Bolehkan aku berkunjung ketempat nona sebagai Andika." Andika melangkah ke depan untuk lebih dekat dengan Jeny.


"Sebagai Andika laki-laki biasa, bukan seorang pengacara."


"Hahaha." Jeny tertawa melihat ekspresi wajah Andika.


"Tentu saja tuan." Jeny mempersilahkan Andika masuk kedalam.

__ADS_1


__ADS_2