SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
TUGAS UNTUK JENY


__ADS_3

Presdir Wibowo masih terlihat shock setelah kepergian Andika dan Adrian, dia langsung terduduk di atas lantai, bagaimana bisa Andika dan Adrian sudah mengantisipasi dengan menyiapkan penembakan jitu, rasa ketakutan seketika muncul di benak Presdir Wibowo mengingat semua ucapan Andika.


"Ayah." Teddy membantu Presdir Wibowo untuk berdiri, dia kemudian memapah Presdir Wibowo untuk duduk di sofa.


Jeny masih berdiri mematung menghadap kearah pintu, Presdir Ferry pun berjalan mendekati Jeny.


"Ayo pulang." Presdir Ferry menarik tangan Jeny, dia kemudian berpamitan pada Teddy karena Presdir Wibowo hanya duduk diam tanpa merespon ucapan Presdir Ferry.


- - -


Di dalam mobil

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan kediaman Presdir Wibowo, Jeny duduk di kursi belakang tepat di samping ayahnya, wajahnya terus menghadap kearah jendela mobil.


"Lita." Jeny menoleh "Bagaimana perasaan mu jika ayah meninggal ditangan Andika tadi." Jeny menggeleng "Andika tidak akan melakukan itu." Mendengar jawaban kita Presdir Ferry tersenyum licik.


"Tidak ada orang yang bisa menebak tindakan Andika dan Adrian." Presdir Ferry menatap Jeny tajam "Apa kamu mau melihat ayahmu ini hancur?"


"Maksud ayah?" Jeny belum bisa fokus terhadap ucapan Presdir Ferry, dia masih memikirkan Andika sampai sekarang.


"Tentu saja ayah." Presdir Ferry menyeringai "Apa kamu ingin melihat ayah bahagia?" Jeny mengangguk.


"Bagaimana jika Andika yang akan merenggut Kebahagiaan ayah?" Jeny menggeleng "Andika tidak akan melakukan hal itu."

__ADS_1


"Kenapa kamu seyakin itu Lita?" Lita menatap mata Presdir Ferry dalam-dalam "Dia tidak suka melihat ku menangis ayah, jika dia mengambil Kebahagiaan ayah, aku akan menangis karena itu." Jeny menjawab dengan polosnya membuat Presdir Ferry berada diatas angin.


Presdir Ferry sedang berupaya untuk mencuci otak Jeny dengan menyentuh sisi polos Jeny, Jeny yang sedari kecil tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya dengan mudahnya menuruti semua perintah Presdir Ferry setelah dia membujuk dan memperlakukan kita dengan penuh perhatian.


"Apa putri ayah yang cantik ini mau melihat senyum ayah setiap hari?" Jeny mengangguk lemah "Bantu ayah agar Andika tidak menghancurkan senyuman ayah." Presdir Ferry mengelus kepala Jeny.


Presdir Ferry sebenarnya sangat menyayangi Jeny yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini, tapi semua rasa sayang itu seakan tertutup oleh ambisinya, dia dengan mudah menyuruh Jeny untuk menyusup ke dalam Aras group dulu untuk menjadi asisten Presdir Romy, orang yang bisa membunuh Jeny di tempat ketika mengetahui semuanya, tentu saja Presdir Ferry tidak akan berpikir dua kali untuk mengumpankan Jeny pada Andika yang notabennya sangat mencintai putrinya itu.


"Apa yang harus Jeny lakukan ayah?" Jeny bertanya dengan wajah polosnya, dia akan menuruti semua perintah ayahnya tanpa terkecuali.


"Lita hanya melakukan tugas kecil dari ayah, Lita harus selalu bersama ayah karena hanya Lita yang bisa menjaga ayah dari Andika." Ucap Presdir Ferry dengan lembut.

__ADS_1


"Andika tidak akan menyakiti ayah, Lita akan selalu menjaga ayah." Jeny memeluk Presdir Ferry seperti anak kecil, dia memang sangat merindukan kasih sayangnya ayahnya sejak dulu, tapi Presdir Ferry bukanlah sosok ayah yang baik, dia justru memanfaatkan Jeny untuk memenuhi segala ambisinya, Jeny adalah wanita yang cerdas, dia bisa beradaptasi dengan lingkungan apapun, tapi Jeny memiliki satu kekurangan dan Presdir Ferry selalu memanfaatkan kekurangan putrinya itu untuk kepentingan dirinya sendiri dan semua ambisinya.


__ADS_2