SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MEMANFAATKAN JENY


__ADS_3

Pagi hari di gedung pusat Mahesa group


Deni berdiri dengan gelisah, wajahnya terlihat pucat, dia meremas tangannya sendiri dengan cukup keras, di sebelahnya berdiri para petinggi Mahesa group tak terkecuali Jeny sang direktur utama Mahesa group.


Mereka tengah menantikan kehadiran Presdir Ferry, ada kejadian yang akan membuat Presdir Ferry sangat marah dan mungkin tidak akan bisa menahan dirinya, termasuk pada putri semata wayangnya.


Kondisi perusahaan hari ini sangat kacau, dimana saham mereka turun drastis setelah beberapa client memutuskan kerjasama dengan Mahesa group, selain itu ditariknya saham milik Wibowo group semakin membuat Mahesa group terpuruk.


Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, hanya ada suara nafas mereka yang saling bersahutan, semua orang tertunduk dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah ruangan Presdir yang membuat jantung semua orang berdegup kencang, keringat bercucuran dari kening mereka, beberapa orang langsung mengelap keringat itu dengan sapu tangannya.


Suara pintu terbuka, perasaan sudah tidak karuan semakin menjadi-jadi setelah mengetahui siapa yang masuk kedalam ruangan itu, tidak ada yang tahu masih diri mereka masing-masing setelah keluar dari ruangan itu.


Dengan wajah merah padam dan nafas kasar Presdir Ferry berjalan menuju kursi kebesarannya, tatapan tidak lepas dari orang-orang yang berdiri di depannya dengan wajah tertunduk.


"Deni." Mendengar Presdir Ferry menyebutkan namanya Deni langsung mengangkat wajahnya.


"Iya tuan." Deni berjalan mendekat setelah melihat Presdir Ferry menjentikkan jari.


"Laporkan keadaan perusahaan." Dengan tangan bergetar Deni membuka iPad di tanganya.


"Wibowo group menarik seluruh sahamnya, mereka membatalkan lima proyek yang akan dikerjakan oleh Mahesa group." Deni diam sejenak, dia kemudian melihat ekspresi wajah Presdir Ferry sebelum melanjutkan laporannya, Deni menelan salivanya setelah mengetahui ekspresi geram di wajah Presdir Ferry.


"Exoc Corp membatalkan tiga proyek yang akan dikerjakan oleh Mahesa group."

__ADS_1


Brakk...


Presdir Ferry menggebrak meja yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.


"Apa kerja kalian semua hah." Presdir Ferry berdiri menopang tubuhnya dengan tangan diatas meja "Hanya ulah dari satu orang saja bisa membuat kekacauan seperi ini."


Tidak ada yang berani menjawab ucapan Presdir Ferry, bahkan untuk mengangkat kepala saja mereka tidak berani.


"Jawab!" Mereka masih terdiam, diam adalah pilihan terbaik saat ini bagi mereka. Ingin rasanya Presdir bangkit dan memukul satu persatu orang yang ada di ruangan itu, tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat Jeny berdiri disana, Presdir Ferry tahu hanya Jeny lah yang bisa membantunya saat ini.


"Keluar semua kecuali Lita dan Deni." Semua mengangguk kemudian berjalan meninggalkan ruangan Presdir Ferry dengan menyeret kaki mereka.


"Deni."


"Urus mereka semua."


"Baik tuan." Deni menunduk hormat kemudian berjalan keluar, dia paham dengan perintah Presdir Ferry untuk mengurus para petinggi yang dinilai tidak becus dalam bekerja.


"Lita kemarilah nak." Jeny berjalan menghampiri Presdir Ferry.


"Kamu pasti tahu siapa yang menyebabkan semua kekacauan ini bukan?" Jeny mengangguk dengan lemah.


"Apa kamu senang melihat kondisi ayah seperti ini." Jeny menggeleng "Tidak ayah." Presdir Ferry menyeringai.


"Apa kamu mau membantu ayah Lita?"

__ADS_1


"Apa yang bisa Lita lakukan untuk ayah pasti akan kita lakukan."


"Kamu memang anak ayah." Presdir Ferry berjalan turun dari kursi kebesarannya, dia kemudian menarik tangan Jeny untuk duduk di sofa.


"Wibowo group tidak mungkin dapat kita ajak kerjasama lagi, harapan kita satu-satunya hanya Exoc Corp." Jeny menatap wajah Presdir Ferry dengan tatapan serius.


"Kamu tahu apa yang menyebabkan Exoc Corp membatalkan semua kerjasama dengan kita." Jeny menggeleng.


"Andika." Jeny langsung membelalakkan matanya mendengar Presdir Ferry menyebutkan nama Andika.


"Andika tidak mungkin melakukan ini pada ayah, dia tidak akan melanggar janjinya." Ucap Jeny tidak percaya.


"Mungkin ada seseorang yang mempengaruhi Andika untuk melakukan hal ini pada perusahaan kita nak."


"Siapa itu ayah?"


"Adrian." Jeny tidak merasa terkejut kali ini, dia seakan sudah tahu bahwa Adrian yang melakukan ini semua.


"Bantu ayah bicara pada Andika nak." Ucap Presdir Ferry dengan tatapan memohon.


"Apa yang harus Lita lakukan ayah?" Melihat tatapan ayahnya Jeny menjadi iba.


"Bicaralah pada Andika agar dia mau untuk membujuk Exoc Corp untuk melanjutkan kerjasama dengan perusahaan kita." Jeny terlihat ragu dengan permintaan Presdir Ferry, tapi lagi-lagi dia luluh melihat tatapan memohon dari Presdir Ferry.


"Baiklah ayah." Presdir Ferry langsung menyeringai mendengar jawab Jeny, dia yakin Jeny akan mampu membuat Andika melakukan semua kemauannya.

__ADS_1


__ADS_2