SANG PENGACARA

SANG PENGACARA
SOLUSI


__ADS_3

Roy pergi meninggalkan mall dengan perasaan senang, pasalnya dia yakin telah menemukan solusi untuk masalah Andika dan Jeny.


Roy membuka ponselnya bermaksud untuk menghubungi Rendy, dia ingin segera melaporkan hasil dari mengintai Jeny beberapa hari ini kepada Adrian.


"Hallo."


"Ada apa Roy?"


"Apa kamu sedang bersama tuan Adrian?"


"Iya."


"Baiklah, aku segera kesana ada hal penting yang harus aku sampaikan pada tuan Adrian."


"Iya." Klik, panggilan diputus oleh Roy, seperti itulah Rendy orang yang tidak pernah banyak bicara dan hanya berkata seperlunya saja.


- - -


Kantor hukum Adrian dan rekan


Adrian tengah sibuk dengan iPad yang diberikan oleh Rendy beberapa saat lalu, dia terlihat sangat fokus membaca setiap detail dari laporan hasil penyelidikan tentang masa lalu Jeny.


"Apa hubungannya dia dengan Jeny?" Adrian menunjuk foto Jeny kecil bersama seorang pelayan wanita.


"Dia pengasuh nona Jeny tuan." Adrian langsung menatap tajam mendengar jawaban Rendy.


"Aku juga tahu itu." Ucap Adrian dengan kesal.


"Mungkin Roy bisa menjelaskan tuan."


"Maksudnya?"


"Roy baru saja mengabari dia ingin melaporkan sesuatu yang penting kepada anda tuan."


"Apa itu?" Rendy mengangkat bahunya membuat Adrian semakin kesal.


"Rendy."


"Iya tuan."

__ADS_1


"Sebaiknya kau tunggu kedatangan Roy di lobby, aku merasa kesal melihatmu selalu tidak tahu jika aku tanya."


"Baik tuan, saya permisi." Rendy langsung keluar dari ruangan Adrian tanpa menunggu lama, dia sedang malas untuk mendengarkan ocehan dari tuannya.


Adrian kembali fokus pada iPad, dia sedang menggiring asumsinya untuk dapat menelaah hubungan Jeny dan pengasuhnya, dalam iPad itu hanya terdapat foto kebersamaan Jeny dan wanita itu, bahkan tidak ada foto Jeny dengan Presdir Ferry.


"Aneh." Gumam Adrian.


Tok.... Tok..... Tok....


"Masuk."


Rendy masuk bersama Roy, Adrian menoleh melihat kehadiran Roy dengan wajah yang terlihat bahagia.


"Duduk Roy."


"Baik tuan." Roy duduk di sofa tepat di depan posisi Adrian duduk.


"Ada apa Roy?"


"Silahkan tuan lihat." Roy memberikan ponselnya kepada Adrian, Adrian menerima ponsel itu dan melihat ada foto Jeny bersama seorang wanita tua.


Adrian menatap lekat-lekat foto wanita paruh baya yang terlihat bersama Jeny, dia kemudian mengerutkan dahinya setelah membandingkan dengan foto Jeny kecil bersama pengasuhnya.


"Tidak salah lagi." Gumam Adrian.


"Maaf tuan." Roy terlihat bingung mendengar gumaman Adrian.


"Jelaskan siapa wanita ini Roy." Adrian mengembalikan ponsel Roy.


"Wanita ini adalah Bu Lilis, dia pengasuh nona Jeny sejak kecil."


"Lanjutkan ceritamu."


"Nona Jeny sangat dekat dengan Bu Lilis, karena nona tidak memiliki ibu semenjak dia kecil sedangkan tuan Ferry hanya sibuk dengan urusan bisnisnya."


"Kapan kau mengambil foto itu Roy?" Adrian menunjuk ponsel Roy yang masih memperlihatkan foto Jeny dan Bu Lilis.


"Baru saja saya mengikuti nona Jeny tuan, saya mengambil foto itu di mall, nona Jeny sedang bersama Bu Lilis."

__ADS_1


"Rendy."


"Saya tuan."


"Dari mana kau mendapatkan ini?" Adrian mengangkat iPad yang berisi foto Jeny dan pengasuhnya.


"Dari hacker yang berhasil meretas ponsel nona Jeny tuan."


Adrian diam sejenak, dia sedang menarik benang merah dari laporan Roy dan Rendy yang ternyata saling berkaitan.


"Nona Jeny tidak pernah saya lihat tersenyum sebahagia itu ketika bersama tuan Ferry." Ucap Roy ketika melihat Adrian sedang berpikir.


"Tidak salah lagi." Ucap Adrian dalam hati.


"Kau tahu artinya Roy?" Tanya Adrian dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Bu Lilis adalah orang yang bisa mengendalikan nona Jeny sepenuhnya." Adrian menjentikkan jarinya.


"Tepat."


"Jadi?" Rendy yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulutnya.


"Kita sudah punya senjata untuk melawan Ferry." Adrian tertawa keras.


"Roy."


"Saya tuan."


"Pergilah, Rendy akan menghubungi mu secepatnya, aku akan mengatur strategi untuk menyampaikan ini pada Andika."


"Baik tuan."


"Satu lagi." Roy menaikkan alisnya.


"Jangan beritahu Andika dulu."


"Tentu saja tuan." Roy mengangguk, dia kemudian keluar dari ruangan Andika dengan diantar oleh Rendy.


Adrian masih tersenyum, pandangannya menatap langit-langit ruang kerjanya, dia merasa sangat senang telah menemukan solusi dari masalah ini.

__ADS_1


"Selamat tinggal Ferry." Gumam Adrian disertai seringai lebar di bibirnya.


__ADS_2