SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
MASA LALU ANDIKA


__ADS_3

Masa lalu Andika


Andika berumur lima tahun, dia adalah anak yang sangat lucu dan menggemaskan, Andika sudah sangat cerdas di usia lima tahun, dia bahkan sudah bisa membaca padahal Andika belum mengenyam pendidikan.


Andika memilik kedua orang tua yang sangat menyayanginya, kehidupan keluarga Andika bisa dibilang cukup kaya, ayah Andika adalah seorang direktur di salah satu perusahaan besar.


Sehari-hari Andika menghabiskan waktu kecilnya dengan bermain bersama keponakan laki-lakinya yang umurnya sama dengan Andika, ibu Andika selalu menemani Andika kemanapun dia mau pergi.


Di suatu malam yang sunyi, Andika terbangun dari tidurnya karena mendengar suara kebisingan di lantai satu rumahnya.


Andika menuruni tangga menuju lantai satu, di sana dia melihat sang ibu sedang menangis, ada beberapa orang yang sedang memegangi ayah Andika.


"Ibu ibu." Andika berlari mendekati sang ibu yang sedang bersimpuh.


"Andika sayang." Ibu Andika berusaha menghentikan tangisnya di depan Andika.


"Andika masuk ke kamar dulu ya, sedang ada tamu." Ibu Andika berjalan menuntun Andika menuju tangga.


"Ibu nangis?" Tanya Andika dengan polosnya.

__ADS_1


"Tidak sayang, ibu hanya mengantuk." Ibu Andika mengecup keningnya, dia kemudian menyuruh Andika naik tangga dan kembali ke kamarnya, Andika mengangguk setelah memeluk ibunya.


Ibu Andika kembali menuju sang suami yang sudah terborgol, dia menangis sambil memeluk suaminya.


"Jangan bawa suami saya." Sembari memukul beberapa orang yang sedang memegang suaminya, ibu Andika di dorong oleh orang yang memegang suaminya itu.


"Hei jangan sakiti istriku." Teriakan lantang dari ayah Andika.


Dua pria yang memegang tangan ayah Andika tidak menggubrisnya, mereka menarik ayah Andika keluar dari rumahnya.


"Tolong beri waktu, saya akan bicara dengan istri saya." Ayah Andika menatap laki-laki yang memegangnya dengan tatapan memohon, laki-laki itu kemudian melihat kearah seseorang yang berdiri tidak jauh, dia seperti meminta persetujuan pada seorang yang merupakan komandannya, dia kemudian melepaskan ayah Andika setelah komandannya mengangguk.


"Sayang." Ayah Andika duduk di sebelah istrinya.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja." Ibu Andika langsung memeluk suaminya dengan derai air mata yang mengalir deras.


"Kamu harus kuat, besarkan Andika, dia akan menjadi orang hebat nanti." Ayah Andika menatap penuh keyakinan pada istrinya.


"Aku tidak bisa hidup tanpamu." Dengan suara parau ibu Andika berbicara.

__ADS_1


"Ingatlah masih ada Andika."


"Kamu harus membesarkan nya, besok ada orang yang akan datang mengurus semuanya." Ayah Andika mengecup kening istrinya.


"Jangan tinggalkan aku." Ibu Andika berteriak ketika suaminya berdiri dan berjalan menjauh darinya, dunianya seakan hancur seketika melihat suaminya pergi.


- - -


"Kita mau kemana Bu?" Tanya Andika ketika dia dan ibunya berada diatas mobil.


"Kita akan pindah sayang ketempat yang lebih bagus." Sambil mengecup kening anaknya ibu Andika berusaha menahan tangisnya.


"Tapi ayah tidak ikut Bu."


"Ayah nanti akan menyusul, ayah sedang bekerja sayang."


Setelah berusaha meyakinkan Andika dengan berbagai alasan akhirnya Andika pun percaya, dia kemudian tertidur dalam mobil.


Ayah Andika menyiapkan tempat untuk Andika dan ibunya, sejak awal kasus yang menjeratnya dia langsung menyiapkan semuanya, ayah Andika sudah tahu apa yang akan terjadi sehingga dia memindahkan istri dan anaknya ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2